`cursor

Rabu, 14 Juni 2017

Sahabat & Jarak

                                                     
                                        Sahabat dan Jarak
     Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia

Seakan ku tak tau apa yang harus ku rasakan. Kita bertemu dalam satu jejaring sosial namun rasa pertemanan kita semakin dalam. Tak perlu kau curiga mengenai hal itu. Mungkin Tuhan tau akan keinginan diri ku memiliki seorang teman yang memiliki prinsip tujuan sama ke luar negeri, belajar keluar negeri tepatnya di UK. Aku mengenal dia di group ESC (English Study Club). ESC adalah group kursus bahasa inggris online di Whats up yang di didirikan oleh Alwin Austra.  Alwin Austra adalah teman dekat ku lebih tepatnya sahabat terbaikku di dunia maya. Kita berdua memiliki perbedaan yang sangat jauh. Namun persahabatan kita tetap berjalan lancar dan baik baik saja.  Dia kuliah di UIN Siliwangi dan mengambil jurusan Ekonomi Syari’ah dan aku kuliah di UTM jurusan Sastra Inggris. Dia termasuk salah satu mahasiswa paling aktif dan rajin di universitasnya dan aku tidak pernah mengalaminya. Aku mengetahuinya melalui postingan surat keterangan mahasiswa paling aktif dari rektor universitasnya.
 Selaian itu dia juga pernah di pilih untuk mewakili fakultasnya dalam ajang pemilihan MAWAPRES (Mahasiswa Berprestasi) tingkat fakultas. Meskipun dia jurusan ES (Ekonomi Syari’ah) namun dia juga pintar dalam kemampuan bahasa inggrisnya. Dia memiliki hobi bernyanyi dan bermain gitar sedangkan aku hobi membaca Al-Quran. Sehingga tak jarang aku selalu mendapatkan postingan lagunya dia di WA dan begitupun diriku. Aku juga senang tuk mengirimkan rekaman suara ku ketika tartil membaca Al quran. Aku sangatlah senang memiliki sahabat seperti dia karena aku bisa belajar darinya mengenai apa yang belum aku ketahui dan yang sudah dia ketahui.  Aku tak pernah risih di buatnya dari deringan telephone pemberitahuan message dari dia. Kita lebih suka mengggunakan message melalui voice note dan jarang menggunakan teks. Dikarenakan kita lebih sering chatting menggunakan bahasa inggris.
Satu bulan lebih kita berteman akarab dengan dia. Kita saling menceritakan kegiatan masing masing, saling  berbagi  mengenai pelajaran kita masing masing, bercanda dan terkadang belajar bersama. Meskipun jarak antara kita sangat jauh dan kita juga tidak pernah bertemu namun hal itu tidak menutup kemungkinan untuk kita belajar bersama.
Suatu hari di kampusku ada acara lomba pemilihan MAWAPRES Tingkat Fakultas. Aku tertarik untuk mengikuti acara itu karena saya fikir semua persyaratan telah aku penuhi termasuk memiliki kemampuan berbicara bahasa inggris yang bagus. Itu terdengar begitu mudah bagiku karena itu adalah jurusan ku. Namun ada satu persyaratan yang membuat aku tidak percaya diri dan menjadi kendala terbesar untuk mendaftar diri menjadi  peserta dalam acara MAWAPRES tersebut. Karya Ilmiah adalah menjadi momok terbesar kendala yang kuhadapi saat itu.  Aku mulai putus asa. Akan tetapi setelah beberapa hari setelah itu aku menyadari bahwa aku punya Alwin yang pernah mengikuti acara MAWAPRES di kampusnya.
Aku yakin dia pasti bisa membantuku bagaimana cara membuat karya ilmiah, mendapatkan ide, menemukan judul, meneliti, menyusun dan mempresentasikannya di depan para juri nanti. Sore itu ketika dia mengirimkan sebuah pesan, aku mulai bertanya kepadanya. “Can you help me, dude?” ucapku di percakapan WA itu. Sesaat kemudian dia membalasnya, “Yup, Sure!” balasnya. Aku mulai mengetik lagi, mengutarakan permasalahan ku kepdanya. “ There is an event MAWAPRES in my faculty and I interested to join it. In another way I got some problem related with it. The problem is that I could not make Karya Ilmiah. Ok, what I wanna say is that Can you help me to make Karya Ilmiah?” ucapku mengutarakan point yang penting yang pada saat itu menjadi kendala terbesar untuk mengikutinya.
