T Y T 2018
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Awalnya, 2018
Ada seseorang berbsisk riuh di
telinga seakan tak kukenal siapa orangnya.
Mengenal tentang sebuah pesan
singkat dan cerita yang terkandung di dalamnya.
Tak pernah kusangka mungkin ini hanya akan
seperti tahun-tahun sebelumnya.
Datar tanpa harapan hanya sebuah
kejadian.
Angin riuh menerbangkan sebagian
kerudungku di malam hari di tepi kolam yang terasa sepi. Tak kurasa ini sudah
separuh halaman putih telah kutulis harapan-harapan yang akan kutempuh di tahun
2018 ini.
Detik demi detik aku memandang stau
persatu setiap bait dalam tulisanku itu.
Mencoba memaknai arti dari semua
harapan-harapan yang telah aku tulis tanpa rasa ragu menyelinap dalam hatiku. Sedikit
terbirit-birit dan terbata-bata aku membacanya.
Sungguh! Aku tak percaya. Inikah
harapan yang aku hrapkan di tahun 2018 ini.
Begitu rumit seakan aku bayangkan
namun kenapa tangan ini mudah untuk mengoretkan?
Tak kuasa di setiap lembaran
harapanku itu aku lantunkan jampi-jampi ajaib.
Sholawat dan dzikir aku selalu lantunkan di
setiap aku membacanya.
Berusaha sepenuh hati menggambarkan
langit seperti langit aslinya meski tak seindah apa yang ditatap oleh manusia
namun setidaknya aku bisa berkarya dan ukiran curiculum vitaeku secara nyata.
Indah bukan? Aku tersenyum sendirian
sambil mengernyitkan dahi, tanggal 01 bulan 01 dan 2018.
Aku menggumpal sendirian, menatap
langit pekat hitam yang masih terlukis indah dengan dihiasinya bintang.
“Langit, maukah kaperihu
menceritakan kepadaku pberihal dirimu mengapaselalu terlihat indah ketika
dipandang dan selalu menciptakan lukisan awan putih yang antik untuk
ditafsirkan?.
Akankah tuhan telah berpihak kepdamu
sehingga aku tak tau menau tentang dirimu?.
Atau Tuhan ingin aku berfikir dan
meneliti lebbih jau h tentang dirimu?.
Mungkin sejujurnya engkau tau namun
kau tak mampu untuk menjelaskannya kepdaku”.
Sebait dua bait ungkapan itu mulai
keluar dari mulutku.
Aku tak tahu mengapa aku berharap
sang langit menjawabnya.
Mungkin karena dia memiliki sebuah rahasia
indah tentang diriku yang telah diketahui darinya tentangg apa yang akan
terjadi padaku di tahun 2018 ini nantinya.
Aku tahu! Aku tahu mengapa aku
berfikir begitu. karena tuhan inigin aku berfikir.
Tuhan ingin aku memperbaiki diri
sebagaimana aku berani memunculkan harapan-harapanku di lembaran putih alat
canggih berbentuk kotak itu yang hanya akan memunculkan sebuah kehidupan
kosakata jika ada yang menekannya.
Sungguh benar! Benar-benar terjadi.
Harapan-harapan yang aku tulis di awal tahun
2018 ini penuh keajaiban penuh kejadian.
Entah mengapa aku merasa aku telah mejadi
seorang cinderella yang bertemu dengan ibu peri dan langsung menjadikan tongkat
ajaibnya sebagi alat untuk menjadikan mimpiku nyata.
Entah mengapa secar tiba-tiba bisa
merasakan bagaimana rasanya terbang sepert elang dan burung-burung yang lainnya
di atas awan.
Entah mengapa aku bisa berjalan
beriringan bersama langit dan awan-awan tebalnya dengan pesawat terbang.
Yah itu semua salah satu
harapan-harapanku yang aku tulis ketika aku mulai membuka lembaran baru di
tahun 2018 disertai dengan harapan dan cerita indah.
Berharap kepada dunia agar tidak
berhenti sejenak.
Kumohon! Aku masih ingin
bercengkrama dengan alam.
Merindukan betapa bahagianya jika
sajak-sajak jejakku terlujki di berbagai manca negara. Tersiar keseluruh pelosok dunia.
Aku masih ingin menikmati seluruh
keindahan tuhan yang telah diciptakan di dunia ini.
Dengan kesungguhan hati yang mulia,
kesungguhan hati yang bersungguh-sungguh aku ingin sekali seperti Ibnu Batutah
yang berlayar dengan kaki kerasnya mengelilingi dunia, menambah ilmu
pengetahuannya dan menyebarkan agama islamnya ke seluruh pelosok penjuru dunia.
Aku ingin di kenal oleh dunia. Bukan oleh manusia. Namun dunia. Karena ketika
aku di kenal Dunia ( sang pemilik dunia) aku akan mudah untuk dikenal Manusia
seluruh semesta.
Tak banyak dunia berpijak hanya
karena hartacerita dan tahta.
Namun di sini, di tahun 2018 ini aku
ingin berkarya bermunajat kepada sang pencipta bahwa sungguh aku bisa meraih
semua harpanku di tahun 2018 ini benar-benar sungguh cerita nyata. Ini fakta
dan bukan khayalan belaka.
Aku memang menulisnya dengan rasa
tak sadar namun jiwa ini menyadarinya.
2018 mengajarkan aku bagaimana
caranya mejadi manusia yang memiliki semangat seperti baja.
Seperti lantunan syahdu irama
gemercik air di sana.
Sangat tenang namun jernih airnya.
Malam itu aku tetap terpuruk dalm
keusnyian dan kehampaan.
2018 tidak hanya memberikan aku sebuah
harapan yang gemilang namun juga kesedihan yang mendalam sehingga melahirkan
pencapaian yang memukau.
Sini..
aku mau berbisik?.
Seraya bergemericik.
Tapi jangan panik!
Ini akan sedikit menggeretak!
Gendang telingamu akan retak!
Tpi tenanglah.
Aku tahu ini berlebihan
Aku rasa begitu
Karena 2018
Bukan hanya menjadi hal yang kebiasaan
Namun sebuah keabadian kenangan
Yang patut aku harapkan
Akan selalu datang
Memperbaiki sebuah keindahan
Di setiap kelahiran tahun-tahunan
Dunia dan senandunya.
Seraya mengucapkan
T Y T 2018
(Thank You Tahun 2018)
(Rompeng, 04 Januari 2018)

