`cursor

Jumat, 01 Desember 2017

The Magic of Qur'an

The Magic of Quran 
(by: Lulu’ Ulfiyah Hamid) 



One day there was a young girl who lived in a small village which the environment did not care about education. The girl named Lila wanted to continue her study till the high level of education like as university or college but her parent had no money to make it become true. She still kept her dream by learning anthuastically because she certainconvinced with Allah her dream were going to become true. 

She always recited al quran everytime and tried to memorize the  whole ayat of al qur’an. She was very anthusiastic to learn and continue her study. Unfortunatelly, her parent ignored what she did and attempted to couple her with the young man from the richest family. It was very complicated to do because her parent forced her to accept it. Unless she would not confess as their daughter. Her mother said “If you do not agree with it, you will not be our daughter again.” Her father said “Yes, it will be!.” It made her very confused to do.she ask God for the solutions. 

After along time, Allah answered he pray. He sent her a recommendation letter from Oxford University that she was chosen as one of student in Indonesia who got schoolarship abroad. She told her parent related with the letter. Suddenly, it touched their heart and they cried because of her. They directly reject the matchmaking from the richest family than they permitted her to acchieve her dream. She was ver happy and proud of God with everything that he was given to her.  “With Al Quran, Everything impossible can be”

Will You Marry Me, LONDON?

                                    “Will You Marry Me?, LONDON!”


