`cursor

Rabu, 16 Agustus 2017

Secangkir Cerita Indah di Kota Surabaya

Secangkir Cerita Indah di Kota Surabaya
                                            (Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Kring kring kring.... iya halo Assalamualaikum, mbak sofi?. Seorang gadis cantik berwajah arab mengangkat telephone itu, yang tak lain adalah aku. “Iya adek, aku selasa ikut test TOEIC  di Surabaya.Kalau kamu jadi yang mau beli buku nanti bareng saja. Kita berangkat hari senin, menginap dulu satu hari di kos Bangkalan dan hari Selasanya kita cus berangkat subuh. Gimana? Jadi gak?.” Ucap mbak sofi mengutarakan maksudnya itu. Aku memang pernah mengajak mbak sofi untuk beli novel atau semacam buku gitu lah ke sana. Namun akhir akhir ini dia sibuk dan dia bisanya sekarang. Oh iya aku lupa belum menjelaskan siapa itu mbak Sofi. Nama lengkapnya sih Shofia Asri, jurusan Sastra Inggris. Awal ketemu plus kenal ketika pelajaran di mata kuliah pilihan EFB (English For Bussiness) semester III dan berlansung sampai saat ini. “oh gitu, okey mbak aku ikut. Jadi aku tunggu kamu selesaikan test TOEIC dulu setelah itu kita perki ke toko buku?” Jawabku memperjelas penjelasannya. “Mutemmuh senin ya...! Assalamualaikum..” ungkapnya padaku. “Waalaiikum Salam. Ku tutup telephone itu dengan membalas salam darinya.
            Hari senin pun tiba. Di waktu subuh pagi pagi sekali, sang fajar kemerah merahan belum menyelesaikan pekerjannya. Seraya di riuhkan oleh suara kok ayam jantan yang sedari mulai jam 03 pagi telah bangun seraya membangunkan orang orang dari malam tidurnya untuk beribadah kepadaNya, tiba tiba bunyi riuh di subuh itu semakin menggelegar mengalahkan lantunan ayat ayat suci yang senantiasa setiap paginya para santri membacanya secara istiqomah.
Kring... kring... kring... bunyi suara riuhan itu berasal dari handphone ku yang sedari tadi berbunyi. Aku segera mengangkatnya ternyata paggilan itu berasal dari mbak sofi, dia menghubungiku kembali di pagi hari keberangkatan itu. “iya mbak ada apa?” tanyaku dengan jelas serta di penuhi rasa penasaran, “Gini dek, kamu mau berangkat jam berapa ke terminalPamekasan?” tanya nya pada ku. “oh itu, sepertinya jam 08.00 mbak. Soalnya di sini jam 07 masih tidak ada taksi menuju Pameksan” jawabku dengan jelas. Pamekasan adalah kota di desa ku.
 Melakukan perjalanan ke sana membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai pas dengan menggunakan kecepatan yang maksimal. “owh, gitu dek. Okay jam 08.00 ya. Nanti kalau sudah sampai di Pameksan hubungi mbak ya, jangan lupa biar mbak langsung ke terminal. Kita ketemuan di terminal kan? Tanyanya lagi. “Iya mbakku sayang... hehehe Unch” balasku sambil meledeknya. “Iya sudah dulu ya, aku beres beres dulu persiapan berangkat jam 08.00. aku tutup telponnya ya. Assalamualaikum” tegas ku padanya. “Waalaikum salam” jawabnya.
            Tepat jam, 05.30 aku mulai merapikan dan melipat 1 pasang bajuku yang sudah aku persiapkan kemarin sore bersam adek bungsuku yang nomer dua. Aku tak banyak membawa barang bawaan, hanya sesimple hari yang akan aku lalui. Setelah di fikir fikir membawa baju dua pasang termasuk yang di pakai sudah cukup dan memadai untuk di gunakan dalam perjalanan dalam kurung waktu tiga hari. Setelah aku mempacking semua kebutuhan yang aku membawa, ternyata tas yang aku bawaitu penuh dan berat sekali. Sehingga aku memutuskan untuk mengecek ulan barang bawaan ku sekali lagi, ya dan pada akhirnya masih penuh dan berat seperit semula tidak adaperubahan. seua barang-barang  yang memenuhi tas berwarna cokelat ke abu abuan itu tetap penuh dan tidak ada yang perlu untuk di keluakan lagi. Akhirnya, dengan berat hati aku harus membawanya, bagaimana pun itu.
Disela-sela kesibukan mama membereskan  rumah di pagi itu, ternyata mama memperhatikna ke sibukan yang aku lakukan. Mulai dari mandi, packing, dan make up. “Keburu ya luk?” tanya mam kepada ku. “Iya ma, lulu harus cepat cepat karena jam 08.00, lulu harus sudah berada di dalam taksi menuju Pamekasan.!” Jelasku kepada mama secara detail. “Sarapan dulu yah, lulu kan gak puasa.” Rayunya lagi di penuhi rasa khawatir. “hmmm... gak usah Mama, lulu sudah kenyang, lulu sudah sarapan roti tadi pagi dan lulu juga nanti mau beli roti pas di jalan.” Jelasku kepada Mama.  “Hati-hati ya...” ucap Mama dengan nada khawatir seraya ku mengecup kening Mama sebagai tanda bahwa aku baik baik saja. Kecupan kening itu sudah terbiasa aku berikan padanya.
“Assalamualaikum” aku berpamitan keluar dari pintu gerbang rumah yang di sana kakak kandungku sedang menungguku disana dengan pintu gerbangnya. Lambaian tangan dan kecupan kiss bye sudah terbiasa aku lakukan ketika sepeda motor yang membawaku mulai membawaku jauh dari gubuk kecil itu.
Bandungan merupakan nama desa yang terbiasa di jadikan tempat untuk menunggu taksi di sana. Pada saat itu, tidak begitu banyak penumpang yang antri menunggunya, hanya satu ibu yang menemaniku menunggu taksi itu. Anehnya, di pagi yang cerah itu tidak ada satupun taksi yang bersedia untuk menumpang dan membawa kami berdua ke tempat tujuan, tidak seperti hari hari biasanya para supir serta kernet saling menyaringkan suaranya meneriaki para penumpang untuk berbondong bondong masuk dan menjadi penumpangnya.
Entah ada apa dengan pagi ini, aku tidak mengerti. Pastinya aku hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada-Nya. Mungkin ini  semua sudah yang terbaik kepadaku. Sekitar 2 menit lebiih aku sudah berdiri di tepi persimpangan jalan itu, menunggu taksi yang tak kunjung datang dan hal itu membuat kakiku sedikit lelah dan penat seakan mengajakku untuk beristirahat sejenak.
Aku mencari tempat duduk di sekitar sana dan ternyata di sebelah timur terdapat balkon kecil dan cukup untuk tempat duduk dua orang. Aku dudk di balkon itu untuk menghilangkan rasa penat dan pandanganku tetap terpaku mengawasi jalan rasa pedesaan itu. Angin sejuk itu menembus kerudung pink rabbani yang aku pakai untuk menutupi auratku dan kepalaku terbang terbang begitu saja.
Aku mencoba untuk menepisnya, namun entahlah anginnya sangat kencang pagi itu sehingga akupun tak kuasa untu menepisnya. “Adek mau kemana?’ tanya ibu itu menyadarkanku dari kegelisahan akan angin itu. “saya mau ke Pamekasan ibu. Ibu sendiri mau kemana?. Jawabku serta melontarkan pertanyaan yang sama kepadanya. “ibu mau ke Rumah Sakit nak. Oh iya itu tadi suamimu ya?. Pertanyaan yang mengkagetkan diriku dan membuatku bergumam di dalam hati, “Ha? Aku? Suamiku?. Apa wajahku wajah anak yang sudah cukup untuk menikah? Bukankah wajahku masih unyu? Oh my GOD, kok bisa ya???. “Ehemmm,.. hehehe bukan ibu, dia kakak kandungku. Saya belum menikah kok.” Jawabku dengan jelas dan mendetail. Ibu itu hanya merespone dengan di sertai satu kali anggukan kepala yang berarti dia mempercayainya.
            Tiiit... titiiiiit... tiiiiit.... bunyi klakson taksi itu membuyarkan lamunanku. Entah apa yang aku fikirkan waktu itu yang pasti pertanyaan ibu tadi itu sedikit menggangu pikiranku. “Dek, hayo taksinya sudah datang.” Ajak ibunya dengan wajah tersenyum tanpa rassa bersalah sedikitpun. Mungki ini hal sepele namun aku mikirnya terlalu serius. “Oh iya bu, mari silahkan.” Jawabku kepadanya.
Sambil menunggu ibu itu menaiki taksi itu, aku melihat isi penumpangnya penuh atau tidak, ternyata tempat duduk bagian belakang belum terisi dan bisa di kami tempati berdua, lumayanlah luas tidak begitu sempit. Di tengah tengah perjalanan itu, aku sempat berfikir akan keeranian diriku, taksi sendirian tanpa di temani satupun kawan dan itu  membuatku bangga tapi aku langsung menepis fikiran itu karena aku di kagetkan dari dorongan keras ibu ibu yang aru menaiki taksi itu dan memintaku untuk menggeser sedikit dan dia mulai menggatikan tempat dudukku yang nyaman itu.
Awalnya aku jengkel banget waktu itu, namun aku tiba tiba ingat pada ayat alquran yang berbunyi “فصبر الجميل” yang artinya “Orang sabar itu cantik”, aku mencoba untuk membenarkannya di dalam hati seraya bergumam “Oh iya ya, kan aku ingin cantik, jadi aku harus sabar dong. Sabar... Sabar...” ucapku sambil mengelus ngelus dada di sertai dengan tarikan napas sedikit dan mengeluarkannya. Lumayanlah melegakan hati. “Alahmdulilllah ya Allah, akhirnya aku bisa jalan jalan ke Surabaya bersama mbak Sofi. Terima kasih wahai dzat yang maha  Rahim telah mengabulkan keinginanku. Semoga seua ini tidak terlepas  dari berkah dan perlindunganMu. Amin” ucapku seraya tersenyum ke luar jendela taksi itu.
            “Neng, mau turun dimana?” tanya abang kernet itu kepdaku. “oh ini sudah di pamekasan ya bang?, saya turun di Golden Sweet saja dekat terminal lama.” Ungkapku kepada abang kernet itu. Tak lama kemudian abang kernet itu memberi aba aba untuk berhenti kepada akang supir itu. “Kiri, kiri, kiri, kiri stop.” Sambil membuka separuh pintu mobil taksi itu dengan kaki yang bergelantungan diatasnya tanpa rasa takut ia segera turun dari pintu yang sedari tadi terbuka. “Nemg, sudah sampai.” Tegasnya kepadaku. “Berapa bang?.” Tanyaku seraya meraba dan mengambil dompet kecil di tas pinky kesayanganku itu. “5.000 cukup neng.” Jawabnya. Aku memberikan ongkos taksinya dengan segera, karena sang supir sudah keburu untuk meningalkan tempat pemberhentianku itu. “Baik kang, terima kasih banyak atuh.” Je;asku padanya. Tanpa menjawab ucapan terima kasihku itu, siAbang kernet langsung menaiki taksi itu bergelantungan lagi ke pintunya dan melakukan hal seperti semula sebelu aku turun dari taksi itu.
            Setelah turun dari taksi, tepat pukul 09.00 pagi saya sampai di Pamekasan dan segera menyebrangi jalan menuju mall di seberang jalan. Sambil meletakkan handphone di telinga yang sedang mnghubungi mbak Sofi memberitahukan kalo saya sudah sampai. Namun entah kenapa pagi itu matahari begitu menyengat sekali sehingga ku harus berteduh di bawah pohon dekat dengan bapak bapak tukang ojek Bentor (Becak Motor) yang mana mereka semua pada menawarkan diri untuk mengantar saya ketempat tujuan. “Neng, neng berkerudung pink, mau kemaan atu? Hayo bapak antarkan ke tempat tujuan, panas sekali sekarang neng, gak baik buat kulit neng nanti. Hayo naik ke bentor bapak?.” Aduh ampun banget deh waktu itu, “iya Pak, terima kasih. Maaf teh, saya gak mau naik bentor, saya disini lagi tungguin kawan saya mau pergi ke Surabaya.” Jelasku kepada bapak bentor yang menawarkan tadi. “owalah, ok dah neng, maaf sudah mengganggu.” Jelasnya dan beranjak pergi meninggalkan aku bersama teman-temannya.
            Sesaat kemudian, mbak sofi sms aku. Dia bilang kalau dia baru keluar dari wilayah pedepokan menuju terminal Pamekasan. Jarak dari pedepokan Pamekasan ke terminal Pamekasan lumayan jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk di tempuh. Sehingga aku memutuskan untuk memasuki terminal itu sambil jalan kaki sendirian. Di dalam terminal itu tidak seramai yang aku duga.
Ketika aku mulai memasuki gerbang terminal itu, terdapat 3 penjaga polisi keamanan yang sedari tadi duduk santai sambil mengawasi para konduktur bus yang silih berganti mondar mandir keluar masuk terminal. Aku mulai memberanikan diri berjalan sendirian di depan para polisi keamanan di depan kantor dengan memasang wajah percaya diri bagaikan seseorang yang sudah berpengalaman dan sering keluar masuk terminal Pamenkasan.
Akupun semakin mempercepat langkahku ketika aku telah melewati separuh dari terminal itu. Eh ternyata, di tengah pojok terminal terdapat warung kecil yang sedang melayani pembelinya. Astaghfirullahiladzim, tiba tiba muncul tanda tanya besar di fikiranku mengenai warung yang buka di bulan Ramadhan. “Kenapa di perbolehkan ole petugas keamanan yang menjaga disana.” “Ah sudahlahlah, mungkin mereka melayani buat anak anak keci atau penumpang yang baru selesai dari perjalanan jauh jadi kan mereka gak puasa.” Tegasku lagi. Aku mulai mengalihkan perhatianku dari warung itu menuju tempat tunggu terminal. Aku menuju ke sana, sepi sekali. Mungkin karena bulan puasa yang mudik atau yang melakukan perjalanan hanya minoritas saja.
Entahlah, apapun itu, aku sekarang hanya memfikirkan bagaimana perjalanan nanti, dan aku mau beli apa saja di sana. sedari duduk santai aku mengambil headset dan mendengarkan lagu dengan santai di sana sambil memperhatika sepeda motor yang baru datang, menunggu mbak sofi khawatir dia tidak melihatku.
Tuga puluh menit lebih enam koma lima detik aku telah menunggu mbak sofi akan tetapi dia tak kunjung datang. Aku mencoba menghubunginya kembali akan tetapi dia tidak mengangkatnya. Jam sudah menunjukkan ke pukul 10.00 dan matahari semakin memancarkan sinar ganasnya yang sangat panas sekali. Banyakorang lalu lalang berlarian menuju tempat tunggu berjejer dengan cat berwarna biru tua yang sedang aku duduki sendirian di tempat duduk panjang itu. Sesaat kmeudian, aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasiku dari jauh.
   Aku tidak mengerti kenapa dan mengapa  dia mengawasiku, lebih tepatnya aku merasakannya. Karena aku penasaran siapa gerangan itu, aku coba menoleh kebelakang ku, ternyata terdapat sosok lelaki muda berpakaian ala preman pasar dengan rambut di cat tiga warna; biru, kunig langsat dan merah dengan model rambut ala mocong ke atas dan celana jeans bolong bolong yang dilengkapi dengan aksesoris rantai melinkar di daerah lututnya.
Tubuhku mulai merinding melihatnya dan perasaan was was mulai mengahntui diriku ini. Aku mulai memasuki satu persatu handphone kecil dan android yang sedari tadi aku pegang untuk mendengarkan musik dan handphone kecil satunya menunggu telephone dari Mbak sofi yang tak kunjung sampai di terminal. Setela aku memasuki semua handphoneku satu persatu beserta headsetnya, akupun menutup seleret tasku dengan berhati hati sekali dan ku pegang tasku erat sekali. Beberapa saat kemudian, aku mulai menoleh kebelakang lagi untuk memastikan lelaki aneh itu sudak tidak mengawasiku lagi dan aku berharap dia sudah menghilang jauh dari terminal itu. Ternyata dia sudah tidak ada. Sesaat kemudian ada sosok seseorang dari belakang menuju tempat duduk ku. Dan benar ternyata...
“Hi.. apakah kau sedang mencariku,” sentaknya mengkagetkan aku. Mataku langsung membelalak kaget tak karuan. Jantungku berdegup kencang sekali seakan mau copot dan aku pun tak bisa menggerakkan kakiku menoleh kebelakangpun aku tak bisa. Dan kubiarkan itu semua berlalu. Namun aku tetap tak berani menengok ke belakang, yang pasti dia perempuan. Gumanku dalam hati. Tiba tiba aku kembali teringat akan seseorang yang ku tunggu,
“Ha.. Mbak Sofi??? Akupun langsung menoleh kebelakang dan ternyata itu dia. “Allahu Akbar, kenapa kau mengakgetkanku. Memangnya tidak ada cara lainyah untuk menyapa selain dengan cara seperti ini?” ujarku dengan nada sebal dan marah. “hehhe, sorry...yup. aku niatnya mau memberi surprise saja , biar ada kaget kagetnya gitu. Wkwkwk” ucapnya dia sambil cengegesan.
“Aduh mbak, kamu tambah cakep saja.” Pujiku kepadanya.
“Iyakah? Perasaan enggak deh. Kamu aja mungkin yang lebay qiqiqi..”
“Enggak mmbak aku beneran, kamu tambah gemuk, dari sebelumnya.”
“iya tau, yang sudah sekian lama tidak bertemu dan menyimpan rindu dalam, makanya seperti                 ini nih reaksinya. Lebay!!!.” Ujarnya lagi sambil tersenyum sinis.
“ya sudah mbak, hayo kita cai bus.”
          “Okelah hayo kita kesana.” Sambil menunjukkan jarinya ke arah sebelah barat tempat barisan bus bus ynag sedang menunggu para penumpang datang.
     “ Dek, kita ikut bus ini saja ya,.” Sambil menunjuk ke bus mini berwarna biru
     “Ok mbsk. Wah kebetulan tuh kursi depan kosong. Kita di depan aja ya..” jawabku
      “Boleh...”
Perjalanan dari Pamekasan ke Bangkalan memang menghabiskan waktu yang relativ cukup lama jauh dan melelahkan. Sehingga ketika kita sudah sampai di daerah kamal tepatnya di pertigaan kampus kami UTM (universitas Trunojoyo Madura) k ami merasakan lelah dan penat yang begitu mengkoyak koyak tubuh kami.
Wajah lusuh dan kusam terpancar dari wajah kami disertai dengan cuaca yang sangat panas sang matahari membuat kami serasa begitu tidak memiliki energi lagi untuk berjalan menunggu jemputan dari kawan kami. Sambil menahan beban tas berat di pundakku aku mencoba berjalan tertatih tatih sedikit demi sedikit sambil mengumpulkan separuh energi dalam tubuh yang telah terkuras dalam perjalanan mencoba aku kumpulkan kembali untuk memberikan kekuatan untuk berjalan dan melanjutkan perjalanan tersebut. Tiba tiba ada seseorang yang memannggil kami dengan teriakan cukuo keras dan lantang...
“Neng, bentor neng?” teriak lelaki tua separuh baya itu kepada kami sambil menunjukkna bentornya.
“Oh, tidak usah pak, kami di jemput teman” jawabku sedari duduk di emperan samping jalan di bawah pohon kersen yang rindang mencoba bersembunyi dari sinar matahari.
Bapak itu tidak bersuara lagi ketika kai telah menjelaskan bahwa kami sedang tidak membutuhkan jasanya beliau. Mereka kembali melanjutkan percakapan mereka si emperan jalan tersebut di bawah sebuah gazebo kecil yang tak lain adalah pangkalan bentor yang telah di sediakan di sana.Sesekali saya mendengar percakapan diantar mereka.
” Kemana ya para Mahasisiwa kok pada sepi hari ini.” Jelasnya.
“Yaiyalah sepi, sekarang kan mahasiswa pada pulang semua cang. Jadi wajarlahlah.” Jelasnya bentor oleh salah satu bapak bentor yang juga nongkrong di sana.
“jika samapai sore tidak ada penumpang, aku pulang.” Respon bapabentor satunya.
Tidak lama kemudian, suara tawa terbahak bahak mulai memenuhi pangkalan bentor itu. Kami yang sedari tadi hany diam sambil melihat ke arah timur menunggu teman kami yang akan  menjemput, juka ikut tertawa, terbawa suasana yang ada di sana. Entah apa yang membuat mereka tertawa disana akupun tak tau. Lebih jelasnya aku juga ikut bahagia mendengar cekikikan mereka semua.
            “Halo,Assalamualaikum nur kamu ada di mana?” ucap mbak sofi lewat telephone gengamnya sambil memegang dedaunan yang jatuh dan mengukir ukirnya ke dalam tumpukan debu di seberang jalan yang kami duduki
“Oke nur, kita tunggu di bawah pohon kersen ya. GPL (GAK Pakai Lama) ya nyah[1]..” ledeknya dengan nada sinis mengalir di telephone genggam itu sebelum dia menutup telephonenya. Aku cukup menengerti rasa lelah dan letih yang sedang menggeluti jiwa dan raga kami di siang hari itu.
Satu menit berlalu, dan akhirnya yang kita tunggu tunggu mulai dari tadiakhirnya akhirnya datang juga. Bunyian klakson sepeda motor itu seakan menyirih wajah kami yang awalnya kusut murung ketih, menjadi berbinar binar seakan bercahaya. Itulah kehebatan klakson sepeda motor itu pada waktu.
“Tittttt... ttiiiiiiiit... titiiit...” sambil tersenyum seseorang itu membawa sepeda mototrnya mendekati tempat kami beristirahat sedari tadi. Akan tetapi, tiba tiba ada hal aneh yang terjadi. Ternyata yang menjemput kami itu buaknlah seseorang yang sedari kami teelphone akan tetapii orang  lain wanita lain. Keterkejutan itu bukan hanya di rasakan oleh ku akan tetapi juga di rasakan oleh mbak sofi. Dengan rasa penasaran yang mengelabuhi pikiran kami, pada akhirnya mbak sofi pun yang melontarkan sebuah pertanyaan kepada waniat itu.
“Adek, kenapa kamu yang jemput kami kesini? Maksud kami, si Nur mana? Bukankah dia yang akan menjemput kami ke sini?” Tanya mbak sofi dengan ekspresi ragu terlukis di wajahnya.
“Oh iya mbak. Mbak Nur yang menyuruhku untuk menjemput kalian disini. Kuci sepeda motor mbak Nur hilang. Akhirnya dia menyuruhku untuk menjemput kalian disini.” Jelasnya kepada kami dengan wajah tersenyum.
“owalah, kokk bisa ya.. ok dah. Hayo kita berangkat. Nanti kita makin gosong berjemur disisni.” Ujar mbak Sofi dengan canda tawanya.
Kita mulai menaiki sepeda itu. Aku duduk di bagian tengah dan mbak Sofi di belakangku. Akhirnya kami sampai dengan selamat di tempat tujuan pertama yaitu menginap semalam di kos teman. Sesampainya disana, aku langsung istirahat siang sebentar bersama mbak Sofi dan berencana untuk pergi ke kampus dengan menggunakan sepeda ontel bersama sama untuk memburu wifi disana. Itulah kebiasaan yang kami lakukan ketika kami sedang mengalami krisis paketan internet.
Sore itu udara sangatlah bersahabat sekali dengan kami. Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan dari apa yang kita lakukan dalam kebersamaan kita kecuali tertawa riang sambil menaiki sepeda ontel bersama sama. Aku dan mbak Sofi memili kesamaan sedikit. Kami sama sama suka hunting picture[2] dan juga pergi ketempat tempat yang memiliki panorama indah yang alami. Tak jarang bagi kita untuk menghabiskan waktu seperti itu, apalagi bermain kebut kebutan di jalan raya kamous sambil tertawa dan memainkan bel sepeda kami masing masing.
“kring.. kring... kring...” itulah bunyi yang sangat kita populerkan sampai saat ini. Canda tawa terlepas di saat kita bermain bersama. Malam akhirnya pun tiba dan fajarpun tak terasa telah muncul tanpa aba-aba. Pagi itu cahaya sangat mengusik kesibukanku. Aku yang sedari tadi malam sibuk menyusun berkas-berkas abstrak lomba jurnal dari institute bahasa, namun aku tak kuat menahan kembab hitam di mata, kantung mataku seakan penuh dengan air ketika aku mulai menguap.
Yah itulah sebabnya aku telat mengirimkannya tadi malam dan hari deadline pengumpulan. Selain itu, paketanku juga tidak penuh dan tak bisa untuk mengirimkannya di kosan puteri tempat penginapanku. Di waktu subuh, ketika sang fajar belum menghilangkan sinarnya, aku dan mbak sofi keluar bersama menggendarai sepeda ontel melaju bersama sampai di depan GSC dekat ATM bersama. Aku sembari duduk menikmati jaringan wifi di pelataran gedung itu sambil menyaksikan lengsernya sang fajar di sela sela awan malam itu menjadi cahaya terang gemilang dan sang matahari siap untuk melaksanakan tugasnya.
Asyik sekali pagi itu. Tiga puluh menit berlalu, kicauan burung di setiap dahan pohon itu seakan sedang menyaksikan kesibukan kita di sana. hembusan udara pagi sejuk itu mulai menyeruak penuh lubang hidungku dan membuat perutku berbunyi “kryekkk..kryekk..” bunyi itu sedikit mengusik perjalananku menuju kosan itu tapi kegemiraanku menghilangkan segalanya. Ahh sungguh menyenangkan sekali pagi itu.
“Dek, kamu mandi duluan ya. Saya masih mau memotong rambut teh Lia di kosan sebelah.” Ucap mbak sofi sambil menaruh sepeda berwarna pink yang kami pinjam di pelataran kosnya.
“Oke, tapi lulu masih mau sarapan dulu mbak, mbak nur menyuruhku untuk menghabiskan sisa makanan sahur tadi pagi.”ungkapku.
“Iya, sana cepetan masuk keuru matahari terbit” jawabnya dengan mengetok-ketok pintu kost teh lia.
                 Setelah sampai didepan kost, seperti biasa aku melepas sandalku dan  langsung menuju ruang dapur untuk mengambil sisisa kudapan lezat tadi malam sembari memasak sebuah mie instant pemberian mak sofi yang tidak sempat untuk dimakan ketika sahur tadi pagi.
            Aroma lezat mie instant itu sangatlah menggiurkan. Tak berpikir lama, aku langsung menyantapnya dengan lahap. Lumayan mengisi perut yang sedari tadi keroncongan karena di kuras setelah jalan-jalan menggunakan ontel bersama. Nikmat lezat serta mienya tersa lembut sekali di mulut. Mie dan nasi jagung itu pun sudah habis, akupun merasa haus sekali. Sehingga ak beranjak dari tempat dudukku tadi mengambil sebuah mug kecil berwarna pink yang aku tersimpan rapi ditempat perabotan dapur dan membawanya menuju sebuah galon. Aku sodorkan sebuah mug kecil pink itu ke bibir galon dan mulai memutarnya perlahan. Setengah air mulai mengisi ke sela-sela ruang kosong mug itu dan memenuhinya. Akupun segera berhenti memutanya dan mencari tempat untuk duduk serta mulai meneguk air di dalam mug itu perlahan. Alhamdulillah terasa segar dan menyegarkan sekali. Melegakan.
            Akupun langsung pergi ke kamar mengambil sebuah handuk kecil berwarna pink dan membawanya ke kamar mandi. Udara di pagi itu sangatlah dingin sekali. Sesekali aku menggigil ketika aku tumpahkan sebuah gayung kecil berwarna hijau lumut yang berisi air penuh itu ke bagian kakiku terlebih dahulu. Menyiram kaki terlebih dahulu ketika akan mandi menrupakan salah satu sunnah Rosulullah SAW yang memang dianjurkan untukk dipraktekan ketika kita mandi. Ahli kesehatan juga menjelaskan manfaat yang di hasilkan oleh metode tersebut adalah menghilangkan efek shock di tubuh yang di hasilkan dari dinginnya air yang mulai mebalut dan menyentuh tubuh kita secara tiba-tiba. Sungguh segar sekali mandi di waktu subuh itu. Laksana membangunan sang semnagat dan kekuatan yang bersembunyi dalam tubuh serta merilekskan otak yang sedari semalam di gunakan untuk melakukan beberapa aktifitas yang melelahkan dan tidur.
            “Dek luk?” suara keras bak sofi mulai memnuhi isi kost itu.
               “Iya mbak? Aku di kamar mandi. Ucapku sambil menggosok gigiku yang masih penuh dengan buih busa di mulut.
               “Ok. Cepetan ya dek. Sudah jam enam kurang tiga puluh lima menit” ucapnya seraya menaiki tangga kaamrku itu itu.
             “Iya, iya. Aku hampir selesai kok. Tinggal mengambil wudhu sebentar” balasku dengan mengambil sebuah handuk pink yang sedari tadi aku menggnatungnya di gantungan baju kamr mandi itu.
Beberapa menit kemudian, akupun keluar dari kamar mandi itu dan mulai menyusul mabak sofi ke kamar. Aku lihat bak sofi sedang menggosok sebuah baju batik berwarna oranye tua dengan di hiasi buanga bunga berwarna putih dan hitam yang indah serta memnuhi kain oranye tersebut. Seperti ciri khas batik Indonesia.
“Mbak sof! Hayo mandi sana. aku sudah selesai. Ucapku sambil mencoleklengannya yang sedari tadi bergoyang goyang menggosok pakaiannya.
“Owalah, kamu sudha selesai. Ini kala kamu mau menyetrika pakaianmu” sembari menyodorkan sebuah besi kecil dengan di lapisi alumunium berwarna biru di atasnya yang di lengkapi dengan besi panas serta sebuah colokan kecil yang menyatu dengannya. Dengan dilengkapi sebuah parfum pelicin pakaina kisprey yang sedari di gunakannya.
“Ok thank you” ucapku dengan sekilas senyuman manis di wajah.


Mbak sofi dengan segera menuju kamar mandi. Akupun mulai mengambil baju musliah jubah levis terdapat motif corak bunga berwarna dongker dan putih mengkombinasikan warna cocok di dalamya dan aku bentankan diatas kain selimut yang memang telah di siapkan sedari tadi untuk alas baju setrika. Kerudung rabbani pink tak lupa juga aku menggosoknya denga semprotan parfum kisprey yang semerbak anggun aromanya semakin menambah perasaan gembiraku pagi itu.
 Sesaat kemudian akupun mulai menempelkan kain itu ketubuhku. Setelah itu waktunya berhias. Aku mengambil pelembab pagi wardah dari tas berwarna cokelat dan abu-abu yang di berikan pamank ketika aku masih SMA. Aku memencetnya dan menempelkanya membentuk sebuah bintik bintik kecil yang memenuhi wajahku dan mulai mengusapnya dengan lembut. Setelah fondation wardah itu sudah selesai, aku mulai mengambil bedak padat yang dua minggu yang lalu aku membelinya bersama ibuku di mall Golden sweet kota Pamekasan-Madura. Di tambahkan dengan hiasan hitam sedikit di bawah mata akupun siap berangkat dengan disertai peutup khas kepala balutan kain rabbani pink di kepala.
“Mbak sofi... I’m ready to go”[3] teriakku dengan menuruni anak tangga kost puteri itu.
“Okay, come on go”[4] bala mbak sofi dengan teriakn yang lebih lemut yang keluar dari mulutku kepadanya.
“Persyaratannya sudah kamu masukkan semua ke dalam tasmu?” tanyaku dengan sopan.
“sepertinya sudah dek. Bentar saya cek lagi!” membuka retsliting tas gendongnya kembali sembari mengecek persyaratan dan peralatannya yang di perlukan.
“Oh iya dek, mbak minta nomer kamu ya.buat pesan grab car nanti” pintanya dengan tenang.
“siip beres boss!!!” balasku seraya ketawa lucu bak menggodanya
“Ya sudah. Hayo berangkat Bismillah!!” sembari mengangkat tas hijaunya yang bertuliskan semangat dan meletakkan di bahunya.
Kamipun berpamitan kepada tiga orang ukhti yang masih berada di kossan itu termasuk mbaknur.
“Oke. Hati-hati ya..” ucapnya dengan tulus.
“eh dek luk! Kamu jangan nakal nakal ya di Surabaya” perintah dia sembari di ikuti dengan wajah melotot yang kemudian disusul dengan ketawa genit di wajahnya.
Tak lama kemudian, suara klakson sepeda motor dan teriakan itu menyelessaikan canda tawa kita di kost an itu.
“Hayo berangkat. Ntar di tinngal sang kapal nahkoda loh di pelabuhan tercinta” teriak teh dila di luar kost puteri itu.
“Aha! Oke hayo mbak Nur!” jelasku.
“Assalamualaikum!” ucap mbak sofi sambil melambaikan tangannya dan menutup pagar besi berwarna putih yang sudah mulai berkarat berwarna hitam kecokelatan.
“Eh dek luk! Jangan lupa oleh olehnya ya. Kalau kamu tidak membawa oleh-oleh ketika balik, kamu tidak boleh tidur di kostan ini!” sambatnya dengan wajah sinis nan cekikikan aneh dari nya.
“Ehem.. bodo amat! Tak bawain kerikil Surabaya dah” balasku di sertai lidih melet-melet kepadanya.
Mbak Nur memang begitu akrab denganku. Kami kenal dekat dari organisasi keislamanku. “Al Azzam” di kampus. Dia yang memiliki sebutan nanma Nur Hasanah itu memliki charakcteristiktik, asyik, baik, religious dan juga jutek. Dia juga orangnya asyik suka membantu tapi gak suka dibantu. Yah itulah sifatnya dia. sifat yang membuat kami menyanyanginya.
Mbak dila mulai menancapkan gasnya dengan sangat cepat. Semburan angin dingin dantiupan udara sejuk menjadi selimut di dalam perjalan  kami menuju pelabuhan Kamal, yang biasa di sebut sebagai “Bahari Kamal”. Di setiap perjalan menuju Pelabuhan, aku perhatikan jalanan tidak begitu ramai. Pagi itu sebagian orang masih menepis tidurnya atau menyiapak sarapan lezat buat keluarganya. Akupun tidak meliha tanak anak sekolah memenuhi jalanan kamal itu. Sesaat kemuadian, aku melihat ke arah mbak sofi yang sedari tadi diam di perjalanan.
“Mbak, kerudungmu! Sedikit miring kena tiupan angin” ucapku kepadanya dengan mengulurkan jari telunjuk kananku ke  kerudungya.
“ Oh iya, punya kamu juga. wkwkwkkwk” balasnya sembari tersenyum kepadaku.
Kami tidak bisa merapikan kerudung kami di atas sepeda motor yang sedang melaju itu. Karena mskipun kami telah mencoba memperbaiki, kerudung kamipun rusak kembali. Hal itu disebabkan oleh hembusan angin kencang di setiap perjalanan.
Sesaat kemudian kami tida di pelabuhan kamal. Ini merupakan hari kedua kalinya aku menginjakkan kaki di pelabuhan ini. Walaupun aku penduduk asli Madura, namun aku jarang menggunakan jasa kapal pelayar untuk menyebrangi lautan.  Begitu senangnya diriku saat itu. Mbak dila segera membawa kami menuju loket pembelian tiket yang seharga 5000 tiap lembarnya. Setelah administrasi selesai dia langsung membawa kami berdua menuju ke sebuah pohon rindang dekat lokasi kapal itu mulai berlabu.
Jam enam lewat empat puluh lima menit, kami tiba di sana. banyak sekali orang-orang yang berminat menggunakan jasanya di pagi itu. Udara pagi semakin indah ketika kami mulai menapakkan kaiki di tanahnya. Desiran ombak biru nan kelabu menghantui semilir angin sejuk memenuhi kebahagiaan jiwaku.
“Wah, ternyata kapalnya masih belum datang mbak sof” ucap bak dela sambil melihat keadaan di lautan itu.
“Iya dek dil, masih belum ada. Ya suda kita tunggu disini dulu ya” balas mbak sofi sambil mengajak kami duduk menunggu di sebuah got dibawah pohon rindang itu dekat laut.
Fabiayyi Ala irobikuma tukadziban...suasana pagi itu sungguh berbeda dari hari sebelumnya. Aku pun tersenyum menyaksikan sang matahari baru muncul dari orbit persembunyiannya. Cahaya itu terpancar terang tertuju ke sudut arahku duduk. Terlukis sinar emas di bagian depan kerudung pink yang sedari tadi aku memakainya. Aku pun terusik akan kesialuan cahaya itu. Sedikit aku mulai mengernyitkan dahiku dan mensipitkan mataku menahan arus cahaya gemilang indah itu.
Sesaat kemudian, lamunan indah itu buyar oleh sentuhan lembut sebuah tangan seseorang ketangan kananku.
“Dek luk! Kapalnya sudah datang. Mbak balik duluan ya.” Sapanya kepadaku. Dengan gengaman erat tangannya yang masih melekat erat di tanganku.
“oh iya mbak. Sudah datang? Ok. Hati hati ya. Terima kasih mbak” balasku dan sedikit menggodanya dengan gelitikan indah dari jemariku yang masih aku genggam di dalamnya.
“Hehe.. iya dek sama-sama” sambil ketawa kecil dia merasa geli dengan sentuhan jemai nakalku di tangganya itu.
“Mbak sof, aku balik ya” sapanya ke mbak sofi
“Iya, dek jazakillah” ucap mbak sofi seraya melontarkan sebuah doa kepadanya
“Amin” balas mbak dela di atas sepeda motornya yang sudah siap melaju keluar dari lokasi pelabuhan kamal itu.
Setelah menyaksikan kepergian mbak dila, kami pun langsung beranjak dari tempat duduk pergi menuju lokasi kapal itu. Tak sedikit penumpang yang hanya membawa tas gendong seperti kami. Ternyata sebagian dari mereka baru mudik menuju kampung halamannya. Dan tak sedikit pula ibu ibu yang pergi dengan urusan bisnisnya. Beraneka ragam penumpang di pelataran kapal itu.
Kami pun segera memasukinya. Sebelum memasukinya seperti biasa sudah ada bapak yang berpakaian dinas polisi berwarna putih yang mencheck tiket kami dan merobek separuh kertasnya serta memberikan separu robeka itu kepada kami. Itu merupakan tanda kalaukami sudah boleh masuk dan menaiki kapal itu.
Aku dan mbak sofi langsung naik menuju lantai 3. Sungguh indah bernuansa alam. Di pagi cerah itu penumpang kebanyakna menggunakan kendaraan bermotor dan sediikit yan menempati ruang tunggu penumpang yang bertempat di atas koridor tempat parkir kendaraan bermotor. Aku danmbak sofi mulai melakukan aksi kami. Mencari tempat duduk yang merupakan tempat bertumpunya cahaya atahari di sana. beberapa menit kemudian kami menemukannya. Sunggu tak sulit untuk mencari wahana tempat yang cocok untuk acara sesei pemotretan pribadi kami.
Di sudut tempat duduk yang berisi tiga rangkai tempat duduk berwarna putih itu. kami mulai menyususn sebuah startegi pemotretan. Akupun mulai mengikuti alurnya. Duduk tersenyum menatap sang mentari pagi sambil memegang sebuah nove kecil berwarna hijau dengan judul “Flipped” ku gengam di tangan. Sesekali ckrek! Ckreck! Ckreck! Ckreck! Menghiasi nuansa indah pagi itu. sedikit membuka rahasia sang fotografer, keindahan gambar yang di tangkap tak semudah dari layang kaca tangan merangkap.
Mbak sofi harus duduk di bawah kursi tanpa beralaskan sebuah lepih tikar di bawahnya. Itulah pengrbana untuk menghasilkan hasil yang maksimal. Begitupun kami melaukannya berkali-kali sampai kami merasa puas terhadap keelokan ukirannya.
Serasa sangat singkat sekali perjalanan kami berlabuh di atas air. Karena dari awal kami mulai duduk sampai waktu kami beranjak selalu ada senyum alhamdulillah mewarnai jwa kami,
Tuuutt....tuuuutttttt....tuuuuut...... bunyi terompet sang kapal pun terlepas. Para penumpang yang sedari tadi berada di koridor atas mulai melekas tuk melepas semua kepenatan yang telah menetas di kediaman tempat duduknya. Dentingan bunyi tanda besi kare terkena pijakan kaki sang penumpang mulai melantunkan iramanya. Selain itu, derungan dan gumpalan asap kendaran mulai menyeruak gendang telinga dan menghiasi pencemaran di udara.
Akupun sedikit berfikir, “sungguh keja manusia terhadap alam. Alam diam berhati tenang, menyinari keindahan dan kedamain untuk semua orang. di lempari asap kabut kendaraan tercemar yang memberikan warna hitam akan keindahan safari alam.” Tak kuasa sungguh aku melihat sosok kekejaman itu terjadi. Semoga diriku tidak termasuk dalam kategori itu Amin.” Gumamku di dalam hati.
“Dek kamu pegang tangan mbak sofi ya sebagai petunjuk arah jalan. Karena mbak sofi sedang sibuk melihat hp memesan grab car perjalanan kita nanti menuju Universitas Widya Mandala. Oke?” pinta bak sofi kepadaku sembari mengulurkan tangannya ke dalam jemari gengaman tanganku.
“Ok bak. Siap!” balasku dengan penuh kepastian.
Gerbongan besi itu sedikit-sedikit mulai di turunkan, terbentang sebagai alat jembatan sang kendaraan. Terkesima di dalam bentangan jalan besi, semua kendaraan yang sedari tadi mendiamkan mesinnya mulai menyalakannya dan siap melanjutkan perjalanan mereka selanjutnya. Seperti permintaan mbak sofi kepadaku sebelumnya, aku menjadi petunjuk jalan dia untuk keluar dari dalam kapal layar itu.akhirnya kami keluar juga dan langsung menunggu di depan kantor pusat keamanan bahari kamal.
Menunggu itu sangatlah melelahkan. Di hempasan cahaya matahari yang tak sesejuk di atas kapal itu, aku dan mbak sofi sedari tadi berdiri di depan kantor pusat sambil memperhatikan plat nomer di setip kendaraan mobil yang berlaju. Lelah memang perasaan yang mulai menggeluti tubuhku saat itu. setlah setengah jam kami berdiri di pertigaan jalan tol itu akhirnya mbak sofi bisa menyelesaikan permasalahan kami. Kami hanya tinggal menunggu.
 “Menunggu grab car itu seperti menunggu jodoh deh.” Ucapku dalam hati sambil senyum-senyum sendirian di jalanan. Lama sekali kami harus menunggu di persimpangan jalan itu. akhirnya mbak sofi mengajakku untuk menyabrangi jalan tol itu dan berjalan di tengah-tengah jalan tol kamal. Sumpah, ini baru pertama kalinya aku jalan-jalan di tengah jalan tol. Sambil berlarian pula. Namun sedikit menyenangkan lah.
Satu jam dari kami menunggu sang bapak Grab, akhirnya kami mendapatkan telephone juga dari beliau dan memberikan intruksi kepada kami. Kami segera berlari mengikuti alur arah intruksi itu dan mencari mobil yang dengan plat nomer L2xxxx. Di tengah perjalanan kami ada bapak bapak yang selalu memperhatikan kami berdua dan memanggil-manggil kami tepat di depan kapolsek Surabaya. Kami merasa aneh, ada apa dengan pemuda itu. kami tidak menghiraukannya dan membiarkan sahutan itu, seraya berkata kepada mbak sofi.
“Mbak sof, itu orang dari tadi ngikutin kita terus. Sambil tunjuk-tunjuk gitu.” Ucapku kepada mbak sofi dengann perasaan risau tanpa menghilangkan kefokusan mencari plat nomer yang cocok sesuai yang telah di informasikanoleh bapak grab car tiga menit yang lalu. “ehem, nggak tau dek. Biarin saja!” jawab ,bak sofi dengan fokus juga.
            Setelah sekian lama kita mencari plat nomer itu akhirnya kita menemukan juga di ujung jalan kapolsek itu. Sungguh melegakan sekali waktu itu. Namun permasalahan hadir kembali setelah itu. Mobil itu kosong tidak ada supirnya. “Allahu Akbar, kemana kali nih bapak supir pergi” seruku dalam hati dengan perasaan kesal. Hampir lima belas detik kami menunggu di samping mobil dengan plat nomer yang sama. Mbak sofi mulai menghubungi sang bapak tadi. Akhirnya mobil yang kamu sandarin sedari tadi akhirnya berbunyi juga. Pastinya pemiliknya yang membunyikan dan berarti bapak supir itu sudah ada. Akhirnya kami meanaiki mobil avanza berwarna silver itu.
            Alangkah terkejutnya kami, ternyata sosok lelaki aneh yang sedari mengikuti kami ternyata bapak supir grab car itu namun kami tidak paham akan  maksudnya. Akhirnya bapak supir itu memulai pembicaraan.
            “Mau kemana mbak?” tanya beliau sambil menghidupkan mesinnya.
            “Ke Universitas Widya Mandala pak” jawab mbak sofi.
            “Saya sedari tadi panggil-panggil mbaknya ini namun mbak tetap aja lari” ungkap beliau dengan wajah sedikit kesal.
“Oh iya pak. Maaf kami tidak mengerti kalau itu bapak. Sampai teman saya bilang kepada saya, Siapa itu orang kok panggil-panggil kita mbak?” jelas mbak sofi dengan sedetailnya.
            “Owh gitu toh mbak. Jadi mbaknya tadi tidak tahu” ucap bapaknya sambil menghidupkan aplikasi google map di hpnya menuju kampus Widya Mandala.
Mbak soffi dan bapaknya mengisi kesunyian di perjalanan dengan saling menanyakan hal-hal yang lumrah untuk di tanyakan. Aku pun memutuskan untuk diam. Akibat lelah yang tak beraturan sambil menahann rasa malu yang harus aku tutupi ketika mengingat sang bapak tadi yang memanggil-manggil kami dijalanan. Hingga akhirnya, kami sampai di tempat tujuan. Kampus Widya Mandala merupakan lokasi mbak sofi mengikuti test TOEIC dalam rangka mengejar beasisiwa ke luar negeri.
Kami menanyakan ruang test annya. Ternyata kami harus jalan kaki sedikit lagi menuju lab bahasa Widya Mandala. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan mahasiswi dan ibunya yang juga menuju kampus tersebut. Kami mengikuti arah mereka dari belakang. Mungkin ibunya merasa bahwa ada seseorang di belakang. Sempat terdapat percakapan kecil anatara kami bertiga.
“Mbaknya ikut test-an juga?” tanya ibunya sambil berjalan beriringan mengikuti laju cepat anaknya berjalan.
“Iya bu” jelasku.
“Anak ibu juga ikut test?” tanya mbak sofi kepadanya.
“Iya, mari cepetan!” jawab ibunya sedari menyususl jalan anaknya yang semakin jauh jaraknya dari beliau.
Setelah sampai di lab bahasa, kami langsung menaiki lift menuju lantai 6 lab bahasa sesuai intruksi dari bapak satpam di lanatai 1 di tempat masuk. Sesampainya di sana, banyak sekali para peserta test dari berbagai kampus yang mengikuti acara test an tersebut. Sesaat kemudian, semua peserta diharapkan untuk segera beranjak ke lantai 8 menuju ruang test annya. Mbak sofi meninggalkan saya bersama ibu mahasiswi itu.
Karena di baluti rasa lelah dan bosan sedari tadi hanya duduk saja, akhirnya ibu tersebut mengajak aku mencari musholla dan berniat menunggu di sana sambil beristirahat. Kami turun ke lanti bawah dulu, kemudian menanyakan musholla kepada bapak satpam yang sedari tadi berada di peintu masuk lantai pertama. Akhirnya beliau mengatakan bahwa musholla ada di lantai 4 pojok. Setelah mendapatkan petunjuk itu, kami segera menaiki lift lagi menuju lantai 4 dan mencari musholla. Akhirnya kami menemukannya.
“Kok gelap ya mbak” tanya ibunya terhadapku.
“Sebenta ya bu, saya  coba cari skakelnya dulu” jawabku sambil mencari arah skakel lampu di ruangan itu.
Akhirnya kami menemukannya sketika ruangan gelak sempit itu berubah menjadi terang indah dan unik. Iya benar sekali. Meskipun Widya Mandala merupakan kampus katholik di Surabaya, namun musholla pun juga tidak kalah di perhatikan juga. lukisan gedung dan ukiran-ukiran tulisan arab menepel indah di dinding musholla itu. peralatan sholatpun tidak kalah lengkapnya dengan peralatan salat di masjid. Akhirnya kami istirahat dan membaringkan tubuh kami di permadani indah musholla itu dengan manja.
Kami pun mulai percakapan kami, banyak sekali percakapan yang kami lalui di sela sela perbincangan kami. Sampai akhirnya ada satu topik pembicaraan yang menarik dan itu bisa memotivasi kalian dalam perihal luar negeri & jodoh. Hal ini merupakan sejarah perjalanan anaknya yang kuliah di UGM dan segenap titah hidupya kuliah di luar negeri dan bersama jodohnya di sana.
“Iya mbak, saya punya dua orang anak. Anak yang pertama yang permepuan tadi dan anak yang kedua laki-laki. Kalau anak saya yang perempuan tadi itu loh mbak rajinnn sekali. Dia selalu belajar di kamarnya, tidak pernah membantu saya di dapur. Jadi kaalu di tanya mengenai masak memasak mah dia tidak tahu sama sekali. Dia lulus kuliah angkatan 2014 kemaren jurusan KIMIA. Suda tiga tahun dia bekerja di perusahaan apotek cCna. Dan sekarang dia mau berhenti, dan mau fokus untuk melanjutkan kuliah S2 di belanda. Ya.. meskipun ganjinya lumayan, 3 juta perbulan tapi dia ingin melanjtkan kuliahnya dulu katanya. Dia sudah tiga kali mengikuti test ielts dan nilainya kurang sedikit yang mau mencapai target yangbiayanya setiap satu test ielys itu 3 juta mbak. Dia memang mau kulaih ke belanda sebelum bekerja.”
Sambil memperbaiki kerudungnya yang sedari tadi terlihat tidak beraturan karena dia memakainya sambil tiduran memperbaikinya sebentar dan melanjutkan kembali ceritanya.
“Ya namanya jododh ya. Pasti” bertemuulah bagaimana pun caranya. Dia kan di tanyakan sama temannya di tempat kerjanya itu mbak, kamu mau meneruskan S2 kemana? Dia bilang ke Belanda. Nah temannya punya kenalan atau temannya gitu kuliah di Belanda, dan memberikan nomer telephonenya kepada anak saya. Awalnya anak saya hanya mau tanya-tanya saja mengenai di sana. eh ternyata si cowok yang kuliah di Belanda itu naksir anak saya dan sudah melamar anak saya kemaren. Orang tuanya datang kerumah mbak (seraya berbisik kepadaku).” Jelas ibunya menceritakan secara detail terhadapku.”
Setelah mendengar cerita tadi, aku jadi BAPER (Bawa Perasaan) di buatnya.dengan sedikit membayangkan, jika aku seperti dia betapa bahagianya diri ini di buatnya. “Ya Allah so sweet benar kisah cintanya” ucapku dalam hati penuh harap. Kemudian aku merespon cerita ibu tadi. “Waduh.. enak banget itu mah bu. Jadi sudah ada yang menunggu dong di Belanda!. SubhanaAllah...” seruku.
Ibunya tersenyum-senyum bahgia mendengarkan responku.saat itu. mungkin ibu itu merasa ngga memiliki anak yang erprestasi dan memiliki memnantu yang pintar sukses kuliah di luar negeri juga. ibu itu bertubuh tidak begitu tinggi dan sedikit gemuk. Paras  cantik di wajahnya tidak hilang dari silauan keriputnya. Ibu itu juga bercerita kalau beliau juga berjualan kerudung pashmina instant seperti yang di gunakannya saat itu dengan  harga Rp.35.000.
Aku sangat tertarik mendengarnya. Ingin sekali aku membeli kerudung pashmina instant seperti yang di gunakan kembaran model dengan anaknya. Tapi tak apalah mensyukuri adanya itu lebih inda dari pada tidak sama sekali. Sesaat kemudian kami mulai mengantuk dan terlelap sesaat. Ketika aku bangun, aku langsung melihat jam di handphoneku ternyata sudah jam sebelas lewat lima belas menit. “sudah hampir dzuhur nih,” gumamku dalam hati.
Aku mulai mengirimkan satu pesan kepada mbak sofi, memberitahukan bahwa aku ada di musholla bawah. Sesaat kemudian ibu mahasiswi tadi mengajakku untuk menunggu di lantai 6 tadi. Sebenarnya aku malas sekali dan aku merasa lebih enak tiduran di sana. akan tetapi aku merasa tidak nyaman dengan ibunya jika aku menolak permintaannya. Akupun menurutinya dan menaiki lift kembali menuju lantai 6.
Sesampainya di lantai 6,
“Mbak, kok masih sepi ya?” ucapnya kepadaku dan segera mencheck tas yang berisi barang bawaannya di samping kursi tadi.
“kurang tau bu mungkin belum selesai” jawabku dengan sedikit rasa ngantuk.
“loh mbak, tas saya tidak ada. Kemana ya..?” ucapnya dengan wajah panik.
“oh gini saja bu, mungkin kita tanyakan saja kepada cleaning service dan karyawan disini saja” saya pun beranjak menuju kantor office karyawan itu.
“Mbak, lihat tas di samping kursi?” tanyya sang ibu kepada salah satu karyawan yang berada di dalam kantor itu.
“Iya bu. Diamankan petugas tadi takut hilang. Coba check di kantor sebelah! Saran sang karayawan tadi sambil beranjak keluar membantu mencarikan tas ibu itu.
“Ini bu. Tasnya!” ucap sang petugas kebersihann itu sedari menyodorkan tas itu dengan sopan.
“Oh iya, terima kasih nak!” ucap sang ibu dengan wajah lega, tenag penuh senyum.
Setelah itu, kami duduk-duduk kembali sembari menunggu mbak sofi keluar dari lift lantai 6. Aku mencoba menelponnya namun tidak diangkat dan akhirnya aku biarkan dia datang sendiri tanpa harus aku menghubungi. Rasa penat, lesu, kesal semuanya menjadi satu dan ada pada diriku.
 Entah rasa apa yang harus aku belenggu namun itulah saat ini yang aku rasa. Detik demi detikpun berlalu, satu hal yang hanya bisa aku lakukan, yaitu menatap langit-langit atap bertukar pikiran serta bercengkrama serasa lebih asyik dari pada menonton terbukanya lift lantai 6 dengan tebuka wajah mbak sofi menjemputku untuk beranjak dari tempat itu.
“Dek, dimana?” satu pesan dari mbk sofi aku beruncula di lyr hpku.
“Saya di lantai 6 mbak” balasku
”kau mbak tungu di lantai 1 ya” balas mbak sofi.
“jangan deh. Aku sendirian ini menunggu kamu. Ibu tadi udh pulang sdari tadi aku sendirian di sisni. Jemput saya dulu ya di lantai 6.” Balasku lagi.
“oke! Tunggu disitu ya”  akhirnya diapun menyetujuinya.
Aku tidak membalas lagi pesan chat dari mbak sofi. Di kesendirian itu aku hanya melamun. Mendengar sebuah ketukan lembut jarum jam. Beralaskan lembah sepi nan sunyi. Semakin aku tunggu kedatangan mbak sofi semakin gelisah diri ini. Hingga akhirya aku biarkan semuanya berlalu menikmati aliran waktu. Tak kuasa aku enahannya. Ssok seorang lelaki separuh baya yang mulai tadi duduk bersama aku sedang menunggu anaknya juga mungkn, melihat kegelisahanku itu. Dia terlihat aka perasaan yang aku rasakan saat itu.
“Aduh mbak sofi dimana yah” pikirku.
Karena sangking gugupnya aku, suara pemberitahuan lift berhenti. Seraya berkata
“dek luk! Hayo...” mbak  sofi berdiri di dalam lift itu sembari melambaikan tangnna kepadaku
“Dek kita shalat dulu. Ada musholla gak?” tanya mbak sofi.
“di lantai 6 mbak” jawabku.
Seelah salat kami siap siap untuk pergi ke tujuan kedua. Yaitu periplus. Kami berdua belum pernah ke periplus. Ketika kami mulai mencheck ongkos grab car dari universitas Widya mandala menuju ke periplus sangatlah mahal. Kami mulai enggah dan memikir ulang dua ali untuk menggunakan jasa grab car di siang hari itu.
Siang hari itu cuacanya sangatlah tidak mendukung sama sekali. Kami pun mencoba untuk berjalan kaki. Sungguh merupakan ujian kesabaran yang kami alami saat itu. Kami menuju periplus samil berjalan kaki, baterai hp pun lobet dan jaringan juga lemot. Akhirnya kami terus melanjutkan perjalan kami kira kira menempuh 2 km. Higga kami perahb duduk beristirahat di trotoar jalan karena menahan rasa penat. Sungguh cuaca panas matahari yang sangat menyegat, polusi udara begitu menyeruak hidung sesak bibir kering dahagapun menunggu tetesan air segar dari telaga biru.
Keringat seakan mulai menenggelamkan tubuh ini. Tak pernah aku menanyakan mengapa hal ini terjadi tuhan? namun aku hanya menuai sebuah harapan tuhn kapan ini semua akan selesai?.
Di separuh perjalanan kami, kami pun melihat sebuah bangunan tepat untuk berkonsultasi kuliah ke luar negeri. Kami sedikit tertaik melihat beberapa logo universitas luar negeri terpampang jelas menggiurkan selera kami di sana.
“mbk sof..” panggilku seraya melirik-irik memberikan kode mataku ke gedung itu.
“Mau cob tah?” tanya mbak sofi kepadaku dengan wajah sedikit rahgu tapi menginginkanya.
“Hayo! Mbk masuk saja!” ajak kudengan wajah meyakinkan kepada beliau.
“Ok-lah.  Hayo!” Mbak sofi mulai membuka pintu itu dan langsung  berkonsultasi tentang beasiswa yang di kejarnya. Kira-kira  setengah jam berlalu dari kosultasi itu. Lumayanlah sedikit menghilangkan rasa penat tubuhku yang sedari tadi berjalan kaki tnpa henti menepaki tanah gersang terlentang semangat mendersang jiwa terbentang. Semburan butiran salju dari AC di bilik kecil ruangan itu mebuat saya seakan membuat saya terbang ke awa awan menari diantara butira salju itu dan membuat saya seakan ingin menutup mata sebentar dan tertidur pulas. Namun suara mbak sofi tiba-tiba membuat netraku terbuka kembali dengan cahayya sedikit bercak merah di netraku dan kehitam-hitaman di kantong mata.
Ruangan itu tidak begitu sempit dan tidak begitu lebar pula. Di ruangan itu terdapat banyak beberapa buku brosur universitas di luar negeri termasuk universitas yang aku incar selama ini. Tak ada satu hal pun yang tak membuat aku tak menyukai ruangan itu. terdapat tiga komputer sesuai dengan adanya tiga konsutator yang siap melayani orang orang yang mau mengutarakan keinginannya. Mereka semua sangat ramah dalam menerima tamunya. Akupun begitu suka tempat itu. Akan tetapi kelihatannya dia bukan orang Indonesia asli. Dia berwajah seperti wajah sang cina. Ya biarkanlah siapapun dia semoga Indonesia lebih baik.
“hayo dek,” ucapnya.
“Oh sudah selesai?” tanyaku.
“Iya!” ucapnya.
“Ya sudah, hayo!” balasku.
Cuaca yang tidak berubah sebelumnya, sang matahari tetap masih setia menemani kami. Seakan membuntuti perjalanan kami. Hingga akhirnya kami beristirahat sebentar di samping bangunan besar MC. Donald yang kelihatannya sangatlah menggoda ketika aku mulai melihat beberapa jenis gambar makanan yang terpampang di pintu gerbang itu. Seruan cacing di perut mula mengkoyak-koyakkan diriku seakan mereka mengetahui tentang dimana dia berada sekarang. Hehehe sungguh menggiurkan.
“dek kita istirahat dulu ya di sini?” saran mbak sofi.
“Iya mbak, lulu mau ke bapaka satpam itu dulu ya, mau menanyakan arah menuju ke periplus menuju arah mana kita selanjutnya” ucapku kepada mbak sofi meminta idzin untuk beranjak pergi sebentar menujuk bapak satpam yang sedang mengatur para tamu-tamu yang datang  ke restoran MC.Donald itu di seberang pinggir gerbang.
“Maaf pak, mau bertanya. Jalan menuju periplus itu ke arah mana ya pak kalau dari sini?” aku mulai mengutarakan permasalahan yang sedang membelenggu di otakku.
“Periplus Mall, atau periplus restoran ya?. Soalnya disini ada 2 periplus” tanya  dia kembali dalam kebingungan untuk menuju ke kepastian.
Aku sedikit bingung awalnya, pada akhirnya aku mulai mengerti.
“Oh, ke mall pak. Iya! ke mall periplus.” Jawabku dengan penuh keyakinan sambil menggunakan jari telunjukku menunjuk-nunjuk dengan penuh kepastian,
“Iya mbak. Itu lumayan jauh. Kira-kira 1 jam kalau tidak macet. Soalnya kalau ke periplus mall rawan macet.
Dan hal yang mengkagetkan aku adalah ketika bapak satpam tadi itu menjelaskan arah yang berlawanan dan kita harus balik arah lagi.
“Owalah, jadi ini putar balik lagi ya pak?” ungkapku dengan perasaan yang membuatku merasa menyesal.
“Iya mbak. Mending mbaknya memakai jasa grab car saja” saran napak satpam itu.
“Oh baik pak. Terima kasih sarannya” ucapku dan beranjak pergi dari tempat itu menuju bak sofi yang sedari tadi sibuk memainkan hpnya berusaha untuk memesan grab car online itu.
Aku segera berlarian menuju mbak sofi yang duduk di emperan tamandekat restoran MC. Donald.
“Mbak sofi, bagaimana grab carnya ? sudah ada?” tanyaku kepadanya dengan rasa capek ngosh-ngoshan.
“iya dek. Sudah ada kok” jelasnya.
Setiap dentingan jarum jam menggelitik kami untuk segera pergi menuju periplus. Itu merupakan tujuan kedua dari perjalanan kami untuk memebeli sebuah novel bahasa inggris di sana. itulah tujuan awal kami sebenarnya. Sekali lagi inin aku katakan bahwa menunggu grab car sama seperti menunggu jodoh. Lama sekali, menyebalkan tapi kedatangannya di harapkan.
“Dek kamu harus teliti, melihat kendaraan yang lalu-lalang di sekitaran sini dengan plat nomer seperti ini” dia menunjukkan sebuah plat nomer baru terhadapku.
“Ok. Ok. Akan aku teliti dengan baik setiap kendaraan hitam dengan plat nomer seperti ini.
Ujarku seraya meulai memfokuskan pandanganku ke seluruh penjuru jalan tol di siang hari itu.
Yah... lagi-lagi plat nomer. Lumayan! Dalam perjalanan ini aku sedikit mendapatkan banyak ilmu pengetahuan yang belum aku ketahui dan tidak bisa aku dapatkan di bangku kuliahku saat ini. Yah inilah makna bermasyarakat, pengetahuan bisa di dapatkan dimana saja asalkan dengan niatan yang tulus dan ikhlas.
Beberapa menit aku sudah mencoba memberikan perhatian lebih netraku untuk selalu memfokuskan kepda sang kendaraan berwarna hitam itu. namun di setiap mobil berwarna hitam yang sedari adi melaju kesana kemari tidak ada yang memiliki plat nomer yang sesuai dengan plat nomer yang di berikan mbak sofi terhadapku. Aneh sekali dan letih sekali. Pekerjaan yang tiada hasil itu membuat diriku merasa lelah dan bosan. Meskipun seperti itu, akupun tetap semnagat membantu mbak sofi yang sibuk menerm atelephone dan aba-aba dari sang supir kedua grab car kami.
“mbak sofi, dia ada dimana sekarang katanya?” tanyaku dengan sedikit mengernyitkan dahi menahan rasa panas.
“Katanya bilang dekat giyu dek. Mbak juga gak mengerti. Jaringan telkomsel disini jelek dan suaranya putus-putus!” jelas mbak sofi kepadaku.
Beberapa menit kemudian, kami baru saja  selesai membicarakan tetntang dia, diapun menelphone kami kembali.
“Saya sudah berada di restoran MC. Donald. Mbak luluk sekarang ada dimana?” tanya sang supir grab car itu tadi kepada mbak sofi.
Mbak sofi menggunakan namaku dalam  mengisis identitas aplikasi grab car. Karen anomer yang di letakkan di persyaratan grab car itu dia menaruh nomerku. Sehingga jangan kaget, kalau ketika dia mengajak berbicara bersama mbak sofi dia memanggil namaku.
“Oh iya pak. Kami berada tepat di sebelah kiri restoran MC. Donald. Kami menggunakan baju berwarna oranye batik dan kerudung pink.
“OK baik mbak. Saya seegra kesana” ucap bapak grab car tadi seraya menutup telephone nya.
Sesaat kemudian mobil hitam grab car itu mulai muncul di hadapan kami. Kami langsung menghampirinnya karena aku dan mbak sofi tidak betah tinggal di sekitar taman yang hanya di temani sang sinar matahari dan juga sang polusi kendaraan yan lalu lalang di sekitar sana. mobil grab car itu sangat keren. Sampai kami kebingungan cara membuka pintunya. Maklumlah anak desa.
Kalau kalian menanyakan kepadaku pernah mengendari mobil seperti itu sebelumnya atau tidak, aku mah belum pernah naik modil sekeren itu dulu. Hanya ketika aku melihat model pintu mobil itu, mengingatkan kembali ke mobil espas yang pernah ayahku beli di waktu aku masih kanak-kanak. Cara membuka daun pintu itu tinggal menggesernya ke samping. Kesedihan mulai menggeluti diriku lagi ketika aku sudah mulai mengingat sosok yang sangat aku banggakan itu. aku sunggu mencintainya dan dia juga lelaki pertama yang aku cintai dan sampai sekarang hanyalah dia. “He is the only men that I Love”[5].
Karena kami mengalami kesulitan membukanya, akhirnya bapak supir itupun mencoba membantu kami membuka pintu itu. dia membukanya dari dalam. Akhirnya kami pun masuk kedalam.  mobil mesin itu. sesaat setelah aku memasuki ruang mobil itu, udara segar dari mesin bank udara yang bisa kami sebut AC itu seakan fokus menyegarkan tubuh kami berdua. Sungguh hanya kata Alhamdulillah yang bisa kami ungkapkan saat itu.
“Dek luk, aku mau tidur sebentar ya!. Nanti kalau sudah sampai bangunkan aku ya..” pintanya kepadaku. Dengan wajah sedikit lelah terlukis di wajahnya yang mulai dia sandarkan di bahu kursi mobil itu. dia mulai memejamkan matanya dengan lapisan masker pink yang sedari tadi dia kenakan untuk menutupi hidung dan mulutnya dari polusi udara.
“Iya mbak! Istirahatlah” jawabku kepadanya dengan ulasan senyum sedikit yang aku perlihatkan kepadanya.
Rasa capek letih dan juga lelah yang di rasakan mbak sofi itu lebih terasa dari pada peraan letih lelah, dan lesu yang juga aku rasakan. Apalagi di bulan puasa dan dibawah terik matahari seperti halnya tadi ketika kita berjemur di samping gedung restoran MC. Donald. Sungguh sangat tidak kuat rasanya jika aku berda di posisinya. Sedangkan aku?. Kebetulan ketika mbak sofi mengajakku ke Surabaya aku sedang datang bulan sehingga aku tidak melakukan kewajiban puasa itu. Namun meskipun demikian, tidak ada sesuap nasipun yang aku makan ketika perjalanan itu. hanya sesuap nasi putih dan mie instant yang aku lahap di pagi harinya sedangkan di siang dan di sore hari aku tidak memakn apa-apa.
Aku juga mulai meletakkan kepalaku di bahu kursi mobil tepat di samping mbak sofi saat itu. sungguh AC itu membuat aku ingin terlelap sebentar. Namun jika aku juga terlelap, terus siapa yang akan membangunkan mbak sofi? Ya sudahlah. Akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan kepalaku bersandar manja saja tanpa harus menutup retinaku yang sedari tadi meneteskan air mata ketiaka sku sesekali menguap karena menahan kantuk yang sangat mengangguku.
“Mbak mau ngapain ke Pakuwon?” tanya supir itu tadi tanpa menghilangkan konsentrasi menyetirnya.
“Kami mau beli buku pak” ujarku sembari melihat kearah bapaknya  melalui kaca spion yan terletak di bagian tengah atas dekat sang supit menyetir.
Handphone yang sedari tadi kami isi menggunakan charger kabl data milik bapaknya mulai berjalan mengisi dan memasuki aliran kabel listrik itu. sesekali aku mencoba untuk menngeceknya dengan menekan tombol berbentuk persegi panjan empat sudut itu untuk melihat sudah berapa persen daya yang masuk dari aliran listrik charger itu. tergambar kotak hijau dengan bentuk seperti botol air dan di tenganhya terpampang sebuah angka nominal dengan kedipan cahaya hiijau dibawahnya.
“Oh, ternyata masih 20%” seruku dalam hati. Akupun meletakkannya kembali di kota jok samping tempat semula hpku di charger.
Aku melihat sekeliling jalan sangatlah indah sekali. Seraya berguman dalam hati,”sungguh aku tidak begitu mengenal negriku sendiri. Bangunan-bangunan mewah yang menjulan tinggi di setiap sudut perjalan kota Surabaya seakan membuatku merasa ini seperti di jakarta. Kemacetan jalan dan bunyi klakson mobil yang bermacetan membuat aku berfikir bahwa Surabaya tidak kalah besarnya seperti kota Jakarta.
 Iya! Kota Jakarta. Setahun yang lalui aku pernah mengginjakkan kakiku disana. Dengan menggunakan kendaraan berasap kereta api semalaman dan menggunakan jasa angkot bapak sang supir bajajai cukup menjadi kenangan indah yang sedari tadi tersimpan di fikiranku dan berputar kembali video ketika aku melihat bangunan-bangunan indah menjulang di sekiata mall Pakuwon Indah Surabaya.
“SubhanAllah, Indah sekali..” tanpa aku sadari aku mengucapkan kalimat itu dari bibirku.
Suara adzan asar mulai terdengar di telingaku. Tanpa sengaja aku membuka tas cokelat kecil yang aku beli ketika aku mengikuti rekreasi dari acara kursusanku di Pare ke Kampung Cokelat untuk melihat jam berapa sekarang. Ketika aku membuka tasku, aku baru teringat kalau hpnya msih aku charger dan belum penuh. Sedikit kembali mengungkit perjalananku ketika aku menatap lama tas cokelat kcil dengan dua kancing kecil berwarna hitam itu serta di lengkapi dengan ukiran cantik bertuliskan “Kampung cokelat”.
“Wow, keren sekali Pakuwon Mall ini” gumamku dalam hati. Pakuwon mall itu luas sekali. Bapak supir grab car itu harus membelok-belok mobilnya karena mengikuti alur laju jalan yang telah di buat. Sunggu jika aku datang ke tempat ini sednirian mungin aku akan tersesat karena luasnya mall pakuwon itu benar luas sekali. Para pengunjung juga banyak sekali. Sesekali aku melihat banyak parkiran mobil-mobil mewah terparkir rapi di depan mall itu. oh kenapa hari ini aku sangat menyanjungnya.
“mbak sofi, bagun mbak sudah sampai!” aku mencoba membangunkan mbak sofi yang sedari tadi sudah mengistirahtkan netranya.
“oh iya dek!” ucapnya seraya mengkedip-kedipkan matanya dan mulai mengusap wajahnya seraya merapikan kerudngnya.
            Setelah aku sudah memberikan ongkos grab car kepada supirnya, aku langsung melanghkan kakiku keluar dari mobil yang mengingatkan kembali kenangan bersama ayahku.
Tanpa berfikir panjang kami mulai memasuki mall pakuwon itu. baru sebentar kami melangkah kan kaki, kami di hadang oleh dua satpam muda yang telah bersiap untuk memeriksa tas kami berdua. Dengan senag hati kami membiarkan dua pemoda itu mencheck barang bawaan kami. Aku biarkan dia melihat beberapa alat make upku serta beberapa kertas kapal tadi aku biarkan didalamnya kareana aku lupa membuangnya di perjalanan tadi.
“silahkan” ucap petugas itu setelah dia selesai memeriksa barang bawaan kami.
Kami segera masuk. Dan alangkah terkejutnya kami ketika kami mulai memasuki ruangan kedua itu. setiap gedung di hiasi oleh rumput-rupu hijau yang bergelantungan. Rumput-rumput itu terlihat sangat segar di mata. Disamping bawahnya terdapat tiga kursi tempat duduk yang memang telah di siapkan disana.
“Sungguh indah sekali mall ini.” Ucapku dalam hati.
Mbak sofi yang sedari tadi berjalan tidak semangat karena menahan rasa kantuk, tiba-tiba iya muali membuka netranya lebar-lebar seraya tersenyum dan langsung memperhatikan keindahan ruangan itu. kami tidak mau melelwatkan moment terindah ini. Kamilangsung mengambil hp yang sudah lumayan terisi ketika kami berda di perjalanan menuju kesini. Ckrek! Ckrek! Ckrek! Begitulah bunyi yang hadir saat itu. Entah mengapa petuga yang sempat memeriksa tas kami itu melihat ke arah kami sebentar dan membuat kami merasa malu dibuatnya. Akhirnya kamipun bergegas meninggalkan tempat itu.
“heheh, mbak bagus banget ya tadi. Indah! Sejuk di mata!” ungkapku dengan senyuman melihat kearahnya.
“Iya dek, memberikan kesegaran kedalam mata” ungkapnya lagi.
“Berapa lama kita akan disini mbak?” tanyaku kepda mbak sofi memastikannya.
“Nanti kita sebelum maghrib harus sudah pulang saja ya. Lagian kita kan Cuma mau beli novel di periplus.” Jelas mbak sofi menerangkannya kedaku.
“Baiklah kalau seperti itu. uangku sepertinya juga pas buat beli buku saja deh.” Ujarku sambil tertawa cengegesan ke arah mbak sofi.

Ketika kami mulai melangkahkan kaki ke bagian mall yang luas itu, ternyata kami sudah berada di lantai tiga mall pakuwon. Iya disana, kami kesana kemari mondar-mandir mencari periplus ada di sebelah mana. Karena di setiap bagian dalam sudut mall itu terdapat banyak sekali toko-toko yang menjual beberapa aksesories glamor dan mewah-mewah. Kami mulai mengelilinginya sambil menikmati wahana yang bagus untuk dilihat. Setelah kami sudah memutar-mutar berulang kali,akhirnya kami memutuskan untuk bertanya kepada salah satu petugas yang berpakaian satpam di setiap toko itu.
“Maaf pak, mau tanya periplus disini berada di bagian mana ya?” kataku.
“Aduh dimana ya mbak. Saya juga kurang tau disini. Mungkin mbaknya bisa bertanya ke mas yang lain.” Jawabnya kepada kami dan membuat kami sedikit tambah bingung juga.
Kami meneruskan perjalalan kami, siapa tahu nanti kita menemukannya sendiri. Namun uasah kami sia-sia. Kami tidak menegrti kenapa mall ini begitu luas dan sangat membingungkan. Kami berusaha kembali menghampiri petugas yang mengenakan pakaian seperti petugas yang pertama.
“Pak, mau tanya. Kalau toko buku periplus di sebelah mana ya?” aku melontarkan pertanyaan yang sama seperti yang telah kami utarakan kepada petugas yang pertama tadi.
“Oh, mbaknya lurus, kemudian belok kanan dan lurus lagi dan nanti mbak tanya lagi ke petugas yang menggunakan pakaian seperti yang saya kenakan.” Jelas bapak petugas itu dengan sangat detail.
“Baik pak. Terima kasih banyak.” Ucapku kepada petugas yang telah menunjukkan petunjuk jalan terhadapku.
Akhirnya kami pu mengikuti arah yang di berikan oleh bapak petugas tadi. Sesaat kemudian akhirnya kami sampai di sana. terpampang tulisan berwarna putih jelas di depan toko itu “PERIPLUS” nama itu seakan membuat kami ingin memeluknya akan tetapi itu mustahil. Sungguh kami sangat bahagia sekali telah menemukannya. Itulah toko tujuan kami. Toko itu tidak begitu besar dan mewah seperti toko pakaian yang berjejeran bergemilang di depan mata. Namun tumpukan buku-buku indah serta majalah-majalah yang terlentang luas terlihat sisi ilmu pengetahuan di mataku, membuatku sedikit berkhayal seakan-aka aku terbang diantara jejeran buku itu.
“Mbak sofi. Aku bingung ini mau menggunakan buku yang mana?” rasa kebingungan yang aku alami sedikit aku utarakan kepada mbak sofi.
“Hmm.. kamu mau beli buku apa?” tanya dia kepada diriku yang sedang sibuk mengotak atik novel-novel yang tersusun di situ.
“Aku itu mencari buku yang ceritanya itu, berusaha keras, sukses dan tercapai cita-citanya ggitu. Jadi buku itu seakan memberikan suntikan semnaga yang memebara kepada diriku mba sof.” Ujarku kepadanya.
 Dan kemudian aku sedikit mendekatinya dan berbisisk,
 “Tapi yang harganya stabil juga wkwkkk”
Tawa kami berduapun meledak saat itu. karena kami khawatir cekikikan ketawa kami bisa mengusik ketenagan orang-orang yang saat itu juga sedang mencari buku, akhirnya kami menutup mulut kami dengan telapak tangan seraya tertawa sepuasnya.
“Dek, jangan ketawa mulu,nanati kita kemaleman loh yang mau balik.” Tegas mbak sofi mengingatkan ku waktu itu.
Seketika itu tawaku mulia mereda dan segera aku merrespon saran mabk sofi itu dengan kerlipan sebelah mataku  serta menyodorkan satu jari ibu jempolkan kepadanya. Aku mulai fokus kembali terhadap tumpukan novel didepan mataku. Tak sedikit nama penulis yang aku mengenalinya namun tak banyak juga yang aku tidak meneganalinya sama sekali. Salah satu penulis yang aku ketahui adalah J.K Rowling. Banyak sekali karya-karya yang di hasilkannya. Mulai dari harry potter 1 harry potter 2 dan beberapa judul yang sudah aku lupakan saat ini.
Namun tiba-tiba aku lebih tertarik kepada sebuah novel yang berjudul “Let’s come back” dan aku melihat harganya pun stabil dan lumayan cocokk untuk seisi dompetku. Akan tetapi, mabak sofi datang menhampiriku dan membawakanku sebuah novel dengan tebal kira-kira 300 halaman dan di sampul depannya terdapat gambar buah stoberi yang terlukis dua warna di buahnya.
“Dek kamu mencari buku yang memotivasi, semangat perjuanagan gitu kan?” ungkap mbak sofi mengulang argumenku tadi.
“Iya mbak, buku apa itu?” aku segera menanyakan buku apa yang sedang di peggang oleh dia itu.
“Buku sepertinya bagus deh isinysa, seru  dan cocok buat kamu.” Jelas mbak sofi sambil menyodorkan sebuah buku dengan ukuran normal berwana hitam polos itu terhadapku.
“Urivalled?” aku mulai membacanya.
“Iya, itu kan maknanya bukan musuh atau bukan saingan gt. Itu berasal dari kata “Rival” yang artinya Musuh.” Jelas mbak sofi kepadaku seraya meyakinkanku.
Mbak sofi memberikan buku itu kepdaku. Dia bilang itu merupakan buku yang memiliki sinopsis yang bagus buku itu berjudul “UNRIVALLED” karya Alyson Noël. Di bawah judul itu terdapat tulisan yang semua hurufnya menggunakan huruf kapital. Tulisan itu bertulis seperti ini; A BEAUTIFUL IDOLS NOVEL. Terdapat sebuah gambar stroberi berdaun hijau dan separuh buahnya berwarna merah dan separuh bawahnya lagi berwarna keemasan yang menetes kental ke bawah. Sedangkan di bagian cover belakangnya terdapat sebuah gambar buah stroberi juga namun buah itu berwarna emas semua. Dan tertulis sebuah sinipsisi seperti ini:
Layla Harrison wants to be a reporter. Aster Amirpour wants to be an acress. Tommy Philips wants to  be a guitar hero. But Madison brooks tool destiny and made it her own a long time ago.
She’s Hollywood’s hottest starlet, and the things she did to become the name on everyone’s lips are merely a stain on the pavement, beneath her Louboutin heel.
That is, until Layla, and Tommyfind themselves with a VIP invite to the world of LA nihgtlife and are lured into a competition where Maddison brooks is the target. Just as their hopes begin to gleam like stars through the California smog, Madison Brooks goes missing... Suddenly they’II have to decide if VIP access is worth their lives.
‘Like a good celebrity, Unrivalled is mysterious and compelling and so gergous, you won’t be able to look away’
Cecily van ziegesar, author of The Gossip Girl series


Seperti itulah gambaran indah buku itu. Tiba-tiba akujatuh cinta dadakan kepada buku itu. tanpa berfikir yang aneh aneh lagi tidak jelas hanya membuang waktu akhirnya aku nekat mmebeli buku itu dengan harga Rp.210.000. Aku mulai mengeluarkan uang sejumlah harga beli itu untuk aku ambil alih kepemilikan kepada si penjual. Awalnya aku tidak begitu yakin kalau itu adalah uang terakhir aku di dompet. Ternyata setelah ku coba raba kembali dompet ku itu dengan degupan jantung yang keras serta di hantui rasa was-was aku langsung menyentuhnya disertai bacaan basmallah dan sholawat tiga kali. Dan ternyata uang aku memang sudah habis di dompet. Itu adalah uang terakhirku yang aku berikan kepada si kasir periplus tadi. Dan satu-satunya sisa uangku itu adalah uang kembalian dari buku yang aku beli. Sembilan puluh ribu, iya itulah sisa uangku yang rencananya akan aku gunakan untuk taksi dari Pakuwon ke pelabuhan.
Saat itu aku hanya pasrah kepada Allah swt. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Yang pasti Allah sudah sangat baik kepadaku selama hari ini penuh. Telah memberikan secangkir cerita indah di kota Surabaya ini.






           



[1] Nyah adalah tante dan terkadang itu juga bisa di gunakan untuk menmanggil teman dekat kita dengan panggilan tersebut. Dengann kata lain itu adalah panggilan kesayang terhadap seorang teman.
[2] Hobi berfoto dan mengabadikan di setiap moment yang kami lakukan.
[3] Mbak Sofi, saya sudah siap berangkat
[4] Baiklah, hayo berangkat
[5] Dia adalah lelaki satu-satunya yang aku cintai saat ini.