Rentang
Qur’an
1
TENTANG
MEREKA
Hi perkenalkan nama aku Zita Fathia Lubis,
aku biasa dipanggil Zita. Mau tau rentang perjalanan hidupku bersama Quran
kan.. yuk simak ceritanya di bawah ini. eh..eh.. maksudku di bawah ini adalah
cerita tentang diriku. Ah sama aja ya. Udah ah biarin aja. Selamat membaca.
- - -
- - - -
Adakalanya rindu itu menetas seperti telur
yang telah dierami oleh induknya. Beralih-alih cinta itu datang denagn
sendirinya tanpa harus ada yang mengerti asal mulanya. Ini sama seperti kisah
cinta sahabatku. Aku mengerti memang menjadi jomblo itu sedikit menyedihkan
namun tidak menyakitkan karena memiliki pasangan sebelum halal itu illegal
namun bisa dimanfaatkan. Iya sama seperti kendaraan yang tanpa surat-surat
penting atau durno. Banyak sekali orang yang tidak berfikir panjang
mengenai hal tersebut. Lebih parah lagi,mereka sampai menganggap bahwa pacar
mereka sudah seperti suami mereka sendiri padahal belum pasti. Iya! Belum
pasti. Belum pasti orang yang mencintai kita (pacar) saat ini akan langgeng
terus sampai urat nadi putus. Ada ada aja saat ini. namun inilah realitanya.
Dulu waktu aku masih SMA aku tak mengerti apa
itu CINTA. Mengapa cinta itu selalu disebut di dalam sebuah lagu, film, berita,
cerita dan juga remaja hingga tua. Saat itu aku sedang duduk di bangku kelas 1
A. Aku berfikir mengapa cinta menjadi kata yang diatasnamakan ketika seseorang
menyatakan kebahagiaannya?. Hingga... “Dooorr! Eh lu Zit, ngelamun aja. Kenapa
lu?”. Sosok yang mengkagetkan aku itu adalah Si Refi. Refita Desi nama lengkapnya.
Dia orangnya tomboy dan juga dia adalah teman baikku. Tak jarang jika aku bersama
dengannya, aku selalu terkejut dibuatnya. Namun dia juga punya bodyguard.
Setiap hari ada saja seorang cowok cupu berkaca mata hitam sedikit bening
berbentuk bulat selalu datang ke kelas kami yang tujuannya tidak lain untuk
menjemputnya. Namanya Anton. Antony Farhan nama lengkapnya, kadang aku berfikir
kenapa nama dia tidak sekeren orangnya.
Ok fokus lagi sama keadaan gue setelah si
Refi diam-diam perhatikan gue dan menyadarkan gue dari lamunan tentang CINTA.
“Ah, Refi ganggu aja lu. Nggak ada! Gue mau tanya-tanya nih sama elu? Bisa
jawab gak?. Tanyaku kepadanya. Yaelah Zit, Zit . mau tanya apaan sih?. Rumus
matematika? Fisika? Biologi? Apa aja silahakan asal jangan tanya tentang bhs
Inggris ya ke gue... heehe.” Sambil tertawa dan memperlihatkan gigi depannya.
Si Refi memang pintar dalam pelajaran IPA namun dia lemah dalam bhs Inggrisnya.
Jadi tiap kali aku ajak ngobrol pakai bahas Inggris dia pasti mengambil kertas
kecil dan merobeknya, melipat serta menaruhnya di kedua telinga dia. yah
begitulah dia. aneh banget.
“Iya, iya. Pasti dah. Gue gak bakalan buat lu
susah. Pertanyaan ini tidak berhubungan dengan pelajaran kok. Jadi santai aja.”
Ucapku kepadanya. “Ok dah mau tanya apa miss Zita..” dia duduk dengan wajah
serius seraya sedikit mendekatkan wajahnya dan menatapku dengan lengan berada
di atas bangku.
“CINTA ITU APAAN SIH?” Tanyaku kepadany dengan sedikit berbisik karena malu kedengeran temman-teman yang lain.
