3
BERTEMU
Sejak
kejadian menyedihkan kemaren membuatku malas untuk bertegur sapa dengan Malik.
Rasa sakit itu masih ada dalam diri aku. Aku sangat kesal sekali waktu itu
hingga membuatku malas untuk berangkat ke sekolah. Akan tetapi bukan teman
kamarku kalau mereka tidak iseng dan menarik selimutku untuk segra beranjak
mandi dan berhenti bermalas-malasan. Meskipun mereka belum tahu permasalahannya
apa tetapi mereka tau bahwa aku sedang sangat terpuruk waktu itu.
“Zita... bangun!!! Sudah jangan sedih lagi.
Kan Allah sudah bilang sama kita la tahof wala tahzan innaAllaha maana. Ngapain
coba bersedih-sedih gitu. Sudah sana mandi, eh kamu tau gak obat galau yang
terapuh itu apa?” celoteh Ana kepadaku.
Aku yang sedari tadi masih berada di bawah
selimut itu, menjawabnya dengan nada serak “Apa?” responku kepadanya.
“yah gimana sih kok gak tau!. Ya sudah karena
gue kasihan ame lu, aku kasih tau. Sebenarnya nih ilmu mahal banget soalnya
tidak dipelajari di sekolah, tapi gak apa buat teman aku yang terbaik ini aku
kasih tau.” Celoteh Ana untuk yang kedua kalinya. Dia memang teman tercerewet
se kamar tapi kalau tidak ada dia, kedisiplinan kita berkurang karena Ana yang
selalu menegur kami jika kamar tidak bersih, atau tidak mandi. Hehe lucu kan
teman-teman? Iya sebenarnya teman seperti ini nih yang limited edition.
Sehingga tidak heran lagi kalau dia sangat disayangi oleh teman-teman kamar
semua. kita memberikan panggilan kesayangan kepada dia yaitu “Emak Chayong”.
“Ah emak chayong lama banget ngasih
jawabannya.” Ucap Desi salah satu teman aku juga yang penasaran dengan jawaban
Ana.
“Eh, nih semua pada nungguin ya...” goda Ana
sambil menaruh bedak tabur ke wajahnya. Saat itu teman-teman semua pada sibuk
untuk siap-siap berangkat ke sekolah jam sudah menunjukkan jam 06;10 akan
tetapi aku masih berada di atas tempat tidur.
“jawabannya adalah mandi. Zita hayo bangun
mandi segera, ah kamu mah. Jangan kalah sama nafsu dong. Kamu wanita kuat kok.
Yuk berjuang untuk masa depanmu. Ok!” sambil menarik bantal yang aku pakai dan
melipat selimut yang mulai tergelatak dibawah karena terkena senggolan tangan
Ana.
“oke-oke aku bangun emakku chayongg.” Aku
sudah tak kuat dengan omelan Ana, segeralah aku beranjak dari tempat tidur
mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Sesampainya di sekolah, jam 06.59 aku
langsung duduk di tempat dudukku. Aku mearang diriku untuk menoleh ke kanan
meskipun sepertinya aku merasa ada yang melihatku dari jauh. Aku ingin sekali
bapak Ilham segera datang karena aku bingung mau ngapain. Jam 07.10 tiba-tiba
ada kepala sekolah mendatangi kelas. Seketika kelas langsung diam. Beliau
menyampaikan bahwa bapak Ilham hari ini tidak bisa masuk karena ada acara
pertemuan dengan bapak bupati. Akhirnya setelah bapak kepala sekolah keluar,
teman-teman kembali ramai lagi. Ada salah satu anak yang menutup pintu kelas
dan juga mereka melakukan aktifitas sesuka mereka.
Saat itu aku kebingungan mau mengerjakan apa
karena Nita teman sebangku aku sedang sakit tidak masuk sekolah hari itu.
akhirnya aku memutuskan untuk membaca buku bahasa Inggris yang setiap hari aku
bawa. Aku tak mengerti saat itu, tiba-tiba ada sebuah amplop surat terselip di
dalamnya. Setelah beberapa detik aku mencoba mengingatnya kembali, ternyata itu
surat yang dikasih oleh pak Amin kemaren kepadaku karena kejadian kemaren
membuat aku lupa untuk mebaca surat itu.
Akhirnya aku berniat untuk membacanya.
Setelah aku buka ternyata surat itu dari Malik. Aku semakin merasa aneh dan
deg-degan saat itu. sebel bercampur penasaran menjadi satu dalam diriku. Seakan
aku tak sanggup untuk membaca isi surat itu. akhirnya aku mengumpulkan niat dan
aku langsung membacanya.
Assalamualaikum Zita...
Ini aku Malik, pasti kamu kagetkan kenapa
surat ini yang ngasih pak Amin. Aku yakin kamu sekarang sedang berusaha membuat
sebuah jalan cerita kamu sendiri mengenai sinopsis surat ini. ah tapi itu gak penting. Yang terpenting adalah aku mau
kamu kalau baca quran yang aku kasih jangan ingat aku ya.. ntar kamu keceplosan
berbisik di dalam hatimu untuk jodoh sama aku. Hehe J
Intinya! Quran itu dibaca. Nah ini aku kasih
tau. Kamu harus punya surah favorite. Kalau aku surah Ar-rahman karena itu
kasih sayang. Kalau kamu tentukan sendiri ya. Jangan ikut-ikutan disamakan sama
aku ntar kamu pengen sama aku terus J hhihi
canda doang. Ok dah! Aku gak mau lihat kamu senyum-senyum sendirian baca surat
ini. semoga barokah! Semoga menjadi hafdizah.
Wassalamualaikum Malik...