Sesaat kemudian tanda centang abu abu pun tergambar di kolom percakapan antara aku dan dia dan satu detik kemudian centangan dua itu berganti warna biru yang menandakan bahwa pesan yang aku kirim kepadanya sudah dia baca. Seperti biasanya, setelah tanda centang dua itu berganti warna biru, di pojok kanan atas tepat di bawah tulisan nama Alwin Austra terdapat tulisan (Typing...) yang bergerak sendiri menandakan bahwa dia sedang membalas pesan ku tadi. Namun kali ini tulisan typing itu bergerak lama sekali sehingga membuatku lelah menunggu dan ku alihkan ke percakapan grup WA lainnya. Lumayan lama dia mengetiknya dan balasan pesan dari dia pada akhirnya  sampai kepadaku. Seperti yang ku duga sebelumnya. Dia membalas pesannya lebih panjang  dan lebih lengkap dari pesan ku sebelumnya. “Ok lulu. I gonna help you but I do not know how to guide you write Karya Ilmiah. I never attempt to teach someone via WA. I mean to study about Karya Ilmiah. So do yo have any suggestion to me, how I and you study together  and make it run well?” itulah balasan dia setelah merespon pesan ku yang ke dua kalinya.
Setelah aku membaca balasan dari dia, tiba wlangsung muncul ide di dalam fikiran ku mengenai saran yang di minta dari dia. Tanpa berfikir panjang, aku langsung membalas pesannya dan mengutarakan ide yang ada di fikiran ku itu. “ Alright, I have an Idea; How if you send your karya ilmiah’s paper and after that I attemp to learn karya ilmiah by using your file then If I get confuse about it, I gonna ask to you?. Do you agree with it?.” pesan itu pun terkirm kepadanya dan dia langsung membacanya dan mebalasnya dengan balasan, ‘Yes, It is!!!.” Dan balasan itu jyga di ikuti dengan kiriman file karya ilmiah ang berjudul “STRATEGI MENGIMPLEMENTASIKAN GAYA HIDUP HALAL BERBASIS USAHA MIKRO KECIL MENENGAH”. Setelah itu, kita langsung beralih ke percakapan yang serius antara aku dan dia. Aku pun mulai menlontarkan beberapa istilah istilah ilmiah yang sulit aku mengerti dari karya ilmiahnya dia. Tidaklah begitu lama aku dan dia berbincang- bincang mengenai hal itu karena aku pun cepat mengerti dan paham mengenai maksud dari karya ilmiah itu.
Aku yakin bahwa semua orang di dunia ini pasti menginginkan dan membutuhkan hadirnya seorang sahabat di dalam hidupnya. Karena sahabat itu bagaikan sebuah pohon yang menaungi kita. Ketika berbicara tentang sahabat, aku kembali teringat kepada syair arab lama ku yang aku dapatkan dari ustadzah ku di sana. Syairnya itu berbunyi seperti ini;
ليس الصدق لمن مدحك #  لكن الصدق لمن نصحك # و معك في اي شاءن كنت،                          
 طوبا لمن يكون كا اشعر المضل  # المثمار لصديقه وهو انفع اليك                                  
Sahabat itu bukanlah orang yang menyakiti mu. # Akan tetapi sahabat itu adalah orang yang selalu menasehati mu  # dan bersamamu dalam keadaan apapun. # Berbahagialah seseorang yang memiliki sahabat seperti sebuah pohon. # seseorang yang selalu memberi manfaat kepada mu.#
Itulah lantunan indah sebuah syair yang selalu ku ingat dan ku amalkan sampai saat ini. Aku sangat menyukai syair ini. Hingga pada suatu hari aku pernah meraih juara III lomba pidato bahasa Indonesia dengan judul Sahabat dan menggunakan syair ini. Oleh karena itu, syair itu memberi kenangan sangat indah dalam separuh metamorfosa hidupku. Aku mendapatkannya ketika aku duduk di bangku Madrsah Aliyah dari ustadzah yang menta’lim kitab shorof di pondok ku. Beliau bernama “Karimah Farihah Muhsin” dan pintar serta berparas cantik. Sekarang beliau telah menikah dan memiliki satu orang putra berparas tampan. Itulah sekilas sejarah ku mendapatkan dan mengenal syair itu sampai saat ini.
Aku menikamati perjalanan persahabatan ku dengan dia. Banyak hal hal positif  yang aku  dapatkan dalam kebersamaan ku bersamanya. Senyum merekah di wajah ku tak pernah berani pudar sedetik pun karena setiap hari ku selalu mendapatkan postingan postingan lucu dan voice not yang membuat jiwa ku bahagia bersamanya. Aku sangatlah bersyukur kepada tuhan akan karunianya besarnya, karena aku merasa dia adalah karunia terbesar Tuhan setelah keluarga yang di berikan kepadaku saat ini. Hingga di suatu pagi yang cerah, muncul keinginan di benak ku untuk mengubah gambar icon gambar profile ku dengan design gambar yang ku buat sendiri. Aku menggunakan aplikasi snapseed yang tersedia di telephone genggamku. Icon gambar profile design ku itu bukan gambar diri ku namun gambar pemandangan menara UK serta di hiasi pohon sakura yang dedaunnya berjatuhan semakin menambah keindahan pada gambar itu. Selain itu aku juga memberikan kata kata semangat untuk diri ku sendiri yang berbunyi “Dear... Lulu, Fighting” “Accomplish Al-Qur’an to Get Schoolarship in Abroad” tulisan itu ku pilih warna pink karena itu adalah warna kesukaan ku.
Setelah aku merasa icon itu terlihat cantik dan pantas tuk di upload, akhirnya aku menyimpannya dan langsung membuka aplikasi chatting WA ku tertuju ke profile setelah itu aku langsung menggantinya dengan gambar icon yang aku design sendiri itu tadi. Perasaan bangga pastinya ku miliki pada saat itu, karena ini merupakan hal pertama kali aku lakukan dalam hidup ku. Memasang icon profile dengan menggunakan icon design sendiri. Dan sejak saat itulah muncul niatan di dalam hati ku untuk tidah menggonta ganti gambar icon WA aku lagi hingga mimpi ku menjadi nyata, yaitu “Berkelana mencari ilmu ke UK bersama Schoolarship”.
Dua minggu pun berlalu, perasaan bangga itu masih ada di dalam hati ku ketika aku memandang foto profile Whats Up ku masih terlihat cute dan unique. Aku menyukainya akan tetapi aku merasa sedih  karena sahabat ku itu tidak ada kabar dan tidak pernah membalas pesan dari ku. Padahal pesan ku terkirim dan di baca olehnya namun entahlah ku mencoba tuk berprasangka baik terhadapnnya. Sesaat kemudian ku mengalihkan perhatian ku dari WA ku kepada dua  kucing Anggora peliharaan keluarga ku dan satu kucing hutan peliharaan saudara perempuan ku yan Mereka  keihatan cantik dan lucu sehingga membuat ku tertawa geli melihatya. Ketiga kucing itu memiliki nama masing masing. Kucing hutan yang pertama di beri nama “Porcen Belang Beling” makna nama itu diambil dari karakteristik dari warna tubuhnya. Porcen memiliki tiga warna yang terukir di bulu indahnya; Hitam, Abu-abu, dan cokelat karena itulah di kasih nama belang beling. Mengenai nama porcen itu di ambil dari ekspresi wajahnya si porcen saja (just Intermezzo). Kucing anggora yang kedua di beri nama si wet wet. Pertama kalinya, nama si kucing anggora putih itu di ambil dari bahasa inggris “White” karena dia memiliki bulu yang berwarna putih dan bersih akan tetapi seiring berjalannya waktu, anggota keluarga ku lebih suka memenngil dia dengan sebutan nama yang mudah saja. Dari kata White menjadi Wet. Pada akhirnya si white white pun berubah nama menjadi si Wet Wet. Kucing Anggora yang terakhir adalah si Cul Bul kedengarannya lucu sih namun aku juga tidak tau menau mengenai hal itu. Kucing culbul itu merupaka kucng anggora terkecil dari kucing kucing lainnya selain itu dia memiliki wajah bulat dan bentuk tubuh seperti boneka kucing koleksi adek adek ku. Cul Bul sangatlah lucu hingga terkadang ku panggil dia boneka kucing hidup.
Tit tut tit tut... telephone ku berdering sangat kencang sehingga membuyarkan lamunanku tentang kucing kucing lucu itu. Setelah ku lihat siapa gerangan pengirim pesan itu ternyata pesan itu dari Alwin sahabatku. Dia mengggabarkan bahwa dia baik baik saja dan membalas semua pesan dari aku dua hari yang lalu. Dia mengirim banyak pesan sehingga ku harus menscroll satu persatu beberapa garis bait dari dia. Salah satu pesan dari dia adalah “Lu, do you make your profile picture by your self?.” “yes, I am.” jawab ku padanya. “Can you make it for me?.” balas dia lagi pada ku. “oh yeah. come on. I’ll make it for you.” Jawab ku padanya lagi. “ yeah, you can change the name and put your name under the sentence to make it sense.” “Ok, it doesn’t matter. I gonna make it for you tomorrow.” Balas ku padanya. Oh My God, ternyata aku hebat juga mendesign foto profile, gumanku dalam hati sambil tersenyum senyum ku membaca pesan itu.
Ke esokan harinya, aku mengirimkan hasil foto editan dengan design yang sama namun ada sedikit perbedaan terhadap nama di atasnya. Dan tak lupa ku tuliskan sebuah kata penjelas di bawah foto design pesanan dia. “It’s the picture which you ordering at me?.” “Thank you so much my friend.” Ucap dia kepadaku. Keesokan harinya dia mengganti profile picturenya dia dengan design profile yang telah ku buatkan. Semua sahabat akan bahagia ketika sahabatnya sesuatu yang di berikannya di gunakan dan di pakai oleh sahabatnya, begitupun diriku. Ya benar karena dia aku bahagia. karena dia telah menggunakannya. Sangat bahagia, sungguh perasaan itu ada dalam diriku. Sungguh bahgia diriku saat itu!. “Terima kasih Tuhan, kau telah membuat sahabatku percaya akan diri ku.” Guman ku dalam hati.
Tanpa terasa hari demi har pun berlalu. Aku dan dia menggunakan walpaper yang sama. Semakin aku merasa hubungan persahabatan kita semakin hari semakin terjalin erat. Ku harap dia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan. Aku berkomitmen untuk tetap menjaga kesucian persahabaan ku itu dengan dia. Tak perlu ku cemari persahabatan ku seperti adegan adegan yang di pertontonkan di acara televisi Indonesia seperti Sahabat Menjadi Cinta. Apakah itu Murni Sahabat?. Tentu saja tidak. Itu tidak termasuk dalam kata sahabat. Itu bukanlah kriteria sahabat. Karena sahabat itu tidak pernah menjadi cinta walaupun akhirnya menjadi cinta namun itu hanyalah sekedar kasih sayang seorang sahabat bukan cinta kepada pasangannya.
Aku memiliki sebuah mimpi yang menjulang tinggi. Hatiku tersa tak terampuni ketika suatu hari nanti aku tidak bisa membuat mimpiku itu menjadi nyata. Aku ingin sekolah ke luar negeri dengan jalur beasiswa dari negara. Bagaimanapn caranya aku harus menjadikannya menjadi nyata. Mimipi itu tumbuh dalam angan fikiran ku ketika aku lulus dari sekolah menengah atas ku. Tak pernah ada kata putus asa dalam diriku tentang mimpi ku itu. Walauoun terkadang ketika ku menceritakan perihal impianku kepada orang tua ku; Mama, dia hanya tersenyum seperti tak rela untuk melepas kan diriku. Wajah beliau terlukis seakan dia tak mendukung ku akan tetapi dia tetap berusaha untuk membuat ku bahagia. Dia tetap memberikan semangat dan rentetan doa kecil yang terkandung makna besar di dalamnya yang selalu dia lantunkan keitka aku menyampaikan rentetan cerita ku kepadanya. Aku tidak memiliki seorang Ayah, akan tetapi aku masih punya seorang Kakek. Dia tinggal bersama keluarga ku setelah Baba ku meninggal dunia. Dia lah yang menggantikan sosok seorang Ayah dalam keluarga ku. Dia sangat menyayangi semua saudaraku dengan memfasilitasi semua kebutuhan peralatan sekolah ku. Dia sangat semnagat tentang belajar. Jadi ketika aku mencoba tuk menceritakan impian ku kepadanya dia terlihat sangat anthusias sekali dan dia memberikan dukungan yang begitu besar. Hal itu membuatku memiliki kekuatan lebih untuk lebih semangat untuk berusaha lebih giat lagi menyabrangi beribu lautan dan berjuta gunung serta hutan buas tak pernah engah ku lakukan. Semnagat belajar  ku semakin semakin semangat pada saat itu.
Aku mulai gabung dengan link dan jejaring yang memberikan informasi mengenai LPDP. Selain itu, aku juga sering mengikuti beberapa acara LPDP yang dua bulan yang lalu acanya di laksanakan di Surabaya. Aku begitu serius menjalankannya karena mimpi ini adalah masa depan ku dan impian ku. Aku percaya Tuhan akan menggabulkan keinginan terbesar ku ini. Karena dia pernah berkata ‘sal tu tho’, faidza azamta fatawwakal alaallah, innallaha yuhibbul mutatohirin’. Kupasrah kan semua list harapan harapan ku  kepada-Nya karena Dia lah yang maha Pengatur skenario terbaik dari yang terbaik.
Aku memiliki hobi menulis. Beberapa acara lomba menulis seperti cepen dan puisi pernah ku ikuti. Di dalam narasi biodata penulis cerpen dan puisi ku itu ku tuliskan impian ku untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri di UK dan ada satu lagi mimpi yang ku tulis di dalam narasi biodata penulis itu adalah Aku ingin menjadi hafidzah qur’an. Setiap ada acara lomba menulis aku selalu menggunakan narasi biodata itu untuk di letakkan sebagai pelengkap biodata ku. Tak jarang aku memposting semua hasil karya karya ku termasuk karya yang juga lolos dalam acara Sajak Sajak Anak Negeri (SSAN) tingkat Nasional.
Suatu hari aku ingin mempromosikan blog ku kepada teman teman ku. Aku berharap setelah itu b;og ku menjadi lebih hidup dan ramai dengan tumpukan komentar dari orang orang yang membaca beberapa cerita tentang hidup ku. Karena setiap hari aku membuka blog ku, ia selalu sepi tak ada satu pun orang yang berkenan tuk meninggalkan komentar mereka di postingan karya karya ku. Ku memberikan diri untuk menyebar luaskan alamat web blog ku ke semua group whats up ku. Awalnya perasaan takut, tidak percaya diri dan nervous ada dalam diri ku. Namun aku tepis semuanya dalam angan angan negative thinking ku dan ku ganti dengan positive thinking. Terkadang aku kehilangan rasa Pede karena aku malu akan tulisan ku. Tulisan ku masih acak acakan. Hal ini di buktikan dengan tidak lolosnya aku dalam mengikuti lomba menulis cerpen di kampus ku.
Singkat cerita, Alwin juga mendapatkan broadcast alamat web dari ku. Entah mungkin dia telah membaca sebagian isi taman kata kata ku. Hal itu di buktikan dengan pertanyaan yang dia lontarkan kepada ku. “Hei lulu, do you want to go UK?.” Tanya dia kepada ku. Aku berfikir sejenak mengenai pertanyaanya. Kenapa dia bisa bertanya seperti itu ya?. Guman ku dalam hati. Sesaat kemudian ku teringat dengan isi biodata narasi ku yang juga ku posting di dalam karya ku. Aku menjawabnya dengan pasti. “ yeah, of course. That’s my lovely dream!.” Ku akhiri dengan tanda seru untuk memberi keyakinan lebih tentang diriku mengenai impian ku itu. Ku lanjutkan lagi dengan sebuah pertanyaan yang memastikan apakah dugaan ku benar atau tidak mengenai pertanyaan dia tentang hal itu. “Oh yeah, how did you know about it?. I mean, How could you know that I like to go abroad, especially in UK after I graduae from my university or my undergraduate?. Can you tell me please?.” Ucap ku padanya.