“
“Oh itu. Kalau
menurutku sih, Cinta itu seperti film horor, disukai orang namun sering
buat jantung berdebar dan juga menjadi gentayangan di dalam fikiran kita.” Nah
cinta itu seperti itu Zit.” Jawab Refi dengan sangat singkat.
“Oh seperti itu?, jadi cinta itu menge....” sebelum aku
melanjutkan kesimpulanku tentang cinta berdasarkan penjelasan dari Refi tadi,
tiba-tiba si Malik datang dan memanggil namaku seraya berdiri di depan pintu
kelas. “Hei, Zita sini deh aku ada perlunya.” Teriaknya memanggilku. Akupun
menoleh dan berkata setengah berbisik kepada diriku sendiri. “Ah! Kebiasaan
deh!.” Ungkapku sambil manyun dan melangkahkan kaki keluar bangku kelas.
“Eciye.. abang tuh kangen.” Ungkap Refi kepadaku.
Malik adalah teman cowok yang paling akrab
denganku. Muhammad Malik Ahmad Zubair nama panjangnya. Dia sangat baik kepadaku. Selain wajahnya
tampan, bertubuh tinggi dan juga keren dia juga termasuk siswa yang sangat
pintar seangkatan. Namun bukan itu yang aku suka darinya. Kepribadian yang
ramah dan tidak sombong itu yang membuat aku mau berteman dekat denganya. “ada
apa?” tanyaku kepadanya sambil berdiri di depannya. “Ah sini deh, keluar dulu.
Ada yang mau diomongin.” Dia mengajakku ke luar kelas tepat 5 langkah dekat
jendela adalah tempat yang disukai dia untuk ngobrol bersamaku. Ya meskipun
sambil berdiri sih. Memang terlihat aneh sih tapi biarkan sajalah.
“Aku besok mau ke Malang. Kamu mau nitip sesuatu gak sama
aku?” tanya dia kepadaku sambil membolak-balikkan buku bacaannya. “Ah itu, aku
kira ada apa. Hemmm... mau nitip apa ya?. Oh ya aku nitip buku bhs Inggris aja
ya. Uangnya pakai punya kamu dulu nanti aku ganti ok.” Ucapku kepadanya. “Ok
dah santai!” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
Teman-teman
bilang Malik itu adalah siswa tertampan se SMAku. Banyak sekali yang suka
kepadanya. Jadi tidak heran ketika aku selesai ngobrol dengannya di
depan jendela kelasku, teman-teman perempuan yang lagi pada istirahat duduk di
luar koridor kelas datang berlarian menghampiriku. “Zita.... tunggu..” panggil
teman-teman perempuanku berlarian memamsuki kelasku dan mengerumuni aku yang
telah duduk bersama Refi di bangku kelas. “Eh, eh ! ada apa ini?” tanyaku
kepada mereka dengan ekspresi bingung. “Woi!!! Apaaapaan ini... Gerah tau!”
ungkap Refi dengan nada tinggi seraya berteriak.
“Eh Zit, bagi tips dong gmana caranya si Malik bisa dekat sama
lu.” Ungkap si Novi salah satu teman kelasku yang katanya naksir banget sama si
Malik. “Oh itu, hanya satu tipsnya.” Akupun menjawabnya sambil senyum-senyum
geli. “Apaan tuh?” tanya si Novi dan teman-teman lainnya dengan ekspresi
semakin fokus kepadaku. “Kenalan...!” jawabku singkat. “Itu saja?” tanya salah
satu teman perempuan yang lain dengan ekspresi tidak percaya. “ Begini saja deh,
jika kalian tidak mengenal satu sama lain bagaimana kalian akan mengerti kalau
kalian itu baik ataupun jahat. Jadi dengan kalian berkenalan dengan Malik akan
membuat Malik bisa dekat dengan kalian.” Jelasku panjang lebar. “Terima kasih
ya Zit..” ucap teman-teman seraya satu-satu persatu mulai pergi dan berhenti
mengerumuni diriku dan Refi. “fuihhhhh, legaaa..” ungakap Refi.
