`cursor

Jumat, 22 September 2017

Tentang Kamu

Tentang Kamu
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Hi ayah!
Apa kabar kau di sana
Banyak sekali ilusi indah
Yang memberikan ilusi berkah

Ayah!
Ingatkah engkau
Dikala pagi subuh menjelma
Kau membawa netra ini berkelana
Di setiap gengaman hakus tanganmu
Menarik tubuh ini berjalan mengikuti alur aspal itu

Di setiap tempelan embun bening di sela-sela rumput
Di setiap hembusan angin pagi berterbangan hanyut
Di setiap seruan titah ajakanmu
Menaburkan sebongkah kebahagiaan kepadaku

Hi Ayah!
Inilah segoret tentangmu
Tentang tinta kasih sayangmu
Tak akan pernah terhapus dalam setiap memori seluit pandangku
                                                                                                   (Pamekasan, 09  agustus 2017)



Teman Pena

Teman Pena
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Teman pena!
Satu kata dari dirimu
Di setiap sentuhan bait puisi itu
Tertera sebuah kata ajaib darimu
Menulislah!
Teruslah!
Berkaryalah!

Arungi titisan psang puebi mendalam
Kuasai setiap kata yang terikat lekat KBBI
Hiasilah butiran-butiran rasa
Percikanlah nada-nada membara

Teman pena!
Titah mulyamu kepadaku
Seruan pedas didikanmu
Menerjang awan hatiku
Menusuk pelik gemuruh semangatku
Terima kasih wahai teman penaku
Kau akan kukenang selalu
Dalam setiap torehan penaku
                                                                                                                                      

                                                                                                                (Madura, 9 agustus 2017)





Sebait Rindu

Sebait Rindu
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Ini hanyalah sebait rindu
Rindu seorang anak kepada lelaki pertamanya                        
Ayah!
Gumpalan sayap itu selalu menari-nari mengajakku berlari.
Namun tak ada setitik bayanganmu di balik sayap itu.

Ayah!
 Beribu dusta atau pun duka yang kau beri.
Tak sedikitpun menutupi sebait puisi ceritamu.
Ini hanya lah sebait puisi untukmu.

Dariku! Dari anakmu yang menaggung rindu.
Tak kuasa dalam pilu.
Beribu harapan telah ku terbangkan.
Hanya beberapa serpihan perih lalu lalang.

Ayah!
Kemanapun kau pergi.
 Berapa jauh hektarpun kau melayang.
Walaupun kau menyapaku seluit pandang.

Aku pun bahagia!
Tersenyum bahagia!
 Hanya berada dalam dekapanmu
Ayah! Sebait rindu puisi ini kupersembahkan kepadamu.

                                                                                                          (Lebbek, 09 agustus 2017)

Kehilangan Sang Ayah

                                                            Kehilangan Sang Ayah
                                                         Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Gemuruh hujan mengguyur hati ku
Mengisi dada tak berjenuh biru
Ketika ku mendengar kawanan ku
Bercengkrama manja dengan Ayahnya
“Ayah, gmana kabarnya,... Oh Ayah”

Aku mencoba menjemjam hati ku
Menahan seluitan pedang mencincang hati ku
Gerilya serentak hati dan fikiranku
Medebatkan perasaan yang ada

Julaian itu hanya bergelimang gelimang
Meneteskan sebutir air mata
Membiarkan arusnya terbuka lebar
Isakan tangis itu terdengar di telinga ku

Tanpa sadar ku tak bisa menahannya
Selayang pandang aku melihatnya
Berdebam tak menentu ku berkhayal
Seandainya kau datang kembali Ayah,

Satu tapak jejak semut pun tak akan ku tampakkan pada mu.
Sungguh! Ayah...
Begitu memaksannya aku meminta mu
Tuk kembali ke alur maya ini
Namun inilah realita hakiki rinduku
Karena kehilangan mu begitu menghujam diri ku.

                                                                                                             (Bangkalan, 12 Juli 2017)

Penyesalan

Penyesalan
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Di sudut ruang
Berpagut pada kekosongan
Tak henti bayanganmu menjejal
Sirap-sirap memori usang
Terungkap

Kubuang jutaan detik waktu
‘Tuk mengenang bayang-bayangmu
Namun hanya sebatas fatmorgana
Berlalu tak bersisa

Kau acuhkan aku dalam gemerlap
senda gurauku
Kau menjauhiku
Saat kubiarkan kubiarkan
Waktuku berlalu

Kenyataan memang kejam
Pengorbanan terpaksa rajam
Menyisakan penyesalan tajam
Kapan punmampu menghujam

Tersungkur ‘ku tak berdaya
Putus asa tak berupa
Tertunduk malu dalam amarah

Wahai kau yang di sana
Lihatlah!
Aku wanita yang kau sia-siakan hadirnya.
Wahai kau yang di sana
Sadarlah!
Aku bukan udara, yang tak ternilai
Namun di beli saat kau butuhkan

                                                                                               (Gubuk Pinkywinky_30 juli 2017)

Pekikan Suara Itu

                                                                     Pekikan Suara Itu
                                                           Oleh; Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Dentingan jeruji jarum itu
Tik tok, !!!
Tik tok, !!!
Kapan ku beranjak pergi,
Berlari melangkah pasti
Teruntuk hari ku yang mati

Awalnya ku berada dalam cahaya itu
Menari berlari
Namun kini
Pekikan itu ...
Tersesat nyasar  tak karuan tak terhenti

Pekikan suara yang biasa ku dengar kini telah terhenti
Menyiksa diri ku yang seakan mati bersuri
Menatapi ratapan kehilangan suara itu
Suara kasih sayang mu
Menjelajah jangka pendek terowongan telinga,

Suara itu berbunyi’’Ndok, Bangunnn...!” pekiknya
Kehilangan suara itu seakan ku kehilangan semuanya
Tidak hanya raganya
Namun sikapnya
 Kasih sayangnya...

                                                                                                                                                                          (Bangkalan, 11 juli 2017)

Pagi terakhirnya

Pagi Terakhir
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Pagi itu
Aku masih sempat menemuinya
Menatap celah keriput wajahnya
Melukis senyum di bibir lemahnya
Seladu kapur batu
Tasbih lantunan qu’ran mulia
Mengusiknya disetiap titah hidupnya

Sore, jam lima lewat empat puluh
Kejadian aneh menimpa dirinya
Mengusik kekuatan yang semakin melemah

Hatiku berdebam keras
Terbentur tanpa penglihatan pas
Seakan aku tak mampu membawanya bebas
Saat tubuhnya mulai terkulai lemas

Aku tak bisa menghukumnya
Dalam diam kata ikhlas
Bersemayam hati tanpa tuntas
Di persemayaman terakhirnya
                                                                                             (Desa Rompeng, 03 augustus 2017)


Mumi Palsu

Mumi Palsu
(Oleh: Lulu’ Ulfiya Aprilia)
Bertudung putih hitam bak kelabu
Berjalan seakan terhanyut aliran waktu
Menguntut sang pelamar nisan palsu
Dalam butiran debu
Dana sayupan sayu

Terdapat sosok kering kerontang menghimpit beku
Hamparan kaki sang sejarah
Berdesir gemiling angin putih bak menyerah
Mengkerah!
Mendera!

Serba serbih kain kusam itu mengkerah
Dalam setiap butiran gelap nan merekah
Kau datang terseret menuju sebuah arah
Mundur!
Mengitari seuah lumpur!
Menyadarkanku dala tidur!
Akankah sang mumi kendur?
Setapak demi setapak kaki berjalan terhimpit bentur
Wahai pelindung
Pelupur dosa luntur

                                                                                                                    (Rompeng, 08 agustus 2017)

Sang Petang

Sang Petang
(Oleh: Lulu” Ulfiyah Aprilia)
Di hempasan bunga malam marlena
Terhias hiru piruk keagungan semesta
Menggongkon suara seluit pandang
Entah siapakah gerangan?

Hiasan malam sunyi
Angin petang segelintir berganti
Segelintirin daun kering tersungkur
Jatuh!
Terjal!
Tergelintang lembut di aspal

Hembusa angin malam
Cepat mengibatkan sang daun terbang
Menutupi dedaunan yang hilang
Dalam nuansa hiruk piruk sang petang


       ( Cookie room, 15 Agustus 2017)                                                   

Merindukan si Dia

Merindukan si Dia
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Di sela sela malam indah itu
Terusik rindu akan sosokmu
Penuh senyum penuh tawa
Penuh semangat yang membara

Berjalan mengikutii pilu
Menuai menemukan rindu
Mengajak sang melodi tertukar
Dalam tikaman senyuman sang ab

Berujung tak terujung
Penuh bahagia nan sentosa
Sesak napas di dalam dada tak menandingi segala
Akan hadirnya sosok si dia


                                                                                                     (Dunia PinkyWinky, 05 agustus 2017)

Merindukan Senyumanmu

Merindukan Senyumanmu 
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Dalam kenangan indah kita di kota itu                                                                                        
Memberi sebuah bekas manis di hati ku
Menutupi kenangan indah itu
Ku menghibur jiwa melihat cahaya lain di bukit itu
Namun...
Wajah mu tak pernah layu dari fikiran ku
Semakin tumbuh segar membentuk bunga salju
Mengajak ku tuk memetik bunga itu di hati ku
Berlalu lalang hembusan rindu ini akan senyuman mu
Rinaian hujan moment romantis itu kembali menghujani ku
Maafkan aku jiwa
Aku tak bisa melupakan senyuman mu
Senyuman yang membuat ku hanyut dalam tegar
Memberi ku kekuatan dalam diam
Hingga senyuman itu berbisik halus di telinga ku
Di sertai desahan suara halus di raga ku
Seraya berkata...
 ‘Aku masih  merindukan senyuman mu’


                                                                                                      (Pamekasan, 23 Januari 2017)


MengenalMu melalui Al-Quran

Mengenal-Mu Melalui Al-Quran
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Keagunganku akan dirimu
Tak pernah terhenti
Kepercayaanku tentang dirimu
Tak pernah teruji

Walau sekelebat bayanganmu
Tak pernah aku nikmati
Lontaran nasehat sejukmu
Tak pernah aku resapi

Akan tetapi!
Al- Qur’anul karim
Telah cukup menceritakan kepadaku
Tentang dirimu
Tentang pengorbananmu
Melawan sekelompok berparasut kafir kelam kelabu

Al-Qur’anul karim
Tak lain adalah kitab sucimu
Seruan wahyu dari Sang iIahimu
Membawaku menuju titah lurusmu



Dalam setiap bait puisi lafadnya
Selalu tertoreh namamu
Bersanding dengan namaNya
Muhammad Rosulullahh...”

Begitu indah nama itu,
Menggetarkan aliran darah
Setiap hentakan denyut nadiku       
                                                                                      

                                                                                       (Pamekasan, 14 agustus 2017)

Kematian Sang Ayah

Kematian Ayah
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Kamis, dua puluh delapan junu
Hari kematian ayahku
Kutampik kenyataan seakan tak percaya
Tubuhku gemetar!
Air mataku terhempas berjatuhan!
Seraya berteriak
“Ayah!”
“Ayah!”
“Ayah!”

Langkah kaki tak bisa ku pelankan
Emosiku tak mampu ‘ku stabilkan
Melihat sosok ayah terbaring lemah dengan ikatan kain putih

Seluit pedang seakan sedang menghunus dadaku
Sakit!!
Perih!!
Pedih!!
Menghujam diriku tanpa ampun

Butiran air mata duka itu tak henti mengalir deras di pipiku
Mengiringi duka beku di Selubuk hatiku!  
Roh jiwaku bersenandu kelam bak kelabu
Di hari kematian ayahku

                                                                                                          (Pakong, 03 agustus 2017)

Harapan Kepada Sang Hujan

Harapan Kepada Sang Hujan
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Hujan...
Bisakah kau diam sebentar
Akuu tak kuat menahan
Basahmu
Sejukmu
Yang kau siramkan ke seluk beluk pori-poriku

Hujan...
Bisakah engkau iba
Melihatku menggigil
Bibir putih
Wajah pucat pasi menahan kedinginan yang kau oleskan

Hujan...
Bisakah kau kemari
Menjemput semua lara yang kau beri
Membawanya pergi
Mengobati tubuh ini

Hujan...
Bisakah engkau datamg
Ketika pagiku melai petang
Membentang lautan yang menderang
Di sertai angin sepoi-sepoi yang menewan

Hujan...
Akankah kau mendengarnya
Bisikan harap sejuk dariku
Akan hadirmu
Disela-sela bisu

                                                                                                (Pelataran hijau, 01 agustus 2017)