Aku tak tahu apa yang aku rasakan, ketika pertama kali aku melihatnya pandanganku seakan langsung tertuju kepada dirinya, apakah karena kaos itu, atau karena diriku yang sedang terbawa suasana?. Sosok lelaki tampan berwajah arab tinggi berpakaian kaos pink bertuliskan “I am Okay with Pink” berjalan melewati trotoar kampus tepat disamping diriku. Aku terdiam sejenak, mencoba berfikir, melamun dan mengikuti alur cerita imajinasiku tentang dirinya. Oh entahlah ini terlalu rumit untuk aku pahami. Aku memang suka berimajinasi namun imajinasiu saat ini tidak sesuai denga daftar skenario drama imajinasi hidupku. Sungguh!, lelaki tadi sudah berhasil memikat sebuah hati yang sudah mulai dulu terlelap dari tidurnya. Satu hal yang aku harapkan saat itu adalah “Semoga aku bisa bertemu kembali dengan dirinya dalam suasana indah yang nyata”
Satu setengah tahun sudah cukup bagiku untuk beradaptasi dengan negara kerjaan ini. Inggris, adalah salah satu kota yang menerima diriku serta memilihku untuk bisa memancing ilmu dan pengalamn baru di hidupku. Aku sangat menikmatinya, dengan biaya yang ditanggung negara karena aku termasuk salah satu Mahasiswa Indonesia yang lolos seleksi test LPDP scholarship in abroad. Banyak sekali keindahan serta kehidupan baru yang aku dapatkan disana. Disaat gugrny adaun daun kuning, maroon, orange dari pohonnya, dinginnya hawa dan sejuknya salju yang membuat diriku harus memakai mantel berbulu bulu indah di daerah leher membuatku tak lupa bersyukur akan kado terindah dari tuhan ini.
Namun rasa rindu tetaplah membeku menjadi sebuah rindu. Keluarga adalah rindu yang sangat aku benci. Aku ingin memeluk mereka akan tetapi apalah daya aku tak bisa. Masa kontrak belajarku dengan negara mera putih itu belum selesai, sehingga aku harus menunggu musim autumn tiba, ketika masa ujian akhir kuliahku selesai. Sungguh rindu ini sangatlah perih untuk aku pendam. “kring-kring-kring” deringan nada telephone hp ku berbunyi. Aku segera mengambilnya, setelah aku mulai menghapus layarnya, ternyata itu video call dari Mama. “Oh Tuhan, ada apa ini? Sungguh engkau baik sekali terhadap diriku!. Terima kasih banyak Tuhan.” Aku dekap sejenak hp itu seraya memejamkan mata sambil tersenyum bahagia dan sangat bahagia.
Wajah cantik mama mulai terlukis jelas dalam layar kaca hp ku.
“Assalmualaikum Mama!” seruku sambil melambaikan tangan kanan yang sedari tadi berusaha untuk merapikan kerudung pashmina yang hanya menempel tanpa peniti kecil saat itu.
“Waaalaikum salam Lulu”  seraya tersenyum lembut kepadaku.
Ya Tuhan, senyuman itu. Iya senyuman itulah salah satu yang membuat aku rindu selalu merindukannya.senyuman yang dapat menghangatkan dinginnya cuaca salju di Inggris. “lulu tambah gemukan ya disana? wkwkwk tambah bening pula kamu. Kelihatannya anak mama yang satu ini kerasan sekali tinggal di negeri orang?.”
 Aku tertawa sedikit terbahak bahak ketika mender candaan dan rayuan mama itu. “Aduh mama, kangen banget lulu rindu so muchhhhh” ungkapku seraya menegcup layar hp android itu.
 “hehhhe sama lu, mama juga kuangennnn banget sama Lulu. Oh iya, sebenarnya mama menelpon lulu mau ngomong serius nih!” ucapnya sambil melirik senyuman rayu.
 “Ih mama apaan sih, rayu luluk terus!” ucapku seraya menghilangkan rasa tegang itu. Aku belum paham, dengan ungkapan mama “berbicara serius”.
Memangnya ungkapan rasa rindu tadi itu hanya main main? Uh uh, entahlah aku masih menunggu ucapan mama selanjutnya.
“Iya ma, ada apa ngomong saja, lulu pasti dengerin semuanya dengan teliti dan pasti!”dengan senyuman kecil dan ekspresi konyol, merespon ucapan mama.
Mama mulai mengutarakan pembicaraan seriusnya kepadaku. ”Seperti ini, kemaren ada temannya mama main kerumah dan tanya kabar Luluk di situ karena anak dia on the way kesana buat melanjutkan S3 jurusan Jurnalistik. Dan maksud kedatangan temannya mama juga itu untuk melamar Luluk untuk dijodohkan dengan anaknya. Jadi kan enak tuh nantiny, kalian sudah satu negara disana, bisa saling kenal. Oh iya, sebelum mama lanjutkan, luluk rencana lulus S2 kapan?”
Pertanyaan itu mengkagetkan diriku, dari lamunan yang tidak sepatutnya kau fikirkan . “In syaa Allah 2021” jawabku terhadapnya dengan wajah sedikit datar.
“Nah kebetulan dia juga lulus S3 tahun 2021 juga, jadi rencana kami setelah kalian pulang nanti bakalan langsung diadakan resepsi pernikahan kalian dan sekalian sebagai salam penyambutan.” Ungkap mama seraya tersenyum bangga terhadapku.
“What? Gue nikah 2021? Beneran nih bukan mimpi?.“ gumanku dalam hati. “Terus bagaimana nasib cowok charming yang memakai kaos pink tadi di kampus?”. Sebenarnya aku sedikit tidak terima dengan perjodohan ini, namun ya mau bagaimana lagi, mau gak mau aku harus terima. Mungkin pemuda charming itu hanyala malaikat lewat yang sedang menjaga diriku melalui perintah tuhan atau apalah itu.” Sudahlah aku berusa menenangkan diri untuk bisa menjauhi pikiran ini tentang si cowok pink bertuliskan “I’M OKAY WITH PINK”. “
“Lu, bagaimana sayang? Lulu mau kan atas perjodohan ini?. Dia adalah pemuda penghafal Al quran 30 juz dan juga dia juga sudah memiliki beberapa lembaga terkemuka pendidikan jurnalistikyang terkenal di Indonesia. Apakah luluk sudah bertemu dengan dia?. Lagi lagi, pertanyaan mama mengkagetkan diriku yang sedari tadi hanya diam mendengarkan cerita mama tentang pemuda yang alih alih bakalan jadi calon suamiku.
“Belum ma, luluk baru tahunya sekarang dari mama. Boro boro luluk tau, wajah dan namanya saja kagak tahu.” Jawabku kepada mama sambil tertawa cekikikan.
“Iya nak, mama sudah memberikan salah satu foto kamu. Mungkin nanti dia bakalan menemuimu disana. Mama minta maaf sebelumnya, soalnya ambil foto luluk tanpa idzin kamu dulu. Soalnya mamanya Ziyam, minta langsung waktu itu, mau dikasih ke dia. biar nanti pas disana mudah bertemu kamu.” Ungkap mama berusa menjelaskan alasannya karena telah memberikan fotoku tanpa seidzinku sebelumnya.
“Oh seperti itu. yakagak apa. Ini  yah ma, Luluk ini anaknya siapa? Mama kan, itu berarti milik mama kan. Ya terserah mama lah. Heehheh” jawabku menennagkan mama dari rasa bersalahnya.
“Mama sehat, adek adek, dan kakak semuanya disitu?” setiap kali aku menghubungi mama, pertanyaan itu tak pernah lupa aku utarakan.
 “Alhamdulillah nak,  kamu bagaimana disana?”
“sehat ma Wal afiat” sambil menorehkan senyuman terhadapnya.
“Ya sudah dulu ya, mama tutup dulu.  Assalamualaikum, mmuach! Baik baik disana ya, janagan lupa ibadahnya dan kesehatannya.” Ucap mama sebelum video call itu berakhir.
 “Iya Mah, mama juga ya, muach! Waalaikum salam warahmah wabarokah. Bye bye” ucapku sambil menggerakkan 5 jari tanganku terhadapnya.
Ketika layar hpku kembali ke layar awal, dengan background walpaper foto diriku bersama keluargaku. Pikiran ini mulai berkecamuk, memikirkan tentang perjodohan tadi. “kok aku jadi nervous gitu ya.” Aku mulai memikirkan hal hal aneh seperti yang biasa terjadi di skenario FTV. Aku merupakan salah satu korban scenarionya memepengaruhi kehidupanku. Agakaneh memang, tapi biarkanlah aku mencoba untuk berpositif thinking untuk dia.
 Aku mulai melupakan tentang dirinya, itu dengan melakukan aktivitas yamg biasa aku lakukan di hari libur. Membaca buku, menyelesaikan beberapa tugas yang belum selesai dan salat sunnah.  Hari itu, cuaca sedang bersahabat denganku. Cuaca itu mengingatkan akan cuaca di negara tercintaku. Sambil berdiri di depan jendela apartemen lantai 5 sambil memandangi panorama keindahan kota, cukup indah dan sedikit menyejukkan perasaan gelisahku akan cerita mama di pagi itu. Cukup lama aku berdiri disana, sambil menikmati roti berlapis cokelat didalamnya, tiba tiba aku melihat pemuda yang telah mencuri hatiku itu. iya, pemuda yang pernah berpapasan denganku di trotoar jalan kampus itu. aku mulai mengucek-ngucek mataku lagi, seraya memastikan bahwa penglihatanku masih normal dan sosok itu bukan pengaruh dari fikiranku tentang dia.
 “Daebak[1], sungguh itu adalah dia. pemuda yang telah berhasil mengganggu aktifitas hariku, tapi ngapain dia melewati daerah sini ya? Apakah apartemen dia tidak jauh dengan apartemen yang aku tempati?”. Bertubi tubi pertanyaan aneh daan kagak jelas mulai memenuhi kepalaku. Sedikit senag sih perasaanku karena pemuda yang tanpa nama itu sudah berani menampakkan dirinya dengan berlari lari kecil tepat di depan apartemenku. Sesekali dia seakan akan melihat diriku dan mengalihkan pandangannya pelan pelan.
Aku segera pergi meninggalkan jendela itu, dan segera meanruh gelas dan bersiap siap untuk pergike mini market untuk membeli keperluan makanan sehari hari yang mulai menipis. Aku mencoba untuk melupakan pemuda hanya aku bertemu di trotoar itu tanpa nama dan gak jelas.
“Please, stop thinking about him. It just beat your heart, who knows that he had girlfriend[2].” Ungkapku seraya mencoba untuk memberhentikan diriku sendiri untuk tidak memikirkannya lagi.  “astaghfirullah hil adzim” ucapku tiba tiba, ketika aku menyadari bahwa aku sudah memikirkanhal yang belum pasti terjadi.
Melupakan seseorang dalam hidup merupakan suatu hal yang sulit seseorang alami namun tidak dengan diriku. Dengan mempraktekan satu trick yang di utarakan oleh Wirda Mansyur yang dia dapatkan dari Papanya (Ust. Yususf Mansyur) bahwakalau kalian inginmudah melupakan seseorang atau kta kernnya ingin cepat bisa “MOVE ON” maka “Bayangkan saja wajah dia ketika dia lagi EE’ (BAB)”. Kedengarannya memang terdengar sedikit aneh dan a little bit “Jork” sih tapi itu bisa membantu loh. Buktinya saja, setelah aku mempraktekan hal itu lagi agar bisa melupakan si charming pink itu, alhamdulillah dihari itu juga aku sudah menghapus semua memori tentang dia. sedikit melegakan dan tidak lagi menganggu ketenangan hidupku ini. 
Setelah mandi dan memakai baju santai serta sedikit Blas on di wajah dengan disertai lapisan lip gloss berwarna pin kalem aku dengan pedenya siap keluar dengan menggelantungkan little bag cute hadiah dari mbak aku ketika pertama kali aku bermain ke Jogja tepatnya di Malioboro. “Bismillahirrahmanirrahim.” Aku menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Senang sekali rasanya, bisa mengisi hari libur dengan shopping walaupun hanya dimini market, setidaknya sedikit menghilangkan kepenatan akan tugas kuliah. Di dalam lift apartemen, aku bertemu dengan teman kelasku si Lussie, dia berasal dari German dan dia  juga sama sepertiku, mendapatkan schoolarship kuliah ke luar negeri tepatnya di London dengan jalur LPDP.
 “Where will you go out lulu?”
“Just go to Mini Market, whats up?, do you want to intrust some food or ..” \
“No No, I just ask, yeah! Because you look very beauty,” dia mencoba bercanda,
“I know, You are kidding me uh.” “Just bye dear...” aku pun sampai di lantai santu dan aku harus segera pergi meninggalkan si Lussie.
Pagi itu aku malas sekali  jalan kaki, jadi aku mengambil sepeda ontel pink yang sengaja aku beli di sana. Sebenarnya, jarak apartemen ke kampus dekat sih, namun aku menginginkan saja. Soalnya saya sudah terbiasa menggunakan sepeda ontel pas ketika S1 di Madura. Lagi pula dengan menaiki sepeda aku bisa lebih enjoy dalam menikmati indahnya pagi hari di London. Di setiap sudut jalan raya London jam 06.00 pagi sudah rame sekali. Penduduk di sisni sangatlah rajin dalam bekerja. Jadi jangan kaget kalo jam 06.00 itu traffic jump sudah beraksi.
Sekitaran tiga menit, akupun sampai di depan mini market itu. aku segera turun dan meparkir sepeda di tempat parkir “Bcycle”. Aku segera memasuki marketnya dan pergi ke area garis yang bertuliskan food and vegetable. Akan tetapi, pagi itu aku melihat bayangan dia lagi di market itu. “ha? Ini karena efek aku keapgian belanja atau emang dia sedang belanja juga?” gumamku dalam hati, sembari mengambil mie samyang kesukaanku. Aku tidak menghiraukannya dan membiarkannya begitu saja. Sampai akhirnya aku mau bayar di kasir itu. “Ok miss, how much at all?” tanyaku kepada mbak mbak kasir itu. “fifty five hundred dollar.” Jawabnya.
  • Aku mencoba untuk mengabil caash yang telah aku siapkan sebelum berangkat. Akan tetapi tiba tiba ada sebuah tangan kekar tepat dibelakangku menyodorkan uang dan mencoba untuk membayar barang belanjaanku. Aku berusaha menoleh kebelakang untuk mengetahui siapakah gerangan itu. sungguh, hal itu sangat mengkagetkan diriku. Dia adalah pemuda kaos pink itu. iya dia, dia berusaha membayarkan belanjaanku di market mini itu. Seketika itu, aku mulai nervous, keringatan dan wajahku memerah. Aku jadi bingung mau ngapain dan aku hanya seperti patung yang tidak bisa bergerak meninggalkan barisan itu.