Waktupun
berjalan sangatlah bernada. Memberikan alunan melodi-melodi indah dalam setiap
tahapan kelas yang aku jalani sejak SMA. Hingga tiba saatnya aku sudah berada
di tingkatan terakhir (kelas 3 SMA). Kebersamaan aku dan Refi serta si Cupu
Antony juga semakin nempel. Selain itu, kedekatan aku dan Malik
juga tetap terjalin semakin baik. Ya walaupun kata teman-teman si Malik itu ada
perasaan kepadaku namun aku cuek saja. Karena aku tidak memiliki perasaan yang
spesial kepadanya dan pada saat itu aku juga tidak tahu apa itu cinta dan
mencintai. Ah intinya saat itu aku oon banget dah kalau masalah cinta.
Dan pada suatu
hari, di hari terakhir UNAS si Refii datang bersama si Antony menemui aku
karena aku dan mereka berbeda ruang ujian.
“Hey Zit, aku dan Antony ada perlunya. Ada sesuatu hal yang mau kita
kasih tau kepada kamu mengenai hubungan
kita bahwa kita sekarang sudah pacaran.” Ungkapnya kepadaku dengan wajah senang
dan berbinar-binar seraya tangan mereka saling bergandeng berayun-ayun kedepan
dan kebelakang. “Wahehhehehehheehhe, apa? Ah lu pada bikin gue ngakak aja..”
ungkapku sambil ketawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Refi dan tingkah laku
mereka yang aneh. “Ah Zita, aku tau kamu bakalan cemburu tapi kamu tetap jadi
sahabat kita kok.” Dengan percaya dirinya dia bilang seperti itu. Namun aku
biasa aja mendengar ucapannya yangn menggelikan itu, karena dia memang seperti
itu. “iddiiihh pedenya sih luuuu” sambil ketawa dan mencubit hidung si Refi. “Pelukk...” ungkap si refi sambil membuka
kedua tanggan seakan ingin dipeluk. Akhirnya kita bedua berpelukan eh tiba-tiba
si Antony mau gabung juga dan kemudian kita meneriakinya bersama –sama
“JANGAN>>>>” sambil tertawa hehehe..
Kelulusan pun
tiba, aku tak mengharapkan apa-apa. Saat itu yang ada di fikiranku hanyalah
lulus-lulus dan lulus. Entah mungkin karena itu aku tak menyadari bahwa Malik
telah beridiri di depanku sedari tadi. “Eh, kok ada lu Lik” ungkapku kepada
Malik. “Saya udah dari tadi berdiri di sini tapi kamu aja yang ngelamun,
heheh.” Jawab Malik dengan tertawa kecil. “Ini..” Malik menyodorkan sebuah buku
dengan judul Learning English Easily yang masih terbungkus rapi dengan plastik
bukunya. “Ya Allah ini pesananku ya, berapa Lik?” tanyaku kepada dia. “Ah
gampang kagak usah.” Ujarnya kepadaku sembari pergi meninggalkan aku. Hemm
mungkin dia tau aku gak akan memaksa dia untuk menerima uang dariku. Sebelum
bayangan dia hilang dari penglihatanku, aku segera menoleh dan memanggil
namanya lagi “Malik... terima kasih banyak ya..,.” ujarku kepadanya sambil
memberikan sebuah senyuman.
13 Juli 2015, saat itu pengumuman kelulusan
sudah keluar dan aku serta semua teman-temanku dinyatakan lulus. Wajah ceria
teman-teman terpancar di sana dan juga diriku. Hingga tiba saatnya pengisian
angket jurusan dan universitas impian. Malik memanggilku dari tempat duduknya
dengan beridiri setengah duduk. “Zit, Zita.... sini!” ungkapnya sambil melambaikan
tangannya. Akupun menghampirinya dengan wajah sedikit malas karena aku masih
bingung mengenai jurusan apa yang akan aku pilih ini. “Ada apa?” akupun
membungkuk menatap dia sedari terpangku di atas meja tepat di depan dia. “Ah
ya, ini. Kamu mengambil jurusan apa?” tanya dia sambil menatapku dan dengan
rasa penasaran terpancar di matanya. “aku masih bingung nih, mungkin Ilmu Hukum
atau Hubungan International.
