Sahabat
dan Jarak
Oleh: Lulu’
Ulfiyah Aprilia
Seakan ku tak tau apa yang harus ku
rasakan. Kita bertemu dalam satu jejaring sosial namun rasa pertemanan kita
semakin dalam. Tak perlu kau curiga mengenai hal itu. Mungkin Tuhan tau akan
keinginan diri ku memiliki seorang teman yang memiliki prinsip tujuan sama ke
luar negeri, belajar keluar negeri tepatnya di UK. Aku mengenal dia di group
ESC (English Study Club). ESC adalah group kursus bahasa inggris online di
Whats up yang di didirikan oleh Alwin Austra. Alwin Austra adalah teman dekat ku lebih
tepatnya sahabat terbaikku di dunia maya. Kita berdua memiliki perbedaan yang
sangat jauh. Namun persahabatan kita tetap berjalan lancar dan baik baik saja. Dia kuliah di UIN Siliwangi dan mengambil
jurusan Ekonomi Syari’ah dan aku kuliah di UTM jurusan Sastra Inggris. Dia
termasuk salah satu mahasiswa paling aktif dan rajin di universitasnya dan aku
tidak pernah mengalaminya. Aku mengetahuinya melalui postingan surat keterangan
mahasiswa paling aktif dari rektor universitasnya.
Selaian itu dia juga pernah di pilih untuk
mewakili fakultasnya dalam ajang pemilihan MAWAPRES (Mahasiswa Berprestasi)
tingkat fakultas. Meskipun dia jurusan ES (Ekonomi Syari’ah) namun dia juga
pintar dalam kemampuan bahasa inggrisnya. Dia memiliki hobi bernyanyi dan
bermain gitar sedangkan aku hobi membaca Al-Quran. Sehingga tak jarang aku
selalu mendapatkan postingan lagunya dia di WA dan begitupun diriku. Aku juga
senang tuk mengirimkan rekaman suara ku ketika tartil membaca Al quran. Aku
sangatlah senang memiliki sahabat seperti dia karena aku bisa belajar darinya
mengenai apa yang belum aku ketahui dan yang sudah dia ketahui. Aku tak pernah risih di buatnya dari deringan
telephone pemberitahuan message dari dia. Kita lebih suka mengggunakan message
melalui voice note dan jarang menggunakan teks. Dikarenakan kita lebih sering
chatting menggunakan bahasa inggris.
Satu bulan lebih kita berteman
akarab dengan dia. Kita saling menceritakan kegiatan masing masing, saling berbagi
mengenai pelajaran kita masing masing, bercanda dan terkadang belajar
bersama. Meskipun jarak antara kita sangat jauh dan kita juga tidak pernah
bertemu namun hal itu tidak menutup kemungkinan untuk kita belajar bersama.
Suatu hari di kampusku ada acara
lomba pemilihan MAWAPRES Tingkat Fakultas. Aku tertarik untuk mengikuti acara
itu karena saya fikir semua persyaratan telah aku penuhi termasuk memiliki
kemampuan berbicara bahasa inggris yang bagus. Itu terdengar begitu mudah
bagiku karena itu adalah jurusan ku. Namun ada satu persyaratan yang membuat
aku tidak percaya diri dan menjadi kendala terbesar untuk mendaftar diri
menjadi peserta dalam acara MAWAPRES
tersebut. Karya Ilmiah adalah menjadi momok terbesar kendala yang kuhadapi saat
itu. Aku mulai putus asa. Akan tetapi
setelah beberapa hari setelah itu aku menyadari bahwa aku punya Alwin yang
pernah mengikuti acara MAWAPRES di kampusnya.
Aku yakin dia pasti bisa membantuku
bagaimana cara membuat karya ilmiah, mendapatkan ide, menemukan judul,
meneliti, menyusun dan mempresentasikannya di depan para juri nanti. Sore itu
ketika dia mengirimkan sebuah pesan, aku mulai bertanya kepadanya. “Can you
help me, dude?” ucapku di percakapan WA itu. Sesaat kemudian dia membalasnya,
“Yup, Sure!” balasnya. Aku mulai mengetik lagi, mengutarakan permasalahan ku
kepdanya. “ There is an event MAWAPRES in my faculty and I interested to join
it. In another way I got some problem related with it. The problem is that I
could not make Karya Ilmiah. Ok, what I wanna say is that Can you help me to
make Karya Ilmiah?” ucapku mengutarakan point yang penting yang pada saat itu
menjadi kendala terbesar untuk mengikutinya.
Sesaat kemudian tanda centang abu
abu pun tergambar di kolom percakapan antara aku dan dia dan satu detik
kemudian centangan dua itu berganti warna biru yang menandakan bahwa pesan yang
aku kirim kepadanya sudah dia baca. Seperti biasanya, setelah tanda centang dua
itu berganti warna biru, di pojok kanan atas tepat di bawah tulisan nama Alwin
Austra terdapat tulisan (Typing...) yang bergerak sendiri menandakan bahwa dia
sedang membalas pesan ku tadi. Namun kali ini tulisan typing itu bergerak lama
sekali sehingga membuatku lelah menunggu dan ku alihkan ke percakapan grup WA lainnya.
Lumayan lama dia mengetiknya dan balasan pesan dari dia pada akhirnya sampai kepadaku. Seperti yang ku duga
sebelumnya. Dia membalas pesannya lebih panjang dan lebih lengkap dari pesan ku sebelumnya. “Ok
lulu. I gonna help you but I do not know how to guide you write Karya Ilmiah. I
never attempt to teach someone via WA. I mean to study about Karya Ilmiah. So
do yo have any suggestion to me, how I and you study together and make it run well?” itulah balasan dia
setelah merespon pesan ku yang ke dua kalinya.
Setelah aku membaca balasan dari
dia, tiba wlangsung muncul ide di dalam fikiran ku mengenai saran yang di minta
dari dia. Tanpa berfikir panjang, aku langsung membalas pesannya dan
mengutarakan ide yang ada di fikiran ku itu. “ Alright, I have an Idea; How if
you send your karya ilmiah’s paper and after that I attemp to learn karya
ilmiah by using your file then If I get confuse about it, I gonna ask to you?.
Do you agree with it?.” pesan itu pun terkirm kepadanya dan dia langsung
membacanya dan mebalasnya dengan balasan, ‘Yes, It is!!!.” Dan balasan itu jyga
di ikuti dengan kiriman file karya ilmiah ang berjudul “STRATEGI
MENGIMPLEMENTASIKAN GAYA HIDUP HALAL BERBASIS USAHA MIKRO KECIL MENENGAH”.
Setelah itu, kita langsung beralih ke percakapan yang serius antara aku dan
dia. Aku pun mulai menlontarkan beberapa istilah istilah ilmiah yang sulit aku
mengerti dari karya ilmiahnya dia. Tidaklah begitu lama aku dan dia berbincang-
bincang mengenai hal itu karena aku pun cepat mengerti dan paham mengenai
maksud dari karya ilmiah itu.
Aku yakin bahwa semua
orang di dunia ini pasti menginginkan dan membutuhkan hadirnya seorang sahabat
di dalam hidupnya. Karena sahabat itu bagaikan sebuah pohon yang menaungi kita.
Ketika berbicara tentang sahabat, aku kembali teringat kepada syair arab lama
ku yang aku dapatkan dari ustadzah ku di sana. Syairnya itu berbunyi seperti
ini;
ليس الصدق لمن مدحك # لكن الصدق
لمن نصحك # و معك في اي شاءن كنت،
طوبا لمن يكون كا اشعر المضل # المثمار لصديقه وهو انفع اليك
Sahabat itu
bukanlah orang yang menyakiti mu. # Akan tetapi sahabat itu adalah orang yang
selalu menasehati mu # dan bersamamu dalam keadaan apapun. #
Berbahagialah seseorang yang memiliki sahabat seperti sebuah pohon. # seseorang
yang selalu memberi manfaat kepada mu.#
Itulah lantunan indah sebuah syair
yang selalu ku ingat dan ku amalkan sampai saat ini. Aku sangat menyukai syair
ini. Hingga pada suatu hari aku pernah meraih juara III lomba pidato bahasa
Indonesia dengan judul Sahabat dan menggunakan syair ini. Oleh karena itu,
syair itu memberi kenangan sangat indah dalam separuh metamorfosa hidupku. Aku
mendapatkannya ketika aku duduk di bangku Madrsah Aliyah dari ustadzah yang
menta’lim kitab shorof di pondok ku. Beliau bernama “Karimah Farihah Muhsin”
dan pintar serta berparas cantik. Sekarang beliau telah menikah dan memiliki
satu orang putra berparas tampan. Itulah sekilas sejarah ku mendapatkan dan
mengenal syair itu sampai saat ini.
Aku menikamati perjalanan
persahabatan ku dengan dia. Banyak hal hal positif yang aku
dapatkan dalam kebersamaan ku bersamanya. Senyum merekah di wajah ku tak
pernah berani pudar sedetik pun karena setiap hari ku selalu mendapatkan
postingan postingan lucu dan voice not yang membuat jiwa ku bahagia bersamanya.
Aku sangatlah bersyukur kepada tuhan akan karunianya besarnya, karena aku
merasa dia adalah karunia terbesar Tuhan setelah keluarga yang di berikan kepadaku
saat ini. Hingga di suatu pagi yang cerah, muncul keinginan di benak ku untuk
mengubah gambar icon gambar profile ku dengan design gambar yang ku buat
sendiri. Aku menggunakan aplikasi snapseed yang tersedia di telephone
genggamku. Icon gambar profile design ku itu bukan gambar diri ku namun gambar
pemandangan menara UK serta di hiasi pohon sakura yang dedaunnya berjatuhan
semakin menambah keindahan pada gambar itu. Selain itu aku juga memberikan kata
kata semangat untuk diri ku sendiri yang berbunyi “Dear... Lulu, Fighting”
“Accomplish Al-Qur’an to Get Schoolarship in Abroad” tulisan itu ku pilih warna
pink karena itu adalah warna kesukaan ku.
Setelah aku merasa icon itu terlihat
cantik dan pantas tuk di upload, akhirnya aku menyimpannya dan langsung membuka
aplikasi chatting WA ku tertuju ke profile setelah itu aku langsung
menggantinya dengan gambar icon yang aku design sendiri itu tadi. Perasaan
bangga pastinya ku miliki pada saat itu, karena ini merupakan hal pertama kali aku
lakukan dalam hidup ku. Memasang icon profile dengan menggunakan icon design
sendiri. Dan sejak saat itulah muncul niatan di dalam hati ku untuk tidah
menggonta ganti gambar icon WA aku lagi hingga mimpi ku menjadi nyata, yaitu
“Berkelana mencari ilmu ke UK bersama Schoolarship”.
Dua minggu pun berlalu, perasaan
bangga itu masih ada di dalam hati ku ketika aku memandang foto profile Whats
Up ku masih terlihat cute dan unique. Aku menyukainya akan tetapi aku merasa
sedih karena sahabat ku itu tidak ada kabar
dan tidak pernah membalas pesan dari ku. Padahal pesan ku terkirim dan di baca
olehnya namun entahlah ku mencoba tuk berprasangka baik terhadapnnya. Sesaat
kemudian ku mengalihkan perhatian ku dari WA ku kepada dua kucing Anggora peliharaan keluarga ku dan
satu kucing hutan peliharaan saudara perempuan ku yan Mereka keihatan cantik dan lucu sehingga membuat ku
tertawa geli melihatya. Ketiga kucing itu memiliki nama masing masing. Kucing
hutan yang pertama di beri nama “Porcen Belang Beling” makna nama itu diambil
dari karakteristik dari warna tubuhnya. Porcen memiliki tiga warna yang terukir
di bulu indahnya; Hitam, Abu-abu, dan cokelat karena itulah di kasih nama
belang beling. Mengenai nama porcen itu di ambil dari ekspresi wajahnya si porcen
saja (just Intermezzo). Kucing anggora yang kedua di beri nama si wet wet.
Pertama kalinya, nama si kucing anggora putih itu di ambil dari bahasa inggris
“White” karena dia memiliki bulu yang berwarna putih dan bersih akan tetapi
seiring berjalannya waktu, anggota keluarga ku lebih suka memenngil dia dengan
sebutan nama yang mudah saja. Dari kata White menjadi Wet. Pada akhirnya si
white white pun berubah nama menjadi si Wet Wet. Kucing Anggora yang terakhir adalah
si Cul Bul kedengarannya lucu sih namun aku juga tidak tau menau mengenai hal
itu. Kucing culbul itu merupaka kucng anggora terkecil dari kucing kucing
lainnya selain itu dia memiliki wajah bulat dan bentuk tubuh seperti boneka
kucing koleksi adek adek ku. Cul Bul sangatlah lucu hingga terkadang ku panggil
dia boneka kucing hidup.
Tit tut tit tut... telephone ku
berdering sangat kencang sehingga membuyarkan lamunanku tentang kucing kucing
lucu itu. Setelah ku lihat siapa gerangan pengirim pesan itu ternyata pesan itu
dari Alwin sahabatku. Dia mengggabarkan bahwa dia baik baik saja dan membalas
semua pesan dari aku dua hari yang lalu. Dia mengirim banyak pesan sehingga ku
harus menscroll satu persatu beberapa garis bait dari dia. Salah satu pesan
dari dia adalah “Lu, do you make your profile picture by your self?.” “yes, I
am.” jawab ku padanya. “Can you make it for me?.” balas dia lagi pada ku. “oh
yeah. come on. I’ll make it for you.” Jawab ku padanya lagi. “ yeah, you can
change the name and put your name under the sentence to make it sense.” “Ok, it
doesn’t matter. I gonna make it for you tomorrow.” Balas ku padanya. Oh My God,
ternyata aku hebat juga mendesign foto profile, gumanku dalam hati sambil
tersenyum senyum ku membaca pesan itu.
Ke esokan harinya, aku mengirimkan
hasil foto editan dengan design yang sama namun ada sedikit perbedaan terhadap
nama di atasnya. Dan tak lupa ku tuliskan sebuah kata penjelas di bawah foto
design pesanan dia. “It’s the picture which you ordering at me?.” “Thank you so
much my friend.” Ucap dia kepadaku. Keesokan harinya dia mengganti profile
picturenya dia dengan design profile yang telah ku buatkan. Semua sahabat akan
bahagia ketika sahabatnya sesuatu yang di berikannya di gunakan dan di pakai
oleh sahabatnya, begitupun diriku. Ya benar karena dia aku bahagia. karena dia telah
menggunakannya. Sangat bahagia, sungguh perasaan itu ada dalam diriku. Sungguh
bahgia diriku saat itu!. “Terima kasih Tuhan, kau telah membuat sahabatku
percaya akan diri ku.” Guman ku dalam hati.
Tanpa terasa hari demi har pun berlalu.
Aku dan dia menggunakan walpaper yang sama. Semakin aku merasa hubungan
persahabatan kita semakin hari semakin terjalin erat. Ku harap dia juga
merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. Aku berkomitmen untuk
tetap menjaga kesucian persahabaan ku itu dengan dia. Tak perlu ku cemari
persahabatan ku seperti adegan adegan yang di pertontonkan di acara televisi
Indonesia seperti Sahabat Menjadi Cinta. Apakah itu Murni Sahabat?. Tentu saja
tidak. Itu tidak termasuk dalam kata sahabat. Itu bukanlah kriteria sahabat.
Karena sahabat itu tidak pernah menjadi cinta walaupun akhirnya menjadi cinta
namun itu hanyalah sekedar kasih sayang seorang sahabat bukan cinta kepada
pasangannya.
Aku memiliki sebuah mimpi yang
menjulang tinggi. Hatiku tersa tak terampuni ketika suatu hari nanti aku tidak
bisa membuat mimpiku itu menjadi nyata. Aku ingin sekolah ke luar negeri dengan
jalur beasiswa dari negara. Bagaimanapn caranya aku harus menjadikannya menjadi
nyata. Mimipi itu tumbuh dalam angan fikiran ku ketika aku lulus dari sekolah
menengah atas ku. Tak pernah ada kata putus asa dalam diriku tentang mimpi ku
itu. Walauoun terkadang ketika ku menceritakan perihal impianku kepada orang
tua ku; Mama, dia hanya tersenyum seperti tak rela untuk melepas kan diriku.
Wajah beliau terlukis seakan dia tak mendukung ku akan tetapi dia tetap
berusaha untuk membuat ku bahagia. Dia tetap memberikan semangat dan rentetan
doa kecil yang terkandung makna besar di dalamnya yang selalu dia lantunkan
keitka aku menyampaikan rentetan cerita ku kepadanya. Aku tidak memiliki
seorang Ayah, akan tetapi aku masih punya seorang Kakek. Dia tinggal bersama
keluarga ku setelah Baba ku meninggal dunia. Dia lah yang menggantikan sosok
seorang Ayah dalam keluarga ku. Dia sangat menyayangi semua saudaraku dengan
memfasilitasi semua kebutuhan peralatan sekolah ku. Dia sangat semnagat tentang
belajar. Jadi ketika aku mencoba tuk menceritakan impian ku kepadanya dia
terlihat sangat anthusias sekali dan dia memberikan dukungan yang begitu besar.
Hal itu membuatku memiliki kekuatan lebih untuk lebih semangat untuk berusaha
lebih giat lagi menyabrangi beribu lautan dan berjuta gunung serta hutan buas
tak pernah engah ku lakukan. Semnagat belajar
ku semakin semakin semangat pada saat itu.
Aku mulai gabung dengan link dan
jejaring yang memberikan informasi mengenai LPDP. Selain itu, aku juga sering
mengikuti beberapa acara LPDP yang dua bulan yang lalu acanya di laksanakan di
Surabaya. Aku begitu serius menjalankannya karena mimpi ini adalah masa depan
ku dan impian ku. Aku percaya Tuhan akan menggabulkan keinginan terbesar ku
ini. Karena dia pernah berkata ‘sal tu tho’, faidza azamta fatawwakal alaallah,
innallaha yuhibbul mutatohirin’. Kupasrah kan semua list harapan harapan
ku kepada-Nya karena Dia lah yang maha
Pengatur skenario terbaik dari yang terbaik.
Aku memiliki hobi menulis. Beberapa
acara lomba menulis seperti cepen dan puisi pernah ku ikuti. Di dalam narasi
biodata penulis cerpen dan puisi ku itu ku tuliskan impian ku untuk mendapatkan
beasiswa ke luar negeri di UK dan ada satu lagi mimpi yang ku tulis di dalam
narasi biodata penulis itu adalah Aku ingin menjadi hafidzah qur’an. Setiap ada
acara lomba menulis aku selalu menggunakan narasi biodata itu untuk di letakkan
sebagai pelengkap biodata ku. Tak jarang aku memposting semua hasil karya karya
ku termasuk karya yang juga lolos dalam acara Sajak Sajak Anak Negeri (SSAN)
tingkat Nasional.
Suatu hari aku ingin mempromosikan
blog ku kepada teman teman ku. Aku berharap setelah itu b;og ku menjadi lebih hidup
dan ramai dengan tumpukan komentar dari orang orang yang membaca beberapa
cerita tentang hidup ku. Karena setiap hari aku membuka blog ku, ia selalu sepi
tak ada satu pun orang yang berkenan tuk meninggalkan komentar mereka di
postingan karya karya ku. Ku memberikan diri untuk menyebar luaskan alamat web
blog ku ke semua group whats up ku. Awalnya perasaan takut, tidak percaya diri
dan nervous ada dalam diri ku. Namun aku tepis semuanya dalam angan angan
negative thinking ku dan ku ganti dengan positive thinking. Terkadang aku kehilangan
rasa Pede karena aku malu akan tulisan ku. Tulisan ku masih acak acakan. Hal
ini di buktikan dengan tidak lolosnya aku dalam mengikuti lomba menulis cerpen
di kampus ku.
Singkat cerita, Alwin juga
mendapatkan broadcast alamat web dari ku. Entah mungkin dia telah membaca
sebagian isi taman kata kata ku. Hal itu di buktikan dengan pertanyaan yang dia
lontarkan kepada ku. “Hei lulu, do you want to go UK?.” Tanya dia kepada ku.
Aku berfikir sejenak mengenai pertanyaanya. Kenapa dia bisa bertanya seperti
itu ya?. Guman ku dalam hati. Sesaat kemudian ku teringat dengan isi biodata
narasi ku yang juga ku posting di dalam karya ku. Aku menjawabnya dengan pasti.
“ yeah, of course. That’s my lovely dream!.” Ku akhiri dengan tanda seru untuk
memberi keyakinan lebih tentang diriku mengenai impian ku itu. Ku lanjutkan
lagi dengan sebuah pertanyaan yang memastikan apakah dugaan ku benar atau tidak
mengenai pertanyaan dia tentang hal itu. “Oh yeah, how did you know about it?.
I mean, How could you know that I like to go abroad, especially in UK after I
graduae from my university or my undergraduate?. Can you tell me please?.” Ucap
ku padanya.
Beberapa menit kemudian, balasan
pesan pun muncul di hp ku dengan di tandai munculnya angka satu berwarna hijau
di tempat menscroll percakapan di aplikasi chat WA. Seperti biasa, aku lebih
suka menggunakan aplikasi chatting WA dari pada yang lainnya. Karena saya rasa
ini lebih praktis dan lebih mengasikkan untuk chatting dengan teman serta
sedikit menarik dan tidak membosankan. Jadi aku memutuskan untuk meng-unistall
aplikasai BBM ku dengan WA.
“Lulu, I have not told you before
that I know that information from your blog that you had shared the web to me.
I thnk, we have a same dream in our life. 2019 kita sama sama ke UK yah. Cuman
beda kampus saja kita, hehehe. Aku di Durham University dan kamu di
Shiefflied.”
Percakapan antara aku dan dia lebih
sering menggunakan bahasa campuran. Terkadang kita menggunakan bahsa Indonesia
dan di Mix dengan bahasa Inggris. Begitulah natural percakapan yang berlangsung
antara kita. Kita tidak pernah memaksa atau pun megharuskan untuk menggunakan
bahasa inggris karena kita tahu bahwa kita tidak sedang menjalankan les bahasa
inggris. Tak ada kata sungkan atau pun tidak enak antara kita. Hanya terkadang,
si Alwin lebih sering meminta maaf
karena dia selalu merasa bahwa bahasa inggris dia jelek. Kita lebih
sering menggunakan percakapan dengan menggunakan bahasa asing melalui voice
note. Dengan tujuan untuk melatih kualitas pengucapan bahasa inggris agar lebih
lancar dalam mengucapkan dan melafalkannya. Selain itu kita memiliki tujuan
agar kita mudah nanti untuk berinteraksi denga teman teman baru kita di UK
suatu saat nanti.
Aku mengenal dia tidak terlalu lama
namun pertemanan ini seakan melukiskan kita bagaikan hubungan persahabatan yang
telah terjalin sangat lama. Terakadang aku tak mengerti dengan hubungan
persahaban yang hanya terjalin lewat android. Akan tetapi aku sadar bahwa jarak
tak menetukan seseorang ada namun rasa ada itulah yang membuat jarak itu ada.
Akhir akhir ini aku mengerti kenapa Tuhan memberikan dia untuk menjadi sahabat jarak
ku. Hal itu karena Tuhan tahu bahwa aku membutuhkannya. Terkadang apa yang kita
inginkan tidak selalu tercapaikan akan tetapi sebaliknya sesuatu yang tidak
kita inginkan selau hadir dalam melodi kehidupan kita. Itulah sebabnya
kebutuhan itu ada tingkat tertinggi dari pada keinginan. Hanya satu hal kunci
kesadaran itu ada, ketika keinginan kita sulit peka akan hal yang kita
butuhkan. Meskipun demikian, Tuhanlah yang peka kepada kita akan hal itu. Oleh
karena itu, kita butuh Tuhanuntuk menyadarkan kita dari kegelapan akan peka itu
sendiri.
Setitik cahaya bersinar berkilau di
balig jendela kamar asrama kampusku. Aku terbangun dari usikan cahaya indah
itu, sambil mengucek ngucek mata sebelah ku, ku ambil handphone yang ku simpan
di ransel kecil berwarna cokelat yang
bergantung rapi di samping tempat tidurku itu. Aku mebuka WA ku itu. Ternyata
aku di kagetkan dengan kiriman 3 voice note dan 1 audio dengan durasi waktu
tiga menit tiga belas detik. Awalnya aku mengalami kesulitan untuk men download
audio itu. Aku tak mudah menyerah akan hal itu. Aku mecobanya lagi, memencetnya
ber ulang ulang kali dan akhirnya berhasil juga. Aku bisa mendengarkan isi dari
audionya itu.
Perasaaan kaget bercampur terharu
muncul begitu saja dalam diriku, sesaat
setelah aku mendengar bunyi petikan nada yang berasal dari guitar dan di ikuti
suara indah dan lembut seakan menyadari ku mengenal akan suara itu. Setelah ku
memutarnya lagi dan ku mendenagrkannya sampai selesai ternyata audio itu adalah
sebuah lagu mix yangterdiri dari 3 jenis lagu yang berbeda dan ketiga lagu itu merupakan
lagu yang familiar di telinga ku; Kun Anta, Flash Light, dan Heaven. Aku sangat
menyukainya karena ini baru pertama kalinya aku mendapatkan lagu dari seorang
sahabat yang menggunakan petikan jari dan suara emasnya itu sendiri. Ini
merupakan sesuatu hal yang special dalam daftar memori indah hidupku.
Aku tak mengerti akan semua itu.
Mungkin dia tak mengerti apa yang aku maksud. Satu hari sebelum dia mengirimkan
lagu yang di mainkan sendiri oleh dia, alu sempat meminta di untuk membagikan
beberapa kumpulan lagu milik dia. Akan tetapi dia mengirimkan lagu yang
diyanyikan oleh dirinya sendiri. Hal itu mengandung makna yang bebeda sekali
dalam hidup ku. Karena aku termasuk seseorang yang menyukai hal hal unik .
Suatu hal yang sukar tuk di alami dan di dapatkan seseorang. Dan dia telah
berhasil memberikan hal unik itu kepada diri ku.
Keesokan harinya aku berencana untuk
pulang kampung. Aku sangat merindukan keluarga ku. Sesampainya di sana, aku
berbincang bincang dengannya. Aku menceritakan semua kejadian indah dan buruk
yang telah terjadi kepada ku selama aku berada di tempat yang jauh dari
dekatnya. Termasuk Alwin, sahabat ku. Mama ku mendengarkan cerita ku dengan
seksama dan terkadang dia melontarkan beberapa pertanyaan mengenai dirinya. Aku
juga memutarkan lagu yang aku peroleh darinya. Mama ku suka mendengarkannya.
Dia memuji suaranya. Secara tidak sadar aku pun tersenyum kecil di buatnya.
Perasaan
bahagia tetap berhamburan, ketika aku menulis cerpen ini dengan tema sahabat.
Sahabat dan Jarak adalah judul yang ku pilih untuk mendiskripsikan cerita
antara aku dan dia. Aku menulisnya dengan tujuan agar semua orang mengetahui
dan merasakan bahwa betapa beruntungnya diriku memiliki sahabat seperti dia dan
betapa bahagianya hari hari ku bersama dengan dirinya walaupun persahabatan
kita di batasi oleh sebuah Jarak. Kehilangan kata kata dalam menyelesaikan
cerpen ini pasti aku alami dan ini membuat ku kesal di buatnya. Cukup sulit bagi
ku untuk menceritakan semua kebaikannya karena kebaikan yang di berikan olehnya
itu membuat aku lupa akan segalanya. Entah apakah itu fitnah atau fakta. Hehehe
seperti acara Rina Rose aja. Akan tetapi itulah kebenaran. Yah kebenaran yang
benar benar aku alami pada saat aku berusaha untuk menuangkan ide ide baru
dalam cerita pendek ku ini.
Deringan
alarm handphone ku berbunyi menandakan bahwa aku waktunya berangkat kuliah
pagi. Aku pun mengakhiri aktifitas percakapan ku dengan laptop ku. Kemudian ku
alihkan perhatian ku kepada handphone ku. Aku mengecek pesan pesan dari teman
teman kelas ku di aplikasi favorite ku itu. Mataku terbelalak ketika aku
mendapatkan nama Alwin Austra berada di paling atas dalam daftar percakapan WA
ku. Dia mengirimkan 4 voice not yang belum aku ketahui apa isi dari voice note
tersebut.
Setelah
aku mendengarkan dengan seksama satu persatu dari percakapannya itu. Isi dari
voice note itu adalah Dia menanyakan tentang lokasi jarak dari rumah ke kampus
ku. Siang itu, matahari sangat bersemangat menyinari bumi sehingga membuatku
tidak begitu fokus untuk membalas voice not dari dia. Akan tetapi aku berusaha
untuk memberikan informasi secara detail tentang jarak dan lokasi yang aku
lewati dan aku tempuh selama perjalanan balik ke kampus meskipun pada saat itu
aku berada dalam angkutan kecil umum yang penuh sesak oleh para penumpang namun
tak ada masalah jika hal itu untuk sahabatku rasa lelah dan malas itu hilang
begitu saja.
Bagaikan
embun di karangan rumput yang hijau. Bagaikan daun tak pernah membenci angin,
kutipan dari kata indah Tereliye. Itulah keajaiban sahabat pada saat itu. Aku
lebih menyukai hubungan persahabatan dari pada hubungan percintaan yang belum
di pastikan kehalalannya. Beribu kata bisa terukir indah nan panjang serta di
hiasi dengan percikan percikan kata kejujuran (sahabat). Beribu kata bisa
terukir indah nan panjang namun di hiasi dengan percikan percikan nafsu
kebohongan (Percintaan). Itulah perbandingannya yang ku ambil kesimpulan dari
hubungan persahabatan Aku dan Dia.
Hari berganti hari.
Lalu lalang langkah anak sepi menepis
henti.
Mengajak ku mengerti akan arti sendiri.
Secara tiba tiba rasa sepi itu datang
menyengat hati.
Muncul pertanyaan dalam diri ini.
Kenapa aku jadi begini?.
Ada apa dengan diri ini?.
Oretan tinta tinta kecil itu mulai
membentuk puisi.
Sesaat aku tak menyadari.
Namun kata hati berkata pasti.
Menjelaskan akan jarak kan setia
menanti.
Dalam dekapan rindu berdiri.
Sajak sajak kerinduan mulai berbaris
rapi.
Antri...
Antri
tanpa geli.
Walau
segerombolan kata mulai membanjiri.
Sesak
dengan kicauan kicauan perih tak mau terhenti.
Namun...
Kertas
putih masih sedia memfasilitasi.
Bersamaan perasaan
lembut nan baik hati.
Itulah kebiasaan ku. Aku lebih suka
mengutarakan perasaan ku kepada kertas putih dan di hiasi tinta hitam di kala
ku di landa sepi. Malam aku mencurahkan isi hati ku ke dalam sebuah puisi. Aku
hanya diam seribu bahasa akan tetapi dada ini tak sanggup memberikan
penampungan lebih akan sekumpulan perasaan sedih ku padanya. Namun ku biarkan
malam menemani bulan yang kesepian dari kejauhan bintang.
Hanya terkikis oleh jarak tapi
sebenarnya ada dekat dalam nyata. Itulah persahabatan yang ku jalani dalam
jarak hanya terbatas oleh percakapan lihai di WA namun tak mengerti akan
artinya. Akan tetapi aku menikmati persahabatan dan jarak ini. Karena aku mulai
merasa berbeda di bandingkan hubungan persahabatan lainnya. Perbedaan itu yang
menciptakan rasa betah pada seekor ulat dalam sarang kepompongnya. Setia
menanti tuk merubah hal biasa menjadi indah. Itulah prinsip ku dengannya.
Itulah kisah Sahabat dan Jarak ku yang tak pernah terlukiskan dalam daftar
hubungan persahabatan yang biasa di lakukan oleh kalangan pemuda pemudi zaman
ini.