`cursor

Senin, 13 Mei 2019

Rentang Quran Chapter 3


3
BERTEMU
          Sejak kejadian menyedihkan kemaren membuatku malas untuk bertegur sapa dengan Malik. Rasa sakit itu masih ada dalam diri aku. Aku sangat kesal sekali waktu itu hingga membuatku malas untuk berangkat ke sekolah. Akan tetapi bukan teman kamarku kalau mereka tidak iseng dan menarik selimutku untuk segra beranjak mandi dan berhenti bermalas-malasan. Meskipun mereka belum tahu permasalahannya apa tetapi mereka tau bahwa aku sedang sangat terpuruk waktu itu.
“Zita... bangun!!! Sudah jangan sedih lagi. Kan Allah sudah bilang sama kita la tahof wala tahzan innaAllaha maana. Ngapain coba bersedih-sedih gitu. Sudah sana mandi, eh kamu tau gak obat galau yang terapuh itu apa?” celoteh Ana kepadaku.
Aku yang sedari tadi masih berada di bawah selimut itu, menjawabnya dengan nada serak “Apa?” responku kepadanya.
“yah gimana sih kok gak tau!. Ya sudah karena gue kasihan ame lu, aku kasih tau. Sebenarnya nih ilmu mahal banget soalnya tidak dipelajari di sekolah, tapi gak apa buat teman aku yang terbaik ini aku kasih tau.” Celoteh Ana untuk yang kedua kalinya. Dia memang teman tercerewet se kamar tapi kalau tidak ada dia, kedisiplinan kita berkurang karena Ana yang selalu menegur kami jika kamar tidak bersih, atau tidak mandi. Hehe lucu kan teman-teman? Iya sebenarnya teman seperti ini nih yang limited edition. Sehingga tidak heran lagi kalau dia sangat disayangi oleh teman-teman kamar semua. kita memberikan panggilan kesayangan kepada dia yaitu “Emak Chayong”.
“Ah emak chayong lama banget ngasih jawabannya.” Ucap Desi salah satu teman aku juga yang penasaran dengan jawaban Ana.
“Eh, nih semua pada nungguin ya...” goda Ana sambil menaruh bedak tabur ke wajahnya. Saat itu teman-teman semua pada sibuk untuk siap-siap berangkat ke sekolah jam sudah menunjukkan jam 06;10 akan tetapi aku masih berada di atas tempat tidur.
“jawabannya adalah mandi. Zita hayo bangun mandi segera, ah kamu mah. Jangan kalah sama nafsu dong. Kamu wanita kuat kok. Yuk berjuang untuk masa depanmu. Ok!” sambil menarik bantal yang aku pakai dan melipat selimut yang mulai tergelatak dibawah karena terkena senggolan tangan Ana.
“oke-oke aku bangun emakku chayongg.” Aku sudah tak kuat dengan omelan Ana, segeralah aku beranjak dari tempat tidur mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Sesampainya di sekolah, jam 06.59 aku langsung duduk di tempat dudukku. Aku mearang diriku untuk menoleh ke kanan meskipun sepertinya aku merasa ada yang melihatku dari jauh. Aku ingin sekali bapak Ilham segera datang karena aku bingung mau ngapain. Jam 07.10 tiba-tiba ada kepala sekolah mendatangi kelas. Seketika kelas langsung diam. Beliau menyampaikan bahwa bapak Ilham hari ini tidak bisa masuk karena ada acara pertemuan dengan bapak bupati. Akhirnya setelah bapak kepala sekolah keluar, teman-teman kembali ramai lagi. Ada salah satu anak yang menutup pintu kelas dan juga mereka melakukan aktifitas sesuka mereka.
Saat itu aku kebingungan mau mengerjakan apa karena Nita teman sebangku aku sedang sakit tidak masuk sekolah hari itu. akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku bahasa Inggris yang setiap hari aku bawa. Aku tak mengerti saat itu, tiba-tiba ada sebuah amplop surat terselip di dalamnya. Setelah beberapa detik aku mencoba mengingatnya kembali, ternyata itu surat yang dikasih oleh pak Amin kemaren kepadaku karena kejadian kemaren membuat aku lupa untuk mebaca surat itu.
Akhirnya aku berniat untuk membacanya. Setelah aku buka ternyata surat itu dari Malik. Aku semakin merasa aneh dan deg-degan saat itu. sebel bercampur penasaran menjadi satu dalam diriku. Seakan aku tak sanggup untuk membaca isi surat itu. akhirnya aku mengumpulkan niat dan aku langsung membacanya.

Assalamualaikum Zita...
Ini aku Malik, pasti kamu kagetkan kenapa surat ini yang ngasih pak Amin. Aku yakin kamu sekarang sedang berusaha membuat sebuah jalan cerita kamu sendiri mengenai sinopsis surat ini. ah tapi itu  gak penting. Yang terpenting adalah aku mau kamu kalau baca quran yang aku kasih jangan ingat aku ya.. ntar kamu keceplosan berbisik di dalam hatimu untuk jodoh sama aku. Hehe J
Intinya! Quran itu dibaca. Nah ini aku kasih tau. Kamu harus punya surah favorite. Kalau aku surah Ar-rahman karena itu kasih sayang. Kalau kamu tentukan sendiri ya. Jangan ikut-ikutan disamakan sama aku ntar kamu pengen sama aku terus J hhihi canda doang. Ok dah! Aku gak mau lihat kamu senyum-senyum sendirian baca surat ini. semoga barokah! Semoga menjadi hafdizah.
Wassalamualaikum Malik...
Seketika, aku melihat kearah Malik dan ternyata saat itu malik sedang melihat ke arahku namun dia segera melihat ke yang lain. Akupun merasa gengsi karena aku kan lagi marahan dan sebel sama dia. kalau ketahuan aku sedang membaca suratnya, pasti dia senang.. “Ah kok aku cerobo sekali sih!” bisikku dalam hati sambil memasukkan surat itu ke dalam saku tas.
          Aku segera pindah tempat ke pojok belakang khawatir Malik memperhatikan aku terus. Saat itu aku ingin sekali membuat Malik merasa bersalah. “refi, aku ke situ ya.” Ucapku kepada Refi. Refi menjawab dengan anggukan. Setelah itu, aku duduk bersama Refi, dia menanyakan keadaanku mengenai hal kemaren. Aku menjelaskannya panjang lebar kepadanya dan di saat aku sedang mendengarkan nasehat Refi dengan tidak sengaja aku melihat Malik pelongo-pelongo seperti mencari sesuatu ke arah bangkuku hingga pada akhirnya dia melihat ke arah bangku Refi dan melihatku kembali. Dengan tatapan sinis aku melihatnya dan segera memalingkan wajahku ke arah Refi.
          Ah sebenarnya hal itu tidak boleh. Memalingkan wajah itu dilarang oleh Allah di dalam Al-Quran sebagai teguran kepada nabi Muhamad. Akan tetapi ini aspeknya beda kalau aku memalingkan wajah karen abukan muhrim coy. Masa’ aku mau tatap-tatpan sama dia apalagi seseorang yang aku sebel banget sama dia. aku lega sekali, karena dengan membuat dia seperti itu aku sudah merasa melampiaskan kemarahanku kepadanya.
          Bel istirahatpun berbunyi. Saat itu aku malas keluar kelas karena banyak sekali anak-anak cowok yang berdiri di depan kelasku. Tiba-tiba malik berjalan menuju tempat dudukku. Aku yang telah menyadari akan kedatangan dia, akhirnyaaku pura-pura tidur dengan menaruh kepalaku di atas bangku dan menyilangkan tanganku sebagai bantal.
          “Hei Zita, Zita!. Ucap Malik kepadaku.
Akupun tetap dengan posisiku, aku gak mau menjawabnya hanya saja aku merasa tidak sopan jika aku tidak menghiraukannya. “Hem!” jawabku kepadanya dengan posisi yang sama.
          “Temui aku di perpustakaan ya!” pinta dia kepadaku.
          “Iya!”jawabku spontan
Ah bodoh sekali aku waktu itu. kenapa aku langsung mau dan menjawabnya “iya”. Itu seakan aku terkena hipnotis. Seharusnya kan aku tidak mau dan menolaknya. Kenapa aku saat itu langsung menyetujuinya. Ah aku gengsi banget tapi entahlah. Aku harus menepati janji. Setelah aku bilang iya Malik langsung keluar dari kelas. Aku gak mau menjadi pengecut, akhirnya aku mendatanginya. Sesapainya di perpustakaan, aku mencari dia. entah di mana dia yang membaca bukunya. “Ah banyak akting nih orang. ngapain bacanya sampai sembunyi seperti ini. padahal kan dia datang ke sini hanya karena dia mau bertemu denganku.” Omelku dalam hati sambil mengabsen satu-satu anak yang ada di sana.
          Hingga setelah satu menit aku ,mencari dia, akhirnya kita ketemu juga. dia duduk membaca buku dan aku berdiri di hadapannya. “Ada apa?” tanyaku kepadanya.
“Aku mau minta maaf yan kemaren.’ Ungkapnya kepadaku sambil tersenyum. “Iya!” jawabku dengan nada sedikit ketus, “Leh serius ini! ucap dia kembali sambi sedikit memperlihatkan giginya. “Iya gak apa!” jawabku dengan posisi yang sama berdiri di depannya sedangkan si Malik mendongkak ke atas. “Oh ya sudah! Itu aja” ucapnya kepadaku.. setelah dia bilang seperti itu aku langsung keluar meninggalkan perustakaan itu.
          Ah ini kesalahan kedua. Kenapa aku bilang tidak apa-apa? Padahal aku tadi malam itu di kamar sudah merangkai kata-kata jika dia meminta maaf kepadakuu lebih tepatnya omelan. Kenapa aku seakan takut dan semuanya hilang. Ah aku begitu greget sama diriku saat itu. pikiranku tetap berputar sampai aku tiba di kelas. Satu menit kemudian Malik pun sampai juga di kelas.
          Pertemuan aku dan Malik tidak memudarkan perasaan kesalku kepadanya. aku masih terus mengingatnya meskipun aku sudah memaafkan dia. aku teringat akan perkataan ust Adi Hidayat bahwa sifat seorang wanita itu seperti miratun:cermin. Jika dibanting pecah dan bisa diperbaiki akan tetapi tidak akan serapi seperti sedia kala. Begitu juga perempuan, memang bisa memaafkan namun kesalahannya itu tetap mebekas dan hatinya tetap rusak untuk dia.
          Jadi pesan dari aku kepada para pembaca sekalian, baik itu laki atau perempuan, jika kalian mau berkata sesuatu itu dijaga karena mulut itu seperti singa yang selalu kelaparan dan memakan hati seseorang. Jika tidak diberi asupan gizi keimanan dan akhlak. Akhlak itu adalah cerminan dari kita. Bisa jadi saat ini kalian memiliki hubungan yang sangat baik dengan teman, sahabat, tunangan, pacar dan orang tua. Namun kalian tidak bisa menjaga omongan kalian dengan baik, maka bersiap-siaplah hubungan kalian yang satu tahun itu bisa rusak hanya dengan jangka waktu satu menit, satu detik atau hanya satu kedip mata saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar