Kerudung Lebarku berkibar di London
Oleh: Lulu’
Ulfiyah Aprilia
“Ummi...
saya pamit untuk berangkat ke London. Ummi ridhoi Nisa karena ridho ummi adalah
ridho ilahi”. Ucap Nisa seraya berpamitan kepada umminya. “Iya nak... Hati-hati
di jalan, nanti sesampainya di sana engkau langsung kabari ummi ya.” Dengan
berlinangan air mata ibunya melepaskan gengaman erat tangan Nisa dari
tangannya. “ iya ummi. Nisa pasti kabari ummi! Pasti!! Nisa janji!.” Nisa
berusaha memberi keyakinan kepada umminya untuk menghilangkan rasa khawatir
Umminya akan dirinya. “Jaga diri baik baik ya ummi, mas ubaid, mbak lisa, adek
fahmi, daris, melly.” Ucap Nisa seraya beranjak keluar membawa kopernya.
Keluarga nisa termasuk keluarga besar. Dia memiliki lima saudara dua saudara
laki laki dan 3 perempuan. Babahnya sudah pergi kepangkuan sang ilahi ketika
dia berumur 14 tahun tepatnya waktu dia kelas 2 SMP. Dia mengejar beasiswa
LPDP karena termotivasi dari baba-nya yang berpesan “Nisa lakukanlah hal yang
lebih yang tidak berlebihan”. Kata kata itulah yang membuat nisa tetap memiliki
semngat hidup yang lebih kuat dari sebelumnya. Pada akhirnya mimpi baba-nya
tercapai. “Assalamualaikum, bye...” sambil melambaikan tangannya di dalam
sebuah mobil kecil berwarna putih.
Nisa adalah seorang gadis yang memiliki anthusias belajar yang tinggi. Jadi dia tidak begitu sedih ketika dia harus pergi meninggalkan keluarga, teman dan lingkungannya yang sudah menjadi sebagian dari dirinya. Selain itu Nisa juga memiliki cita-cita untuk bisa melanjutkan S2 di luar negeri setelah dia menyelesaikan studinya di UTM (Universitas Trunojoyo Madura). Tak ada kata lengah dalam hati si kecil berkerudung lebar ini tuk menghalangi cita citanya. Universitas luar negeri yang menjadi dambaan Nisa sejak memasuki bangku kuliah semester 1 adalah universitas Shiefflied di London yang sekarang telah resmi menjadi kampus yang di tempatinya yang di raih melalui beasiswa LPDP tahun 2019. Kini ia sangat bersyukur kepada Allah swt karena salah satu mimpinya yang di oretkan di kertas putih di dinding kamar asramanya itu sudah menjadi kenyataan.
Setelah melakukan perjalanan
yang cukup jauh selama 2 hari 2 malam, akhirnya dia sampai juga di kota tujuannya.
London adalah kota idaman Nisa sejak dia memasuki bangku kuliah untuk
sekolah di sana. Dia terlihat sangat bahagia ketika melihat Monumen Paris yang
selama ini dia hanya bisa melihat dan menikmati keindahannya di gambar saja
akan tetapi sekarang gambar itu sudah nyata dan jelas di depan matanya. Suara
dzikir yang tak berhenti dari mulut indahnya itu selalu terlantun dengan lembuk
nan mebisik “Subhanaallah Walhamdulilllah Wala Ilaha Illa Allahu Akbar.” Dia menyuruh
bapak supir taksi unuk menghentikan mesinnya. “Sir, sir would you like to stop
a moment here, I want to do something? “Oh yeah, let it do.” jawab bapak supir
taksi. Sesampainya keluar dari mobil, di langsung sujud syukur di jalan tanpa
dia sadari ssemua mata telah tertuju padanya. Sesaat kemudian setelah dia
selesai melakukan sujud syukur, dia pun kaget akan keadaan yang terjadi di
hadapannya. Sehingga dia segera bergegas dari sujudnya dan berkata “Sorry”
sambil menyatukan kedua tangannya berdiri.
Sesampainya di sana, dia
sangat terkejut dan bahagia sekali melihat keindahan apartementnya yang di
hiasi dengan furniture yang lengkap dan mewah. Selain itu, di jendela kamarnya
langsung terlihat keindahan alam laut dan menara eifel paris yang indah. Hal
itulah yang membuat dia betah di london meski harus meninggalkan negeri
tercintanya. Dia memutar lagu “Number One for Me” Maher Zain setelah itu dia
langsung membereskan kamarnya dan menata barang barangnya sesuai dengan
tempat-tempat yang telah di sediakan.
Keesokan harinya dia bangun
pagi sekali karena hari itu dia masuk kuliah pertamanya di Shieffled
University. Dia sangat semangat sekali pagi itu. Namun ketika dia mulai memakai
penutup kain lebar di kepalanya, wajahnya mulai terlihat sedih. Perasaan dia
mulai berubah setelah melihat keadaan dirinya yang terbiasa memeakai kerudung
lebar dan panjang. Dia merasa gelisah akan sulit baginya untuk mendapatkan
teman karena dia memakai kerudung. “Akankah mereka menerima aku sebagai
temannaya dengan pakaian tertutup seperti ini?.” Beribu pertanyaan negatif
mulai bermunculan di fikirannya yang tak satupun ia menemukan jawabannya.
Sampai timbul sebuah pertanyaan yang yang memberikan pengaruh besar terhadap
keimanannya “haruskah aku membuka kerudung ku ini?.” Akan tetapi
sesaat kemudian dia sadar akn ucapan pertanyaannya tadi dan dia langsung
beristighfar “Astaghfirullahil adzim, maafkan aku ya Allah.” Dengan perasaan
menyesal dia melanjutkan perkataannya lagi “Aku pasti bisa, Allah pasti
membantuku karena aku yakin dengan janji kalimat Allah swt Layukallifullahu nafsan illa
wus’aha (Allah tidak akan
menguji hambanya di luar kemampuannya). Bismillah semnagt nisa untuk hari ini.”
Akhirnya rasa optimis itu pun mulai mucul dari dalam dirinya dan memulai hari
pertamanya dengan senyuman dan semangat pagi yang cerah. Dengan kerudung lebar
yang menempel di tubuhnya dan percaya diri berjalan menapaki trotoar yang tak
pernah dia lewati sebelumnya dengan menggunakan kerudung pink kesayangannya
yang di biarkan berkibar dalam tiap hembusan angin meskipun mayoritas penduduk
di sana tidak menutup aurat akan tetapi hanya minoritas saja yang menutup aurat.
Setelah Nisa sudah sampai di
depan kelas, dia tidak langsung memasuki kelasnya namun dia masih berdiri
terpaku di depan pintu kelas. Perasaan gelisah itu muncul lagi di ikuti detakan
kencang jantungnya yang tak mau berhenti untuk tenang. “Astaghfirullah,
subhanaallah wabihamdihi subhanaallahil adzim” berkali kali ia mengucapkan
kalimat itu tanpa henti karena ketegangannya. Setelah itu dia pun mulai tenang
dan mencoba menekan kode pin pintu masuk ke kelasnya. Dia mulai memberaniakn
dirinya untuk melangkahkan kakinya memesuki ruangan kelas tersebut dengan
kepala tertunduk kebawah karena dia tidak berani melihat hal hal baru lagi di
sekelilingnya. Akan tetapi sebelum dia sampai ke tempat duduknya tampak
bayangan sosok seorang muslimah berjalan menghamprinya mengulurkan tanagnnya
untuk bersalaman dengannya, dan dia berkata “Assalamualaikum ukhti?, I’m
Rukhayyah, you can call me Rukha.” Dengan secuil senyuman indah di wajah wanita
muslimah yang memiliki nama rukha tadi, membuat Nisa berani tuk mengangkat
kepalanya dan melihat seorang wanita berparas cantik, berhidung mancung dan
memiliki mata yang indah ala keturunan wanita Eropa.