Dia pun terdiam sebentar sembari menatap buku yang berada di
atas bangkunya. Sebelum dia mulai untuk melanjutkan pembicaraannya akupun
melanjutkannya, “Oh iya, kamu ambil jurusan apa?.” Tanyaku ke padanya. “Oh,
matematika kalau tidak kedokteran.” Jawab dia kepadaku. “O iya. Ok dah. Good
luck ya Lik.” Ungkapku kepadanya. Setelah itu dia mulai melanjutkan lagi
pertanyaannya kepadaku. “Zit, kenapa kamu tidak mengambil jurusan bahasa Inggris?.”
Tanya dia kepadaku. Hemm, memang awalnya aku ingin mengambil jurusan bahasa
Inggris tapi aku tidak percaya akan kemampuan diriku ini. Aku hanya bisa
memilih jurusan yang yang sebenarnya tidak aku sukai. Memang aku tidak begitu
bagus dalam bahasa Inggris akan tetapi aku menyukainya. Perkataan Maliklah yang
membuat aku sadar bahwa aku harus bisa percaya pada diri aku sendiri, karena
orang lain saja sudah percaya akan kemampuanku dan aku harap aku bisa percaya
sama diriku sendiri. Akhirnya aku merespon usulan jurusan dari Malik “Oh iya
ya, kenapa tidak ya?. Wah thank you banget ya Lik sarannya.” Dengan wajah
tersenyum dan bahagia akupun kembali ke tempat dudukku.
Pagi itu hari sangat cerah bersinar. Lantunan
lagu dan sholawatan teman-teman kamarku mulai terdengar sangat riuh. Ah inilah
kehidupan asrama. Aku terlalu capek untuk memikirkannya. Akan tetapi aku sangat
menyayangi mereka. Karena merekalah yang menjadi teman senantiasa membantu aku
dalam menciptakan hal yang berwarna dalam kehidupanku. Ada satu hal yang ingin
aku ceritakan kepada kalian. Ini rahasia tapi ini rahasia hanya ada antara kita
ya. Sebenarnya keriuhan yang tercipta di kamarku itu disebebabkan gara-gara
mereka rebutan bantal, tempat tidur, lemari dan juga selimut yang aku pakai.
Karena sebentar lagi aku akan boyong dari asrama jadi aku wajib meninggalkan
itu semua untuk teman-temanku itu. Ah lucu kan. Ya begitulah kehidupan asrama
yang seringkali tidak kita temukan di kehidupan dunia dari sisi yang lain. Aku
sungguh mencintainya, aku harap kalian juga menyukainya.
Aku mulai meremehkan keramaian mereka, karena
aku sudah mulai menikmati suara-suara mereka menjadi kicauan-kicauan burung di
pagi hari, ya meskipun sedikit mengganggu telinga. Saat itu aku teringat akan
angket kuliahku. Akupun mulai bangun dan mengambil 1 map berwarna kuning di
laci yang dekat dengan tempat tidurku. Sejak saat itu aku mulai memandangi
lembaran angket, perkataan Malik mulai terngiang kembali di telingaku.
“Ah teman aneh itu,” ungkapku sambil tesenyum
seraya menuliskan dua nama jurusan yang siap aku pilih untuk masa depanku di
pilihan pertama, “Sastra Inggris” yah nama jurusan yang telah aku tulis di
dalam angket tersebut. “Oh tuhan, Alhamdulillah terima kasih atas semuanya.
Akhirnya aku menemukan jurusan yang memang aku inginkan dan impikan.
Keesokannya
akupun pergi ke toko buku. Aku mengajak si Refi dan si Antony untuk menemaniku
mencari buku untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Aku memasuki toko periplus
di Surabaya. Hanya sat titik pandang saja aku manatap sebuah buku yang
mengingatkan aku tentang seseorang yang tak lain adalah Malik. Akhirnya aku
mengambil buku itu dan merangkulnya sembari mencari buku yang lain. Setelah
aku, Refi dan Antony selesai membeli buku akhirnya kita kembali meneruskan
perjalanan kita menuju tempat ice cream. Toko ice cream yang di dalamnya
menjual berbagai jenis ice cream tepatnya di sebelah barat mall Pakuwon.
Perjalanan kita
begitu menyenangkan saat itu, hingga pada akhirnya si Antony terpaku pada salah
satu buku yang aku beli. Yaitu kamus kedokteran. “Hei Zit, untuk apa kamu
membeli buku tentang kedokteran?.” Tanya Antony dengan penasaran. “Ciele, lu
gak tau aja, ya buat di baca dong.”Jawabku kepada Antony sambil bercanda.
“ye... tau Zit, tapi beneran deh gue juga penasaran tuh buku buat siapa
sebenarnya?.” Si Refi mulai mengajukakn pertanyaan yang sama kepadaku perihal
buku itu. “Ada deh..” ungkapku sambil tertawa geli. Semua itu aku lakukan
karena aku tidak ingin mereka tau bahwa sebenarnya buku itu untuk Malik. Aku
khawatir nanti mereka semakin menggojloki aku dengan dia dan juga aku juga
khawatir nanti mereka akan berpikir yang macem-macem. “Ah jadi repot nanti.
Lebih baik aku merahasiakannya saja” ucapku dalam hati. Seraya mengalihkan
pembicaraan ke lain topik.
Sesampainya di asrama akupun menaruh
buku-buku yang telah aku beli di laci kamarku. Dan segera bergegas untuk
menghubungi Malik saat itu. “Malik, hei. Assalamualaikum. Hari ini bisa
ketemuan di depan asrama gak? Aku ada hal nih sama kamu. Penting banget. Bisa
gak?. Itulah isi pesan yang aku kirimkan kepadanya. 1 menit kemudian pesan itu
sudah terbalaskan “Waalaikum salam, bisa. Saya sudah di depan asrama.” Pesan
dari Malik baru aku baca. Akupun kaget, karena dia hanya membutuhkan waktu satu
menit untuk membalas dan melakukannya. “ah memang benar-benar aneh dia.”
gumamku dalam hati. Akupun segera bergegas, mengambil kerudung selobokan
Rabbani dan mengambil buku yang telah terbungkus dengan plastik warna hitam. Sehingga
buku tersebut tidak nampakk oleh seseorang. Terpenting adalah tidak ketahuan
dari kedua teman dekatku si Refi dan Antony.
Dari balik pintu gerbang asrama aku telah
melihat sosok seorang pemuda berpakaian biru tosca dan kopiah putih bercorak
dengan celana panjang hitam sedang berdiri di depan gedung asrama. Yah biasalah
si Malik memang suka berdiri tepat di depan tembok asrama bukan di samping
pintu gerbang. Katanya sih itu lebih nyaman untuk ngobrol. “Malik...” panggilku
kepadanya sambil melambaikan tangan. Dia hanya menoleh dan melambaikan
tangannya juga kepadaku. Akupun menghampirinya. "Nih“ buat kamu.” Ucapkuu
seraya memberikan plastik hitam itu kepadanya. “itu buku tentang kedokteran.
Aku sengaja membelikannya kepadamu ketika aku berada di toko buku kemaren dan
melihat buku itu. eits, tapi ada syaratnya. Jangan kasih tau ke siapa-siapa ya
perihal buku ini karena Refi dan Antony kepo sama buku ini buat siapa. Ok”
jelasku panjang kali lebar kepadanya. “AH, gak mau deh. Ngapain kamu
repot-repot belikan aku buku ini?” tanyanya balik kepadaku. “gak apa. Kamu kan
sudah sering tuh belikan aku buku nah
sekarang giliran aku membelikan kamu buku. Gak apa lah sekali-kali. dan
kamu harus menerimanya. No payment.” Ucapku kepadanya dengan wajah sedikit
judes. “Duh, oke dah. Merpotkan nih aku. Terima kasih banyak ya. Aku bawa
bukunya.” Akupun mengiyakan dengan angukan dan senyuman kepdannya seraya tetap
berdiri di sana sambil melihat bayangan dia semakin menghilang dari pandanganku
saat itu di depan pintu gerbang itu.