“Luluk, kan ya?” dia mulai menatap serta berbicara jelas di hadapanku.
“Oh iya kak, dari Indonesia ya?” tanyaku belagak gak tau, padahal pertanyaan yang aku utarakan itu tidak membutuhkan jawaban sih hanya sebagai penikmat suasana saja.
 “Iya. Lulu kenal saya?” ucap beliau sambil melangkah keluar mini market dan akupun juga melangkah mengikutinya dari belakang.
Sambil mendekap erat jacket berkulit beruang itu karena semburan dingin salju di pagi itu.
“Kamu lagi gak sibuk kan?”

Tanya sang kakak pink itu yang membuat hatiku semakin deg deg serrrrrr.. hehehe. Senang sekali bercampur tegang. Akhirnya kami duudk bersebelahan di kursi kayu yang lumayan luas persegi panjang yang dihiasi ukiran lukisan sejarawan kota london. Sambil memesan dua gelas capucino hangat, dia melanjutkan pembicaraannya kembali. “Perkenalkan nama saya Muhammad Ziyam Abdullah.” Pembicaraan dia terputus dikarenakan pelayan mini market mengantar dua gelas capucino kepada kami. Dia menerimanya sambil mengatakan
“Thank sista” sambil tangan kananya memberikannya kepadaku.
“Ziyam adalah namaku dan Abdullah adalah nama bapakku. Ya biasalah, kan kamu mengerti orang Indonesia yang kebanyakan meletakkan nama ayahnya di akhiran nama pribadi.”
“so, Muhammad?” tanyaku sambil meminum capucinno dan melirik kepadanya.
 “Oh itu, itu karena aku cinta Nabi Muhammad saja. hehehehh”
 Dia mulai ketawa sambil menatap gelasnya. Sungguh ketawanya dan senyumannya sangat indah sekali.
Saat itu, aku merasa bahwa suasanan itu hanyalah sebuah mimpi. Namun, aku sadar bahwasemua itu adalah nyata karena aku dikagetkan dengan tumpahnya separuh cappucino hangat itu. “Ohhh!Ouch!” desisku seraya membersihkannya dengan syal abu abu yang bercamour taburan pink itu. Hal itu membuat dia kaget dan segera mengambil sesuatu di dalam kantong celananya dan memberikannya kepadaku seraya berkata
“Sudah! Jangan dihapus menggunakan syalmu nanti kotor. Ini pakai sapu tanganku saja.” ucap dia kepadaku sambil memberikan sebuah sapu tangan kecil untukku.
“Oh okay, terima kasih banyak. Oh iya, jadi what should I call you?” sambil mengelap bajuku dan telapak tanganku, aku menanyakan perihal aku harus memanggi dia siapa.
“Ziyam, you can call me Ziyam.” Jawabnya sambil menatap telapak tanganku yang memerah akibat tumpahan cappucino hangat tadi.
 “Are you okay, Luluk? Or should I take you up to doctor?” tanya dia lagidegan wajah cemas dan perhatian.
 “No, no problem. I just need to go home. So, Ziyam! Aku balik duluan yah. Teman kosku sudah menunggu okay. See you!” jawabku seraya memberikan penjelasan kepadanya dan berpamitan pulang.
“Eh wait, Can I have your number?” ucap dia kepadaku.
 Benar sekali. Oh Tuhan! Terima kasih banyak kau telah membuat dia mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam hati ini. Sambil memejamkan mata dan menggigit bivbir karena bahagia aku mulai menjawabnya dengan gaya sok cool tanpa memperlihatkan betapa bahagianya aku dengan tidakannya itu.
“Oh Sure, here!” aku mengambil catatan kecil dan bolpoin yang setiap hari aku jadikan kalung di leherku.
“Yup! Thank you. Can we meet again?” tanya dia lagi kepadaku.
“Yeah Ziyam. If I have a spare time, we can meet and thank you for today.” Balasku kepadanya seraya pergi meninggalkannya.
Pagi itu adalah pagi yang teakrindah dari Tuhan di London yang pernah aku alami sebelumnya. Lelaki charming, tampan gagah yang aku kagumi dengan sendirinya menghampiriku tanpa ada alasan.
“Tuhan! Sungguh aku mau menikah denganya” jeritku didalam hati.
Sesampainya di apartemen kamar aku langsung merapikan semua belanjaan yang aku beli dan merapikannya di lemari es dan tak lama kemudian...
“kling!” hpku berbunyi, itu berarti ada sebuah pesan untukku.
Aku mengambil handphone yang sedaritadi aku taruh di sofa kecil kamarku.
“Oh My Lord!” ungkapku kepada tuhan seraya menutup mulutku karena shock ketika melihat layar handphone itu.
“Assalamuaalikum, Lulu! It’s me Ziyam.” Pesan itu singkat namun membuat aku bingung untuk menjawab apa.
Aku mencoba menenangkan diri dengan mengambil segelas air putih yang setiap hari aku simpan di lemari es itu. aku mulai meminumnya dengan tatapan kosong bahagia.
“waalaikum salam Ziyam! Iya I gotta save your number. Ok!”
 Kling!
“Thank you!”
“Lulu I have something serious to tell at you, May I?”
“Just say kak”
“Aku dijodohkan dengan kamu dek!. Pertama kali aku melihat foto kamu aku langsung tertarik akan dirimu. Begitu aku tahu bahwa kamu ada di London aku segera menyusul kesana dan mengurus pemberangkatanku. Sebenarnya saya masih ingin berangkat tahun depan ke London karena liburan kuliah kakak masih bulan depan lagi. Akan tetapi saya ingin cepat cepat menghampiri kamu. Aku ingin segera menghitbahmu dan menikahimu. Wahai Lulu’ Ulfiyah Aprilia, will you marry me? In LONDON!”
Aku kaget membaca pengakuan tentang perasaan dan niatnya kepadaku.
“Ih kagak romantis banget ya, ini orang! kok lamarnya lewat Sms, setidaknya lewat telephone lah atau traktir makan gitu. Kan lumayan, pengiritan.” Ungkapku dalam hati.
Aku membaca pesan itu berulang kali. Aku takut ini hanya mimpi dan perasaanku saja karena sebenarnya aku sudah menyukai dia saat pandangan pertama. Sebauh pertanyaan yang menjadi penutup pesan dia itulah yang membuat aku bingung harus menjawab apa.
Keringaat dingin mulai melumuri tubuhku. Aku tak sanggup menahan keringat ini. Aku hidupkan AC kamarku berskala tinggi namun hasilnya nihil. Akhirnya aku mencoba membalasnya.
“Maaf kak, saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Saya butuh waktu untuk menjawwab serta memutuskan semua ini. Berilah aku waktu tiga hari untuk menunggu jawaban yang tepat dari Tuhan kak” ungkapku dengan tegas.
Walaupun didalam hati aku sangat menyukai dirinya, namun dalam permasalahn ini aku tidak boleh hanya mengikuti keinginan hawa nafsuku saja karena pernikahan hanya harus terjadi sekali dalam hidup dan tetap satu kali dalam hidup. Aku tidak mau memiliki kehidupan pernikahan yang silih berganti seperti kebanyakkan pernikahan para artis di televisi. Pernikahan merupakan salah satu ibadah wajib didalam islam jika kita telah mampu untuk menikah, maka separuh agama kita sudah terpenuhi. Itulah merupakan salah satu dari kutipan buku yang pernah saya baca dalam Fiqih Pernikahan dalam Islam.
“Baiklah Lulu’! saya menghargai pendapatmu. Saya bersedia menunggu jawaban terbaik darimu. Semoga Tuhan memilih Sang Ziyam ditakdirkan untuk bersanding dengan dikau” balas dia kepadaku.
Hatiku sangat tersentuh dna sedikit bergetar membaca kutipan pesan itu dari sang kaos pink itu.
“Amin!” balasku kembali.

Akupun segera menutup handphoneku dan melanjutkan aktifitas di pagi itu. aku belum berani untuk mneceritakan kepada mama tentang pengakuan perasaan Ziyam itu kepada diriku. Aku masih bimbang tentang jawaban apa yang harus aku berikan kepadanya. Sedangkan diriku sedikitpun belum mengenal secoreh tintapun tentang celoteh kehidupannya. Hanya pasrah dengan jawaban Tuhanlah aku meminta kepadanya.
            “Subhana Robbiyal A’la wabihamdihi” kutundukkan kepadaku di sepertiga malam itu hanya kepadanNya. Seraya mengutarakan akan kebimbangan diriku dalam memutuskan suatu permasalahn akan dirinya. Sampai akhirnya salat malam itu aku akhiri dengan salat istikharah.
            Sesaat kemudian, rasa kantuk mulai mengganggu mataku. Terasa pekat rasanya mata ini  ingin beristirahat. Akupun mulai tak sanggup menahannya dan akhirnya aku terlelap diatas sajadah dihadapanNya.
            Satu menit aku membiarkan mataku tertutup, aku merasa diriku berada didalam sebuah cahaya yang penuh akan bunga bunga bermekaran bewarna pink dan merah. Sunggu aromanya sangat menyeruak didalam hidungku seakan terasa kau sangat menikmatinya. Aku serasa berlarian mengelili tempat itu, tempat yang cocok untuk aku sebut sebuah taman. Namun taman itu sungguh aneh dan aku juga merasa aneh. Aku tidak pernah mengunjungi sebelumnya namun aku merasakan sesuatu yang sama. Tiba tiba, datanglah sosok lelaki berpakaian putih bercampur dengan taburan debu pink dibajunya. Lelaki itu adalah Kak Ziyam. Iya kak Ziyam. Aku begitu mengenali dirinya. Dia datang menghampiriku dan menarik sebelah tangan kananku. Aku begitu bahagia pada saat itu. karena selama akau hidup dimuka bumi ini aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya dipegang erat bergandengan tangan bersama sama oleh seorang lelaki yang aku sukai. Dia mengajakku kesebuah tempat yang berada dibagian dalam taman itu. aku mengikutinya. Terdapat banyak orang yang menyambut diriku dan dirinya dengan senyuman sumringah. Kebahagianku tidak dapat aku pangku lagi, sungguh ada Babaku yang telah menungguku disana. Menungguku untuk menjadi wali dalam pernikahanku seraya tersenyum sangat bahagia dan mengedipak kedua mata sucinya dua kali. ketika aku beranjak untuk berlari karena begitu rindunya aku akan sosoknya, aku terpleset dan terjatuh seraya aku berseru “Aduh!”. Akupun sadar dari mimpiku itu dan ternyata aku rasa sakit itu aku dapatkan karena kepalaku terbentuk ke tembok jendela kamarku.
“Aduh sakit sekali!” sambil mengelus ngelus kepalaku.
Dan saat itulah aku sadar, bahwa itu hanyalah mimpi belaka namun mengandung makna tersirat didalamnya dan aku memahaminya.
Aku segera mengirim pesan kepada Kak Ziyam
“Assalamualaikum kak!Aku menerima lamaranmu dan aku bersedia menjadi istrimu satu tahun lagi.” Jelasku kepadanya.
Saat itu juga dia segera mebalasnya.
Alhamdulillah, subhanAllah Walhamdulillah Walailahaillah Allah hu Allah hu Akbar” balasnya dia kepadaku.
Aku semakin kagum kepadanya karena aku terkesan sangat diinginkan darinya. Dari sosok seseorang lelaki yang pertama aku jatuh cinta didalam sejarah romantisme kehidupanku.


SELESAI



[1] Ungkapan ekspresi  shock dalam bahasa korea.
[2] Luluk suda deh, jangan fikirkan dia terus. Itu hanya akan menyakiti dirimu. Siapa yang  tahu, kalau dia sebenanyar sudah memiliki pacar.  

Jumat, 22 September 2017

Tentang Kamu

Tentang Kamu
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Hi ayah!
Apa kabar kau di sana
Banyak sekali ilusi indah
Yang memberikan ilusi berkah

Ayah!
Ingatkah engkau
Dikala pagi subuh menjelma
Kau membawa netra ini berkelana
Di setiap gengaman hakus tanganmu
Menarik tubuh ini berjalan mengikuti alur aspal itu

Di setiap tempelan embun bening di sela-sela rumput
Di setiap hembusan angin pagi berterbangan hanyut
Di setiap seruan titah ajakanmu
Menaburkan sebongkah kebahagiaan kepadaku

Hi Ayah!
Inilah segoret tentangmu
Tentang tinta kasih sayangmu
Tak akan pernah terhapus dalam setiap memori seluit pandangku
                                                                                                   (Pamekasan, 09  agustus 2017)



Teman Pena

Teman Pena
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Teman pena!
Satu kata dari dirimu
Di setiap sentuhan bait puisi itu
Tertera sebuah kata ajaib darimu
Menulislah!
Teruslah!
Berkaryalah!

Arungi titisan psang puebi mendalam
Kuasai setiap kata yang terikat lekat KBBI
Hiasilah butiran-butiran rasa
Percikanlah nada-nada membara

Teman pena!
Titah mulyamu kepadaku
Seruan pedas didikanmu
Menerjang awan hatiku
Menusuk pelik gemuruh semangatku
Terima kasih wahai teman penaku
Kau akan kukenang selalu
Dalam setiap torehan penaku
                                                                                                                                      

                                                                                                                (Madura, 9 agustus 2017)





Sebait Rindu

Sebait Rindu
(Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia)
Ini hanyalah sebait rindu
Rindu seorang anak kepada lelaki pertamanya                        
Ayah!
Gumpalan sayap itu selalu menari-nari mengajakku berlari.
Namun tak ada setitik bayanganmu di balik sayap itu.

Ayah!
 Beribu dusta atau pun duka yang kau beri.
Tak sedikitpun menutupi sebait puisi ceritamu.
Ini hanya lah sebait puisi untukmu.

Dariku! Dari anakmu yang menaggung rindu.
Tak kuasa dalam pilu.
Beribu harapan telah ku terbangkan.
Hanya beberapa serpihan perih lalu lalang.

Ayah!
Kemanapun kau pergi.
 Berapa jauh hektarpun kau melayang.
Walaupun kau menyapaku seluit pandang.

Aku pun bahagia!
Tersenyum bahagia!
 Hanya berada dalam dekapanmu
Ayah! Sebait rindu puisi ini kupersembahkan kepadamu.

                                                                                                          (Lebbek, 09 agustus 2017)

Kehilangan Sang Ayah

                                                            Kehilangan Sang Ayah
                                                         Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Gemuruh hujan mengguyur hati ku
Mengisi dada tak berjenuh biru
Ketika ku mendengar kawanan ku
Bercengkrama manja dengan Ayahnya
“Ayah, gmana kabarnya,... Oh Ayah”

Aku mencoba menjemjam hati ku
Menahan seluitan pedang mencincang hati ku
Gerilya serentak hati dan fikiranku
Medebatkan perasaan yang ada

Julaian itu hanya bergelimang gelimang
Meneteskan sebutir air mata
Membiarkan arusnya terbuka lebar
Isakan tangis itu terdengar di telinga ku

Tanpa sadar ku tak bisa menahannya
Selayang pandang aku melihatnya
Berdebam tak menentu ku berkhayal
Seandainya kau datang kembali Ayah,

Satu tapak jejak semut pun tak akan ku tampakkan pada mu.
Sungguh! Ayah...
Begitu memaksannya aku meminta mu
Tuk kembali ke alur maya ini
Namun inilah realita hakiki rinduku
Karena kehilangan mu begitu menghujam diri ku.

                                                                                                             (Bangkalan, 12 Juli 2017)

Penyesalan

Penyesalan
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia
Di sudut ruang
Berpagut pada kekosongan
Tak henti bayanganmu menjejal
Sirap-sirap memori usang
Terungkap

Kubuang jutaan detik waktu
‘Tuk mengenang bayang-bayangmu
Namun hanya sebatas fatmorgana
Berlalu tak bersisa

Kau acuhkan aku dalam gemerlap
senda gurauku
Kau menjauhiku
Saat kubiarkan kubiarkan
Waktuku berlalu

Kenyataan memang kejam
Pengorbanan terpaksa rajam
Menyisakan penyesalan tajam
Kapan punmampu menghujam

Tersungkur ‘ku tak berdaya
Putus asa tak berupa
Tertunduk malu dalam amarah

Wahai kau yang di sana
Lihatlah!
Aku wanita yang kau sia-siakan hadirnya.
Wahai kau yang di sana
Sadarlah!
Aku bukan udara, yang tak ternilai
Namun di beli saat kau butuhkan

                                                                                               (Gubuk Pinkywinky_30 juli 2017)