Sapaan wanita eropa itu
bagaikan siraman butiran salju kedalam tubuh Nisa yang dapat mengahapus semua
perasaan perasaan negative yang muncul di dalam mindsetnya. Pada saat itu, dia
terlihat sangat bahagia. Hal itu terlihat dari pancaran sinar dan ekspresi
cerah wajahnya. Tak pernah terfikirkan oleh dia akan bertemu dan memiliki teman
sekelas yang memiliki kesamaan dengan dirinya; muslimah dan memakai kerudung
lebar. Nisa mengulurkan tangannya setelah 39 detik dia tertegun kaget dengan
kehadirannya. “Waalaikum salam, I’m Annisah al khumairoh el hamidy. You can
call me Nisa.” “Wow...what a beautifull name is that. Nice to know you, Annisah
al Khumairoh el Hamidy.” Balas Rukha dengan senyuman indah dan wajahnya. “Ohh
??? Nice to know you too, Rukhayyah.” jawab Nisa dengan di ikuti senyuman manis
yang tak terkalahkan dari senuman Rukha. Satu menit kemudian di sela-sela
percakapan mereka, proffesor John Smith pun datang dan memasuki kelas dengan
memegang dua buku di tangan kirinya dan membawa satu tongkat tua cokelat di
tangan kirinya. Dengan kaca minus 4,5 dia berjalan menuju ke arah depan sambil
melirik lirik mahasiswa barunya. Sesekali dia mengernyitkan dahinya di iringi
dengan kedipan mata sebelah kirinya tiga kali. Prof. Dr. Ir. John Smith adalah
salah satu proffesor tertua ke -3 di Shieffled University. Dia telah di beri
kepercayaan mengajar 45 tahun di bidang Linguistic di Shieffled University. Dia
pun mulai membuka pembicaraannya dengan perkenalan. “oh yeah! Hello good
morning everybody. I’m Mr. John Smith, I’m holding the linguistic theory since
45 years ago until now.” Dia menjelaskan jati dirinya sambil tertawa kecil
seraya memperlihatkan giginya yang sudah mulai menguning dan menghitam. Dia
menceritakannya dengan sangat detail dan lengkap. Satu menit pun berlalu,
kemudian dia melanjutkan pembicaraannya lagi dengan meminta seluruh mahasiswa
yang berada di kelas itu untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. “Okay, now
is your turn, to introduce your self. ”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mereka pun mulai memperkenalkan
identitas dirinya sesuai urutan tempat duduk di kelas itu. Perkenalan
pertama pun di mulai dari seorang gadis yang memiliki tubuh yang indah
dengan paras yang cantik dan hidung yang mancung. “ Hi. Let me introduce my
self. I’m jee lokshen. You can call me Jee. Glad to meet you.” Perkenalan itu
pun berlanjut satu persatu sampai akhirnya sampai pada giliran Nisa. “hi.. I’m
annisah al khumairo el hamidy. I’m from Indonesia I got LPDP schoolarship here.
It is nice to know you.” Gadis cantik dari indonesia itu menjelaskan
identitasnya dengan sangat lengkap. Hal itu memeancing perhatian proffesor
John, sehingga sebelum Nisa berencana untuk menghentikan pembicaraannya, dia
langsung melontarkan satu pertanyaan yang membuat bangga hati Nisa. “Owh, so
you’re miss Nisa. You’re from Indonesia? It’s really incredible. Actually I
want to go there but I have not any spare time to go there. I ever here that
Indonesia has a beautifull ocean and mountain, is it right?.” “ Owh, yeah sir
it is right. You can go there if you have a spare time later on.” jawab Nisa
dengan wajah merah jambu menahan rasa bangga dan bahagia di hatinya. “Time to
break, time to break, time to break.” Nisa pun kaget dengan bunyi suara seperti
itu. Kemudian dia mencoba bertanya ke temannya, ternyata bunyi itu menandakan
waktu untuk pulang.
Hari hari Nisa berlalu dengan
seuntai senyuman bak air yang tenang dan sekaligus memberi kesejukan, bak
butiran embun pagi terlihat memberi keindahan dan bak udara sejuk di pagi hari
memberi kesegaran. Setiap hari dia selalu melakukan rutinitas sehari
harinya dengan istiqomah sampai pada akhirnya tiba waktunya dalam acara lomba
menulis essay bahasa inggris dengan tema “Pengaruh Dunia Abad ke II.” Dia
memiliki hoby menulis maka dari itu dia mengambil jurusn linguistik untuk
memperdalam bahasa pada tulisannya. Dia pun mencoba untuk mendaftarkan dirinya
sebagai peserta lomba essay se-universitas itu dan selang satu hari dari
pendaftarannya dia sudah menyetorkan lembaran karyanya kepada panitia. satu
minggu berlalu, tibalah hari pengumuman pemenang dan para juara lomba essay
tingka universitas. “Congratulation to Annisah al khumairoh el hamidy as The
winner of the essay competition of the Shieflied university.” Suara itu
menggema memenuhi seluruh sisi gedung pertemuan di sana. Ternyata tanpa di
sangka sangka sebelumnya nama Nisa pun di panggil dan mendapatkan
penghargaan piagam kebesarannya. Dia sangat bahagia mendengar namanya di sebut
dan menjadi pemenang dalam acara lomba essay di kampusnya. Dia pun di panggil
untuk menaiki ke atas panggung. Dengan menggunakan kerudung lebarnya dia pun
naik ke atas panggung. Sungguh luar biasa semua mahasiswa tercengang melihat
sosok Nisa seorang muslimah yang awalnya mereka hanya gadis lugu yang tersipu
malu dengan kerudung lebarnya akan tetapi kini dia bisa menjadi pemenang utama
dalam ajang lomba essay se universitas, yang awalnya mereka hanya tercengang
kaget melihat nisa kini gemuruh tepuk tangan dan ucapan selamat tertuju kepada
Nisa.
Setelah Nisa naik keatas
panggung, nisa langsung sujud syukur dan menangis terharu akan beribu-ribu
hadiah yang di limpahkan oleh Allah kepadanya. “Sajada wajhiya lilladzi kholaqohu
wassyaqohu bihamdillahi waquwwatihi” kalimat
itu terlantun keras dan khusyuk terucap dari bibir mungilnya. Setelah dia
merasa cukup untuk berucap syukur kepada Allah swt, dia pun bangun dari
sujudnya dan mengulurkan tangannya untuk menerima piagam penghargaan dan piala
emas dengan di ikuti secuil senyuman di bibirnya dengan mengahadpa ke depan.
Beribu kilauan cahaya kamera yang berusaha untuk mendapatkan gambarnya. Dia
terlihat sangat bahagia dengan cahaya sumringah yang terlukis jelas di wajahnya.
Sesampainya di apartemennya, dia membuka buku curhatannya dan mulai mengukir
sepatah dua patah kata yang di akhiri oleh sebuah kalimat penutup yang indah
“Allah... Kerudung lebarku berkibar di London ♥.”
BIODATA PENULIS
HI guys,, sekarang gue mau
memperkenalkan diri gue di biodata penulis ini. Langsung aja ya, yukk chek it
out...
NARASI BIODATA PENULIS
Lulu’ ulfiyah aprilia, sangat suka di panggil dengan nama pena Lulu
Winbe. Lahir 18 tahun yang lalu tepat tanggal 29 april di kota pamekasan, jawa
timur.
Sihappiness yang gak suka pada kata ngenes,wkwkkwk│punya hobi
menghafal, menulis dan membaca semua bacaan yang menarik dan gokil dech dan
pastinya suka berdiskusi dan berdebat baik itu bahasa ingris maupun bahasa
Indonesia. Namun masih dalam tingkat forum sendiri. Cita cita sih ingin jadi
translator all languages in the world but the most specifics are English and
Indonesia cause negara gue Indonesia guys, tahfidzul qur’an 30 juz dan saat
ini menjadi Mahasiswi UTM, jurusan Sastra Inggris dan ngebet banget bisa
meraih LPDP kuliah ke British di University of Shieffleid Hallam, amin... doain
ya guys semoga tercapai...
Sipinky ini lebih suka membaca buku Bena Book, kare akal akal nya
sama persis dan sesuan dengan hal aneh dan jengkel yang di ceritakan di buku
bena itu. Selain karena ke kecean buku itu, juga terdapat misteri jengel dan
pengalaman konyol yang tertulis di buku tsb. Tak tau mengapa gue lebih suka
baca buku yang romance Cinta di Tiga Benua. Wuihh keren banget guys, sampa gue
bingung yang mau gue ekspresikan di blog gue, sangking bingungnya gue gak jadi
nulis dan gue simpan saja di dalam naluri cinta yang tertatadi dalam ketenangan
kalbu yang mendalam.
Jejak jejak gue selama ini bisa di cek di akun
Fb: Luluk Aprilia
Instagram: Pinkkedust_me
Telegram: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
WA/Line: 0853-3014-9092