Ah hari itu begitu indah bagiku. Mungkin
karena aku telah bisa sedikit membalas jasa kebaikan yang telah dia berikan
kepadaku. Yah setidaknya akupun tau aku juga begitu sangat menyayanginya
seperti aku menyayangi sahabat-sahabatku si Refi dan si Antony. “eh tapi
mengapa aku merasa sedih?” tanyaku dalam hati. Tanpa terasa air mata ini telah
mengalir satu titik di pipiku. Ah Tuhan, aku begitu alay sepertinya saat itu,
atau mungkin karena sebuah perpisahan antara aku dan dirinya sudah di depan mata?. “Huffttt..” akupun mengehla nafas
panjang seraya segera pergi memasuki asrama kembali.
Sesampainya di kamar, aku langsung mengambil
diaryku. Aku mulai menulis semua isi hati yang sedah dipenuhi dengan
kebahagiaan yang alami. Kebahagiaan yang belum aku miliki sebelumnya. Itu hanya
karena dia. sosok dialah yang menjadi penghias kebahagiaanku itu. bukan karena
cinta karena pada saat itu aku tidak menyukai ada kata cinta diantara
pertemanan ataupun persahabatan dalam duniaku.
Mari akan aku ceritakan sedikit sinopsis perihal diaryku itu. Aku
memiliki hobi menulis.
Menulis kisah kasih cerita indah dan bahagia
yang aku alami tapi tidak kisah sedih karena aku takut ketika tiba saatnya
untuk membaca ulang tulisanku itu, aku khawatir akan ada kesdihan di dalamnya.
Dan aku tak ingin itu terjadi. Sungguhaku tak ingin itu terjadi karena bagiku
biarkanlah kesedihan itu hanya terjadi hanya pada saat itu bukan saat ini.
itulah prinsipku. Makanya tak banyak seseorang mengira aku selalu bahagia akan
tetapi sebenarnya tidak itu hanya karena aku telah berhasil mengarsipkan cerita
sedih yang pernah terjadi dalam hidupku.
16 Juli 2015, aku tak melihat bayanagn Malik
berkeliaran di area sekolah saat itu. aku kebingungan sendiri mencarinya karen
akau tak berani untuk menanyakan kepada teman-temannya perihal dia. aku hanya
sibuk meneliti satu persatu orang yang lewat dihadapanku secara teliti dan
bahkan di sekelilingku juga. sungguh saat itu aku berisau. Setelah aku
memberikan buku itu di depan asrama adalah terakhir aku tidak menghubungi dia
lagi apalagi mengirimkan pesan kepadanya karena aku dan dia memang begitu hanya
ngobrol atau kirim pesan kalau ada perlunya saja.
“Ya Allah Malik kemana ya? Lindungilah malik ya Allah..” ujarku dalam hati. Di sela-sela pikiranku tertuju penuh kepada Malik,
tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundakku dengan hati-hati. Akupun
terkejut dan mulai membuka mataku secara cepat dan melotot ke deoan dengan
perasaan curiga dan penasaran siapa sih yang ada di belakangku saat itu. saat
itu aku memang sedang duduk sendirian di trotoar jalan halaman sekolah. Aku
mulai mencoba membalikkan badanku dengan sedikit menatap ke tanah melihat
bayangan itu. Dari bayangan itulah aku telah menemukan jawaban siapakah
gerangan tersebut. dan akhirnya aku segera menoleh dengan cepat dan sigap. Aku
temukan senyuman indah di sana. Seraya berkata, "Hi Zita, selamat pagi J."
Sekian
Chapter 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar