`cursor

Kamis, 03 Januari 2019


T Y T 2018
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)

Awalnya, 2018
Ada seseorang berbsisk riuh di telinga seakan tak kukenal siapa orangnya.
Mengenal tentang sebuah pesan singkat dan cerita yang terkandung di dalamnya.
 Tak pernah kusangka mungkin ini hanya akan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Datar tanpa harapan hanya sebuah kejadian.
Angin riuh menerbangkan sebagian kerudungku di malam hari di tepi kolam yang terasa sepi. Tak kurasa ini sudah separuh halaman putih telah kutulis harapan-harapan yang akan kutempuh di tahun 2018 ini.
Detik demi detik aku memandang stau persatu setiap bait dalam tulisanku itu.
Mencoba memaknai arti dari semua harapan-harapan yang telah aku tulis tanpa rasa ragu menyelinap dalam hatiku. Sedikit terbirit-birit dan terbata-bata aku membacanya.
Sungguh! Aku tak percaya. Inikah harapan yang aku hrapkan di tahun 2018 ini.
Begitu rumit seakan aku bayangkan namun kenapa tangan ini mudah untuk mengoretkan?
Tak kuasa di setiap lembaran harapanku itu aku lantunkan jampi-jampi ajaib.
 Sholawat dan dzikir aku selalu lantunkan di setiap aku membacanya.
Berusaha sepenuh hati menggambarkan langit seperti langit aslinya meski tak seindah apa yang ditatap oleh manusia namun setidaknya aku bisa berkarya dan ukiran curiculum vitaeku secara nyata.
Indah bukan? Aku tersenyum sendirian sambil mengernyitkan dahi, tanggal 01 bulan 01 dan 2018.
Aku menggumpal sendirian, menatap langit pekat hitam yang masih terlukis indah dengan dihiasinya  bintang.
“Langit, maukah kaperihu menceritakan kepadaku pberihal dirimu mengapaselalu terlihat indah ketika dipandang dan selalu menciptakan lukisan awan putih yang antik untuk ditafsirkan?.

Akankah tuhan telah berpihak kepdamu sehingga aku tak tau menau tentang dirimu?.
Atau Tuhan ingin aku berfikir dan meneliti lebbih jau h tentang dirimu?.
Mungkin sejujurnya engkau tau namun kau tak mampu untuk menjelaskannya kepdaku”.
Sebait dua bait ungkapan itu mulai keluar dari mulutku.
Aku tak tahu mengapa aku berharap sang langit menjawabnya.
 Mungkin karena dia memiliki sebuah rahasia indah tentang diriku yang telah diketahui darinya tentangg apa yang akan terjadi padaku di tahun 2018 ini nantinya.
Aku tahu! Aku tahu mengapa aku berfikir begitu. karena tuhan inigin aku berfikir.
Tuhan ingin aku memperbaiki diri sebagaimana aku berani memunculkan harapan-harapanku di lembaran putih alat canggih berbentuk kotak itu yang hanya akan memunculkan sebuah kehidupan kosakata jika ada yang menekannya.
Sungguh benar! Benar-benar terjadi.
 Harapan-harapan yang aku tulis di awal tahun 2018 ini penuh keajaiban penuh kejadian.
 Entah mengapa aku merasa aku telah mejadi seorang cinderella yang bertemu dengan ibu peri dan langsung menjadikan tongkat ajaibnya sebagi alat untuk menjadikan mimpiku nyata.
Entah mengapa secar tiba-tiba bisa merasakan bagaimana rasanya terbang sepert elang dan burung-burung yang lainnya di atas awan.
Entah mengapa aku bisa berjalan beriringan bersama langit dan awan-awan tebalnya dengan pesawat terbang.
Yah itu semua salah satu harapan-harapanku yang aku tulis ketika aku mulai membuka lembaran baru di tahun 2018 disertai dengan harapan dan cerita indah.
Berharap kepada dunia agar tidak berhenti sejenak.
Kumohon! Aku masih ingin bercengkrama dengan alam.
Merindukan betapa bahagianya jika sajak-sajak jejakku terlujki di berbagai manca negara.  Tersiar keseluruh pelosok dunia.
Aku masih ingin menikmati seluruh keindahan tuhan yang telah diciptakan di dunia ini.
Dengan kesungguhan hati yang mulia, kesungguhan hati yang bersungguh-sungguh aku ingin sekali seperti Ibnu Batutah yang berlayar dengan kaki kerasnya mengelilingi dunia, menambah ilmu pengetahuannya dan menyebarkan agama islamnya ke seluruh pelosok penjuru dunia. Aku ingin di kenal oleh dunia. Bukan oleh manusia. Namun dunia. Karena ketika aku di kenal Dunia ( sang pemilik dunia) aku akan mudah untuk dikenal Manusia seluruh semesta.
Tak banyak dunia berpijak hanya karena hartacerita dan tahta.
Namun di sini, di tahun 2018 ini aku ingin berkarya bermunajat kepada sang pencipta bahwa sungguh aku bisa meraih semua harpanku di tahun 2018 ini benar-benar sungguh cerita nyata. Ini fakta dan bukan khayalan belaka.
Aku memang menulisnya dengan rasa tak sadar namun jiwa ini menyadarinya.
2018 mengajarkan aku bagaimana caranya mejadi manusia yang memiliki semangat seperti baja.
Seperti lantunan syahdu irama gemercik air di sana.
Sangat tenang namun jernih airnya.
Malam itu aku tetap terpuruk dalm keusnyian dan kehampaan.
2018 tidak hanya memberikan aku sebuah harapan yang gemilang namun juga kesedihan yang mendalam sehingga melahirkan pencapaian yang memukau.
Sini..
aku mau berbisik?.
Seraya bergemericik.
Tapi jangan panik!
Ini akan sedikit menggeretak!
Gendang telingamu akan retak!
Tpi tenanglah.
Aku tahu ini berlebihan
Aku rasa begitu
Karena 2018
 Bukan hanya menjadi hal yang kebiasaan
Namun sebuah keabadian kenangan
Yang patut aku harapkan
Akan selalu datang
 Memperbaiki sebuah keindahan

Di setiap kelahiran tahun-tahunan
Dunia dan senandunya.
Seraya mengucapkan
T Y T 2018
(Thank You Tahun 2018)


                                                                                            (Rompeng, 04 Januari 2018)


Apa Itu Rindu?
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Terkadang kata rindu di dunia hanya bersemayam menjadi abu. Ketika aku berjalan dalam sejarah rindu. Mengatas namakan rindu dan meminjam jejak sang perindu. Kutemukan sebuah sajak mengatas namakan sang penyair yang berkata rindu itu berat perihal tak sanggup menahan nafas yang berlarian bersama sang nafsu pecandu. Rindu itu indah katanya, ketika hati yang telah ditakdirkan bersama menuai kasih untuk selalu mengirimkan doa-doanya. Rindu adalah makna sang kaisar yang hanya dimilki oleh sang pejuang yang terlalu tenang dalam bayangan.
Menurutku...
Rindu itu ketika aku jauh dari kekasih terbaikku. Sang kekasih yang  selalu melindunigi, memperhatikan dan membuatku tersenyum disepanjang waktu. Sepanjang waktu melebihi hembusan nafasku. Dia adalah “Huwal Hayyul Qoyyum”. Dialah sang maha Perindu dan Maha memberi rindu kepada kekasihnya. Rinduku kepadaNYA ketika aku tak menyisakan waktu tuk membaca surat-surat cintaNYA, ketika aku mencuri waktu untuk memuji diriNYA, ketika aku lupa waktu untuk curhat kepadaNYA.
Allah adalah dzat yang selalu aku rindu. Dia yang memberikan rasa rinduku menjadi rindu yang abadi. Dia memberikan kekuatan kepadaku untuk berhenti merindu kepada sosok yang haram untuk aku rindukan. Dia yang selalu memelukku dikala hati ini rapuh dan kusam akan rindu yang mendamba secara berlebihan kepada makhlukNYA.
Rinduku menjadi sangat indah. Seindah gambaran syurga di surah Ar-Rahman. Sesejuk telaga Kautsar di dalam surah Al- Kautsar dan semenawan naungan ayat suci Al-Quran kepada para penghafalnya.
Sesaat kemudian aku bertanya pada diri ini.
“Oh! Apakah rinduku ini keliru? Dan akan segera menjadi abu? Akan tetapi biarlah! ini hanya sebuah makna rindu dariku kepada Rabbku! karena terlalu banyak definisi rindu yang tetrtata rapi di kamus dunia hingga menjadi sekarung filosofi tentang Apa Itu Rindu?

                                                                                                      (Rompeng, 01 Januari 2019)



     
 LULU’ ULFIYAH PINKKEDUST HAMID
Lengkapnya, Lulu’ Ulfiyah Aprilia. Hobi gue membaca Al-quran, buka whats-up, ig dan nonton youtube, hehe. gue suka banget jalan-jalan keliling dunia. Namun saat ini masih sebatas dunia Indonesia. Mohon doanya yah semoga tercapai traveling ke luar negerinya.Ammiinn. Kesibukan gue, nyari pasangan hidup, ya emang gt wkwwk... And if you want to get closer with me, kita bisa brteman di media sosial yah J.
FB: Luluk Aprilia
WhatsUP: 082331986581
IG: Pinkkedust_me
Blog: Snowyblowy.blogspot.com
Email: Luluk.ulfia.ipa3@gmail.com