`cursor

Jumat, 12 Mei 2017

Kerudung Lebarku Berkibar di London

Kerudung Lebarku berkibar di London
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
“Ummi... saya pamit untuk berangkat ke London. Ummi ridhoi Nisa karena ridho ummi adalah ridho ilahi”. Ucap Nisa seraya berpamitan kepada umminya. “Iya nak... Hati-hati di jalan, nanti sesampainya di sana engkau langsung kabari ummi ya.” Dengan berlinangan air mata ibunya melepaskan gengaman erat tangan Nisa dari tangannya. “ iya ummi. Nisa pasti kabari ummi! Pasti!! Nisa janji!.” Nisa berusaha memberi keyakinan kepada umminya untuk menghilangkan rasa khawatir Umminya akan dirinya. “Jaga diri baik baik ya ummi, mas ubaid, mbak lisa, adek fahmi, daris, melly.” Ucap Nisa seraya beranjak keluar membawa kopernya. Keluarga nisa termasuk keluarga besar. Dia memiliki lima saudara dua saudara laki laki dan 3 perempuan. Babahnya sudah pergi kepangkuan sang ilahi ketika dia berumur 14 tahun tepatnya waktu dia kelas 2 SMP.  Dia mengejar beasiswa LPDP karena termotivasi dari baba-nya yang berpesan “Nisa lakukanlah hal yang lebih yang tidak berlebihan”. Kata kata itulah yang membuat nisa tetap memiliki semngat hidup yang lebih kuat dari sebelumnya. Pada akhirnya mimpi baba-nya tercapai. “Assalamualaikum, bye...” sambil melambaikan tangannya di dalam sebuah mobil kecil berwarna putih.

Nisa adalah seorang gadis yang memiliki anthusias belajar yang tinggi. Jadi dia tidak begitu sedih ketika dia harus pergi meninggalkan keluarga, teman dan lingkungannya yang sudah menjadi sebagian dari dirinya. Selain itu Nisa juga memiliki cita-cita untuk bisa melanjutkan S2 di luar negeri setelah dia menyelesaikan studinya di UTM (Universitas Trunojoyo Madura). Tak ada kata lengah dalam hati si kecil berkerudung lebar ini tuk menghalangi cita citanya. Universitas luar negeri yang menjadi dambaan Nisa sejak memasuki bangku kuliah semester 1 adalah universitas Shiefflied di London yang sekarang telah resmi menjadi kampus yang di tempatinya yang di raih melalui beasiswa LPDP tahun 2019. Kini ia sangat bersyukur kepada Allah swt karena salah satu mimpinya yang di oretkan di kertas putih di dinding kamar asramanya itu sudah menjadi kenyataan.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh selama 2 hari 2 malam, akhirnya dia sampai juga di kota tujuannya. London adalah kota idaman Nisa sejak dia memasuki bangku kuliah  untuk sekolah di sana. Dia terlihat sangat bahagia ketika melihat Monumen Paris yang selama ini dia hanya bisa melihat dan menikmati keindahannya di gambar saja akan tetapi sekarang gambar itu sudah nyata dan jelas di depan matanya. Suara dzikir yang tak berhenti dari mulut indahnya itu selalu terlantun dengan lembuk nan mebisik “Subhanaallah Walhamdulilllah Wala Ilaha Illa Allahu Akbar.” Dia menyuruh bapak supir taksi unuk menghentikan mesinnya. “Sir, sir would you like to stop a moment here, I want to do something? “Oh yeah, let it do.” jawab bapak supir taksi. Sesampainya keluar dari mobil, di langsung sujud syukur di jalan tanpa dia sadari ssemua mata telah tertuju padanya. Sesaat kemudian setelah dia selesai melakukan sujud syukur, dia pun kaget akan keadaan yang terjadi di hadapannya. Sehingga dia segera bergegas dari sujudnya dan berkata “Sorry” sambil menyatukan kedua tangannya berdiri.

Sesampainya di sana, dia sangat terkejut dan bahagia sekali melihat keindahan apartementnya yang di hiasi dengan furniture yang lengkap dan mewah. Selain itu, di jendela kamarnya langsung terlihat keindahan alam laut dan menara eifel paris yang indah. Hal itulah yang membuat dia betah di london meski harus meninggalkan negeri tercintanya. Dia memutar lagu “Number One for Me” Maher Zain setelah itu dia langsung membereskan kamarnya dan menata barang barangnya sesuai dengan tempat-tempat yang telah di sediakan.

Keesokan harinya dia bangun pagi sekali karena hari itu dia masuk kuliah pertamanya di Shieffled University. Dia sangat semangat sekali pagi itu. Namun ketika dia mulai memakai penutup kain lebar di kepalanya, wajahnya mulai terlihat sedih. Perasaan dia mulai berubah setelah melihat keadaan dirinya yang terbiasa memeakai kerudung lebar dan panjang. Dia merasa gelisah akan sulit baginya untuk mendapatkan teman karena dia memakai kerudung. “Akankah mereka menerima aku sebagai temannaya dengan pakaian tertutup seperti ini?.” Beribu pertanyaan negatif mulai bermunculan di fikirannya yang tak satupun ia menemukan jawabannya. Sampai timbul sebuah pertanyaan yang yang memberikan pengaruh besar terhadap keimanannya “haruskah aku membuka kerudung ku ini?.” Akan   tetapi sesaat kemudian dia sadar akn ucapan pertanyaannya tadi dan dia langsung beristighfar “Astaghfirullahil adzim, maafkan aku ya Allah.” Dengan perasaan menyesal dia melanjutkan perkataannya lagi “Aku pasti bisa, Allah pasti membantuku karena aku yakin dengan janji kalimat Allah swt Layukallifullahu nafsan illa wus’aha (Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya). Bismillah semnagt nisa untuk hari ini.” Akhirnya rasa optimis itu pun mulai mucul dari dalam dirinya dan memulai hari pertamanya dengan senyuman dan semangat pagi yang cerah. Dengan kerudung lebar yang menempel di tubuhnya dan percaya diri berjalan menapaki trotoar yang tak pernah dia lewati sebelumnya dengan menggunakan kerudung pink kesayangannya yang di biarkan berkibar dalam tiap hembusan angin meskipun mayoritas penduduk di sana tidak menutup aurat akan tetapi hanya minoritas saja yang menutup aurat.
Setelah Nisa sudah sampai di depan kelas, dia tidak langsung memasuki kelasnya namun dia masih berdiri terpaku di depan pintu kelas. Perasaan gelisah itu muncul lagi di ikuti detakan kencang jantungnya yang tak mau berhenti untuk tenang. “Astaghfirullah, subhanaallah wabihamdihi subhanaallahil adzim” berkali kali ia mengucapkan kalimat itu tanpa henti karena ketegangannya. Setelah itu dia pun mulai tenang dan mencoba menekan kode pin pintu masuk ke kelasnya. Dia mulai memberaniakn dirinya untuk melangkahkan kakinya memesuki ruangan kelas tersebut dengan kepala tertunduk kebawah karena dia tidak berani melihat hal hal baru lagi di sekelilingnya. Akan tetapi sebelum dia sampai ke tempat duduknya tampak bayangan sosok seorang muslimah berjalan menghamprinya mengulurkan tanagnnya untuk bersalaman dengannya, dan dia berkata “Assalamualaikum ukhti?, I’m Rukhayyah, you can call me Rukha.” Dengan secuil senyuman indah di wajah wanita muslimah yang memiliki nama rukha tadi, membuat Nisa berani tuk mengangkat kepalanya dan melihat seorang wanita berparas cantik, berhidung mancung dan memiliki mata yang indah ala keturunan wanita Eropa.


Sapaan wanita eropa itu bagaikan siraman butiran salju kedalam tubuh Nisa yang dapat mengahapus semua perasaan perasaan negative yang muncul di dalam mindsetnya. Pada saat itu, dia terlihat sangat bahagia. Hal itu terlihat dari pancaran sinar dan ekspresi cerah wajahnya. Tak pernah terfikirkan oleh dia akan bertemu dan memiliki teman sekelas yang memiliki kesamaan dengan dirinya; muslimah dan memakai kerudung lebar. Nisa mengulurkan tangannya setelah 39 detik dia tertegun kaget dengan kehadirannya. “Waalaikum salam, I’m Annisah al khumairoh el hamidy. You can call me Nisa.” “Wow...what a beautifull name is that. Nice to know you, Annisah al Khumairoh el Hamidy.” Balas Rukha dengan senyuman indah dan wajahnya. “Ohh ??? Nice to know you too, Rukhayyah.” jawab Nisa dengan di ikuti senyuman manis yang tak terkalahkan dari senuman Rukha. Satu menit kemudian di sela-sela percakapan mereka, proffesor John Smith pun datang dan memasuki kelas dengan memegang dua buku di tangan kirinya dan membawa satu tongkat tua cokelat di tangan kirinya. Dengan kaca minus 4,5 dia berjalan menuju ke arah depan sambil melirik lirik mahasiswa barunya. Sesekali dia mengernyitkan dahinya di iringi dengan kedipan mata sebelah kirinya tiga kali. Prof. Dr. Ir. John Smith adalah salah satu proffesor tertua ke -3 di Shieffled University. Dia telah di beri kepercayaan mengajar 45 tahun di bidang Linguistic di Shieffled University. Dia pun mulai membuka pembicaraannya dengan perkenalan. “oh yeah! Hello good morning everybody. I’m Mr. John Smith, I’m holding the linguistic theory since 45 years ago until now.” Dia menjelaskan jati dirinya sambil tertawa kecil seraya memperlihatkan giginya yang sudah mulai menguning dan menghitam. Dia menceritakannya dengan sangat detail dan lengkap. Satu menit pun berlalu, kemudian dia melanjutkan pembicaraannya lagi dengan meminta seluruh mahasiswa yang berada di kelas itu untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. “Okay, now is your turn, to introduce your self.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mereka pun mulai memperkenalkan identitas dirinya sesuai urutan tempat duduk di kelas itu. Perkenalan pertama  pun di mulai dari seorang gadis yang memiliki tubuh yang indah dengan paras yang cantik dan hidung yang mancung. “ Hi. Let me introduce my self. I’m jee lokshen. You can call me Jee. Glad to meet you.” Perkenalan itu pun berlanjut satu persatu sampai akhirnya sampai pada giliran Nisa. “hi.. I’m annisah al khumairo el hamidy. I’m from Indonesia I got LPDP schoolarship here. It is nice to know you.” Gadis cantik dari indonesia itu menjelaskan identitasnya dengan sangat lengkap. Hal itu memeancing perhatian proffesor John, sehingga sebelum Nisa berencana untuk menghentikan pembicaraannya, dia langsung melontarkan satu pertanyaan yang membuat bangga hati Nisa. “Owh, so you’re miss Nisa. You’re from Indonesia? It’s really incredible. Actually I want to go there but I have not any spare time to go there. I ever here that Indonesia has a beautifull ocean and mountain, is it right?.” “ Owh, yeah sir it is right. You can go there if you have a spare time later on.” jawab Nisa dengan wajah merah jambu menahan rasa bangga dan bahagia di hatinya. “Time to break, time to break, time to break.” Nisa pun kaget dengan bunyi suara seperti itu. Kemudian dia mencoba bertanya ke temannya, ternyata bunyi itu menandakan waktu untuk pulang.
Hari hari Nisa berlalu dengan seuntai senyuman bak air yang tenang dan sekaligus memberi kesejukan, bak butiran embun pagi terlihat memberi keindahan dan bak udara sejuk di pagi hari memberi kesegaran. Setiap hari dia selalu melakukan rutinitas sehari  harinya dengan istiqomah sampai pada akhirnya tiba waktunya dalam acara lomba menulis essay bahasa inggris dengan tema “Pengaruh Dunia Abad ke II.” Dia memiliki hoby menulis maka dari itu dia mengambil jurusn linguistik untuk memperdalam bahasa pada tulisannya. Dia pun mencoba untuk mendaftarkan dirinya sebagai peserta lomba essay se-universitas itu dan selang satu hari dari pendaftarannya dia sudah menyetorkan lembaran karyanya kepada panitia. satu minggu berlalu, tibalah hari pengumuman pemenang dan para juara lomba essay tingka universitas. “Congratulation to Annisah al khumairoh el hamidy as The winner of the essay competition of the Shieflied university.” Suara itu menggema memenuhi seluruh sisi gedung pertemuan di sana. Ternyata tanpa di sangka sangka sebelumnya nama Nisa pun  di panggil dan mendapatkan penghargaan piagam kebesarannya. Dia sangat bahagia mendengar namanya di sebut dan menjadi pemenang dalam acara lomba essay di kampusnya. Dia pun di panggil untuk menaiki ke atas panggung. Dengan menggunakan kerudung lebarnya dia pun naik ke atas panggung. Sungguh luar biasa semua mahasiswa tercengang melihat sosok Nisa seorang muslimah yang awalnya mereka hanya gadis lugu yang tersipu malu dengan kerudung lebarnya akan tetapi kini dia bisa menjadi pemenang utama dalam ajang lomba essay se universitas, yang awalnya mereka hanya tercengang kaget melihat nisa kini gemuruh tepuk tangan dan ucapan selamat tertuju kepada Nisa.
Setelah Nisa naik keatas panggung, nisa langsung sujud syukur dan menangis terharu akan beribu-ribu hadiah yang di limpahkan oleh Allah kepadanya. “Sajada wajhiya lilladzi kholaqohu wassyaqohu bihamdillahi waquwwatihi” kalimat itu terlantun keras dan khusyuk terucap dari bibir mungilnya. Setelah dia merasa cukup untuk berucap syukur kepada Allah swt, dia pun bangun dari sujudnya dan mengulurkan tangannya untuk menerima piagam penghargaan dan piala emas dengan di ikuti secuil senyuman di bibirnya dengan mengahadpa ke depan. Beribu kilauan cahaya kamera yang berusaha untuk mendapatkan gambarnya. Dia terlihat sangat bahagia dengan cahaya sumringah yang terlukis jelas di wajahnya. Sesampainya di apartemennya, dia membuka buku curhatannya dan mulai mengukir sepatah dua patah kata yang di akhiri oleh sebuah kalimat penutup yang indah “Allah... Kerudung lebarku berkibar di London ♥.”



BIODATA PENULIS    
HI guys,, sekarang gue mau memperkenalkan diri gue di biodata penulis ini. Langsung aja ya, yukk chek it out...
NARASI BIODATA PENULIS








Lulu’ ulfiyah aprilia, sangat suka di panggil dengan nama pena Lulu Winbe. Lahir 18 tahun yang lalu tepat tanggal 29 april di kota pamekasan, jawa timur.
Sihappiness yang gak suka pada kata ngenes,wkwkkwk│punya hobi menghafal, menulis dan membaca semua bacaan yang menarik dan gokil dech dan pastinya suka berdiskusi dan berdebat baik itu bahasa ingris maupun bahasa Indonesia. Namun masih dalam tingkat forum sendiri. Cita cita sih ingin jadi translator all languages in the world but the most specifics are English and Indonesia cause negara gue Indonesia guys, tahfidzul qur’an 30 juz dan saat ini  menjadi Mahasiswi UTM,  jurusan Sastra Inggris dan ngebet banget bisa meraih LPDP kuliah ke British di University of Shieffleid Hallam, amin... doain ya guys semoga tercapai...
Sipinky ini lebih suka membaca buku Bena Book, kare akal akal nya sama persis dan sesuan dengan hal aneh dan jengkel yang di ceritakan di buku bena itu. Selain karena ke kecean buku itu, juga terdapat misteri jengel dan pengalaman konyol yang tertulis di buku tsb. Tak tau mengapa gue lebih suka baca buku yang romance Cinta di Tiga Benua. Wuihh keren banget guys, sampa gue bingung yang mau gue ekspresikan di blog gue, sangking bingungnya gue gak jadi nulis dan gue simpan saja di dalam naluri cinta yang tertatadi dalam ketenangan kalbu yang mendalam.
Jejak jejak gue selama ini bisa di cek di akun


Fb: Luluk Aprilia
Instagram: Pinkkedust_me
Telegram: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
WA/Line: 0853-3014-9092









Tidak ada komentar:

Posting Komentar