Beberapa menit kemudian, balasan pesan pun muncul di hp ku dengan di tandai munculnya angka satu berwarna hijau di tempat menscroll percakapan di aplikasi chat WA. Seperti biasa, aku lebih suka menggunakan aplikasi chatting WA dari pada yang lainnya. Karena saya rasa ini lebih praktis dan lebih mengasikkan untuk chatting dengan teman serta sedikit menarik dan tidak membosankan. Jadi aku memutuskan untuk meng-unistall aplikasai BBM ku dengan WA.
“Lulu, I have not told you before that I know that information from your blog that you had shared the web to me. I thnk, we have a same dream in our life. 2019 kita sama sama ke UK yah. Cuman beda kampus saja kita, hehehe. Aku di Durham University dan kamu di Shiefflied.”
Percakapan antara aku dan dia lebih sering menggunakan bahasa campuran. Terkadang kita menggunakan bahsa Indonesia dan di Mix dengan bahasa Inggris. Begitulah natural percakapan yang berlangsung antara kita. Kita tidak pernah memaksa atau pun megharuskan untuk menggunakan bahasa inggris karena kita tahu bahwa kita tidak sedang menjalankan les bahasa inggris. Tak ada kata sungkan atau pun tidak enak antara kita. Hanya terkadang, si Alwin lebih sering meminta maaf  karena dia selalu merasa bahwa bahasa inggris dia jelek. Kita lebih sering menggunakan percakapan dengan menggunakan bahasa asing melalui voice note. Dengan tujuan untuk melatih kualitas pengucapan bahasa inggris agar lebih lancar dalam mengucapkan dan melafalkannya. Selain itu kita memiliki tujuan agar kita mudah nanti untuk berinteraksi denga teman teman baru kita di UK suatu saat nanti.
Aku mengenal dia tidak terlalu lama namun pertemanan ini seakan melukiskan kita bagaikan hubungan persahabatan yang telah terjalin sangat lama. Terakadang aku tak mengerti dengan hubungan persahaban yang hanya terjalin lewat android. Akan tetapi aku sadar bahwa jarak tak menetukan seseorang ada namun rasa ada itulah yang membuat jarak itu ada. Akhir akhir ini aku mengerti kenapa Tuhan memberikan dia untuk menjadi sahabat jarak ku. Hal itu karena Tuhan tahu bahwa aku membutuhkannya. Terkadang apa yang kita inginkan tidak selalu tercapaikan akan tetapi sebaliknya sesuatu yang tidak kita inginkan selau hadir dalam melodi kehidupan kita. Itulah sebabnya kebutuhan itu ada tingkat tertinggi dari pada keinginan. Hanya satu hal kunci kesadaran itu ada, ketika keinginan kita sulit peka akan hal yang kita butuhkan. Meskipun demikian, Tuhanlah yang peka kepada kita akan hal itu. Oleh karena itu, kita butuh Tuhanuntuk menyadarkan kita dari kegelapan akan peka itu sendiri.
Setitik cahaya bersinar berkilau di balig jendela kamar asrama kampusku. Aku terbangun dari usikan cahaya indah itu, sambil mengucek ngucek mata sebelah ku, ku ambil handphone yang ku simpan di ransel kecil  berwarna cokelat yang bergantung rapi di samping tempat tidurku itu. Aku mebuka WA ku itu. Ternyata aku di kagetkan dengan kiriman 3 voice note dan 1 audio dengan durasi waktu tiga menit tiga belas detik. Awalnya aku mengalami kesulitan untuk men download audio itu. Aku tak mudah menyerah akan hal itu. Aku mecobanya lagi, memencetnya ber ulang ulang kali dan akhirnya berhasil juga. Aku bisa mendengarkan isi dari audionya itu.
Perasaaan kaget bercampur terharu muncul begitu saja  dalam diriku, sesaat setelah aku mendengar bunyi petikan nada yang berasal dari guitar dan di ikuti suara indah dan lembut seakan menyadari ku mengenal akan suara itu. Setelah ku memutarnya lagi dan ku mendenagrkannya sampai selesai ternyata audio itu adalah sebuah lagu mix yangterdiri dari 3 jenis lagu yang berbeda dan ketiga lagu itu merupakan lagu yang familiar di telinga ku; Kun Anta, Flash Light, dan Heaven. Aku sangat menyukainya karena ini baru pertama kalinya aku mendapatkan lagu dari seorang sahabat yang menggunakan petikan jari dan suara emasnya itu sendiri. Ini merupakan sesuatu hal yang special dalam daftar memori indah hidupku.
Aku tak mengerti akan semua itu. Mungkin dia tak mengerti apa yang aku maksud. Satu hari sebelum dia mengirimkan lagu yang di mainkan sendiri oleh dia, alu sempat meminta di untuk membagikan beberapa kumpulan lagu milik dia. Akan tetapi dia mengirimkan lagu yang diyanyikan oleh dirinya sendiri. Hal itu mengandung makna yang bebeda sekali dalam hidup ku. Karena aku termasuk seseorang yang menyukai hal hal unik . Suatu hal yang sukar tuk di alami dan di dapatkan seseorang. Dan dia telah berhasil memberikan hal unik itu kepada diri ku.
Keesokan harinya aku berencana untuk pulang kampung. Aku sangat merindukan keluarga ku. Sesampainya di sana, aku berbincang bincang dengannya. Aku menceritakan semua kejadian indah dan buruk yang telah terjadi kepada ku selama aku berada di tempat yang jauh dari dekatnya. Termasuk Alwin, sahabat ku. Mama ku mendengarkan cerita ku dengan seksama dan terkadang dia melontarkan beberapa pertanyaan mengenai dirinya. Aku juga memutarkan lagu yang aku peroleh darinya. Mama ku suka mendengarkannya. Dia memuji suaranya. Secara tidak sadar aku pun tersenyum kecil di buatnya.
            Perasaan bahagia tetap berhamburan, ketika aku menulis cerpen ini dengan tema sahabat. Sahabat dan Jarak adalah judul yang ku pilih untuk mendiskripsikan cerita antara aku dan dia. Aku menulisnya dengan tujuan agar semua orang mengetahui dan merasakan bahwa betapa beruntungnya diriku memiliki sahabat seperti dia dan betapa bahagianya hari hari ku bersama dengan dirinya walaupun persahabatan kita di batasi oleh sebuah Jarak. Kehilangan kata kata dalam menyelesaikan cerpen ini pasti aku alami dan ini membuat ku kesal di buatnya. Cukup sulit bagi ku untuk menceritakan semua kebaikannya karena kebaikan yang di berikan olehnya itu membuat aku lupa akan segalanya. Entah apakah itu fitnah atau fakta. Hehehe seperti acara Rina Rose aja. Akan tetapi itulah kebenaran. Yah kebenaran yang benar benar aku alami pada saat aku berusaha untuk menuangkan ide ide baru dalam cerita pendek ku ini.
            Deringan alarm handphone ku berbunyi menandakan bahwa aku waktunya berangkat kuliah pagi. Aku pun mengakhiri aktifitas percakapan ku dengan laptop ku. Kemudian ku alihkan perhatian ku kepada handphone ku. Aku mengecek pesan pesan dari teman teman kelas ku di aplikasi favorite ku itu. Mataku terbelalak ketika aku mendapatkan nama Alwin Austra berada di paling atas dalam daftar percakapan WA ku. Dia mengirimkan 4 voice not yang belum aku ketahui apa isi dari voice note tersebut.
            Setelah aku mendengarkan dengan seksama satu persatu dari percakapannya itu. Isi dari voice note itu adalah Dia menanyakan tentang lokasi jarak dari rumah ke kampus ku. Siang itu, matahari sangat bersemangat menyinari bumi sehingga membuatku tidak begitu fokus untuk membalas voice not dari dia. Akan tetapi aku berusaha untuk memberikan informasi secara detail tentang jarak dan lokasi yang aku lewati dan aku tempuh selama perjalanan balik ke kampus meskipun pada saat itu aku berada dalam angkutan kecil umum yang penuh sesak oleh para penumpang namun tak ada masalah jika hal itu untuk sahabatku rasa lelah dan malas itu hilang begitu saja.
            Bagaikan embun di karangan rumput yang hijau. Bagaikan daun tak pernah membenci angin, kutipan dari kata indah Tereliye. Itulah keajaiban sahabat pada saat itu. Aku lebih menyukai hubungan persahabatan dari pada hubungan percintaan yang belum di pastikan kehalalannya. Beribu kata bisa terukir indah nan panjang serta di hiasi dengan percikan percikan kata kejujuran (sahabat). Beribu kata bisa terukir indah nan panjang namun di hiasi dengan percikan percikan nafsu kebohongan (Percintaan). Itulah perbandingannya yang ku ambil kesimpulan dari hubungan persahabatan Aku dan Dia.

Hari berganti hari.
            Lalu lalang langkah anak sepi menepis henti.
 Mengajak ku mengerti akan arti sendiri.
            Secara tiba tiba rasa sepi itu datang menyengat hati.
Muncul pertanyaan dalam diri ini.
Kenapa aku jadi begini?.
Ada apa dengan diri ini?.
Oretan tinta tinta kecil itu mulai membentuk puisi.
Sesaat aku tak menyadari.
 Namun kata hati berkata pasti.

Menjelaskan akan jarak kan setia menanti.
Dalam dekapan rindu berdiri.
Sajak sajak kerinduan mulai berbaris rapi.
            Antri...
            Antri tanpa geli.
            Walau segerombolan kata mulai membanjiri.
            Sesak dengan kicauan kicauan perih tak mau terhenti.
            Namun...
            Kertas putih masih sedia memfasilitasi.
            Bersamaan perasaan lembut nan baik hati.

Itulah kebiasaan ku. Aku lebih suka mengutarakan perasaan ku kepada kertas putih dan di hiasi tinta hitam di kala ku di landa sepi. Malam aku mencurahkan isi hati ku ke dalam sebuah puisi. Aku hanya diam seribu bahasa akan tetapi dada ini tak sanggup memberikan penampungan lebih akan sekumpulan perasaan sedih ku padanya. Namun ku biarkan malam menemani bulan yang kesepian dari kejauhan bintang.

Hanya terkikis oleh jarak tapi sebenarnya ada dekat dalam nyata. Itulah persahabatan yang ku jalani dalam jarak hanya terbatas oleh percakapan lihai di WA namun tak mengerti akan artinya. Akan tetapi aku menikmati persahabatan dan jarak ini. Karena aku mulai merasa berbeda di bandingkan hubungan persahabatan lainnya. Perbedaan itu yang menciptakan rasa betah pada seekor ulat dalam sarang kepompongnya. Setia menanti tuk merubah hal biasa menjadi indah. Itulah prinsip ku dengannya. Itulah kisah Sahabat dan Jarak ku yang tak pernah terlukiskan dalam daftar hubungan persahabatan yang biasa di lakukan oleh kalangan pemuda pemudi zaman ini.

Let's Love Indonesia Language (My First Essay posting here)

Let’s Love Indonesia Language
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
             It is true that Indonesia language is a national language. This language is obligatory dominated for all the humanity in Indonesia. In another hand, it is not only dominated but also must be practiced and applied it in everyday life. Although, in this era 90% the society in Indonesia, especially students prefer using English to Indonesia language because English language is needed to their future. However, we obligate to use Indonesia language more often than English language because it is crucial. There are some functions that make it to be imperative, such as to unify and show our identity.
            Indonesia language is a language that the function many several languages that used in every province like as in Maduraces, Javaness, and Batak have their own languages with different dialect. So we must have are languages with different dialect. So we must have one language to unify the country.min 18 august 1945, Indonesia language was legitimated as language that will be used in our country. It helpful all of people in Indonesia to get communicate with people from different languages. For example; Maduraces people want to talk with Javaness language , so they can use Indonesian language as a national language.
            To show our identity is the one of the function of Indonesia language. Nowadays, it is being the primarily thing  through the development of technology and getting the contact number people from abroad easily. Sometime, the first questions come from our friends who do not know us is “Which country you are from?.’ and the second question is “ Would you like to show your language to me than translate it into English language? Cause I want to know your language?.” That are the common questions hat we ask to our friends when we try to introduce our self each others. If we do not love Indonesia language, it will be a little bit different to answer all of questions perfectly. So loving Indonesia language is fundamental to build a good relation with people who do not us before.
            From the evidence, we can conclude that Indonesia language is essential to use and apply into our daily life. To unify the country and show our identity are the one of the functions of Indonesia language. everyone should love Indonesia language, if they want be accepted from their society as the naturalized Indonesia citizen.