Seketika, aku melihat kearah Malik dan
ternyata saat itu malik sedang melihat ke arahku namun dia segera melihat ke
yang lain. Akupun merasa gengsi karena aku kan lagi marahan dan sebel sama dia.
kalau ketahuan aku sedang membaca suratnya, pasti dia senang.. “Ah kok aku
cerobo sekali sih!” bisikku dalam hati sambil memasukkan surat itu ke dalam
saku tas.
Aku segera
pindah tempat ke pojok belakang khawatir Malik memperhatikan aku terus. Saat
itu aku ingin sekali membuat Malik merasa bersalah. “refi, aku ke situ ya.”
Ucapku kepada Refi. Refi menjawab dengan anggukan. Setelah itu, aku duduk
bersama Refi, dia menanyakan keadaanku mengenai hal kemaren. Aku menjelaskannya
panjang lebar kepadanya dan di saat aku sedang mendengarkan nasehat Refi dengan
tidak sengaja aku melihat Malik pelongo-pelongo seperti mencari sesuatu ke arah
bangkuku hingga pada akhirnya dia melihat ke arah bangku Refi dan melihatku
kembali. Dengan tatapan sinis aku melihatnya dan segera memalingkan wajahku ke
arah Refi.
Ah sebenarnya
hal itu tidak boleh. Memalingkan wajah itu dilarang oleh Allah di dalam
Al-Quran sebagai teguran kepada nabi Muhamad. Akan tetapi ini aspeknya beda
kalau aku memalingkan wajah karen abukan muhrim coy. Masa’ aku mau tatap-tatpan
sama dia apalagi seseorang yang aku sebel banget sama dia. aku lega sekali,
karena dengan membuat dia seperti itu aku sudah merasa melampiaskan kemarahanku
kepadanya.
Bel
istirahatpun berbunyi. Saat itu aku malas keluar kelas karena banyak sekali
anak-anak cowok yang berdiri di depan kelasku. Tiba-tiba malik berjalan menuju
tempat dudukku. Aku yang telah menyadari akan kedatangan dia, akhirnyaaku
pura-pura tidur dengan menaruh kepalaku di atas bangku dan menyilangkan
tanganku sebagai bantal.
“Hei Zita,
Zita!. Ucap Malik kepadaku.
Akupun tetap dengan posisiku, aku gak mau menjawabnya hanya
saja aku merasa tidak sopan jika aku tidak menghiraukannya. “Hem!” jawabku
kepadanya dengan posisi yang sama.
“Temui aku di
perpustakaan ya!” pinta dia kepadaku.
“Iya!”jawabku
spontan
Ah bodoh sekali aku waktu itu. kenapa aku
langsung mau dan menjawabnya “iya”. Itu seakan aku terkena hipnotis. Seharusnya
kan aku tidak mau dan menolaknya. Kenapa aku saat itu langsung menyetujuinya.
Ah aku gengsi banget tapi entahlah. Aku harus menepati janji. Setelah aku
bilang iya Malik langsung keluar dari kelas. Aku gak mau menjadi pengecut,
akhirnya aku mendatanginya. Sesapainya di perpustakaan, aku mencari dia. entah
di mana dia yang membaca bukunya. “Ah banyak akting nih orang. ngapain bacanya
sampai sembunyi seperti ini. padahal kan dia datang ke sini hanya karena dia
mau bertemu denganku.” Omelku dalam hati sambil mengabsen satu-satu anak yang
ada di sana.
Hingga setelah
satu menit aku ,mencari dia, akhirnya kita ketemu juga. dia duduk membaca buku
dan aku berdiri di hadapannya. “Ada apa?” tanyaku kepadanya.
“Aku mau minta maaf yan kemaren.’ Ungkapnya kepadaku sambil
tersenyum. “Iya!” jawabku dengan nada sedikit ketus, “Leh serius ini! ucap dia
kembali sambi sedikit memperlihatkan giginya. “Iya gak apa!” jawabku dengan
posisi yang sama berdiri di depannya sedangkan si Malik mendongkak ke atas. “Oh
ya sudah! Itu aja” ucapnya kepadaku.. setelah dia bilang seperti itu aku
langsung keluar meninggalkan perustakaan itu.
Ah ini
kesalahan kedua. Kenapa aku bilang tidak apa-apa? Padahal aku tadi malam itu di
kamar sudah merangkai kata-kata jika dia meminta maaf kepadakuu lebih tepatnya
omelan. Kenapa aku seakan takut dan semuanya hilang. Ah aku begitu greget sama
diriku saat itu. pikiranku tetap berputar sampai aku tiba di kelas. Satu menit
kemudian Malik pun sampai juga di kelas.
Pertemuan aku
dan Malik tidak memudarkan perasaan kesalku kepadanya. aku masih terus
mengingatnya meskipun aku sudah memaafkan dia. aku teringat akan perkataan ust
Adi Hidayat bahwa sifat seorang wanita itu seperti miratun:cermin. Jika
dibanting pecah dan bisa diperbaiki akan tetapi tidak akan serapi seperti sedia
kala. Begitu juga perempuan, memang bisa memaafkan namun kesalahannya itu tetap
mebekas dan hatinya tetap rusak untuk dia.
Jadi pesan dari
aku kepada para pembaca sekalian, baik itu laki atau perempuan, jika kalian mau
berkata sesuatu itu dijaga karena mulut itu seperti singa yang selalu kelaparan
dan memakan hati seseorang. Jika tidak diberi asupan gizi keimanan dan akhlak.
Akhlak itu adalah cerminan dari kita. Bisa jadi saat ini kalian memiliki hubungan
yang sangat baik dengan teman, sahabat, tunangan, pacar dan orang tua. Namun
kalian tidak bisa menjaga omongan kalian dengan baik, maka bersiap-siaplah
hubungan kalian yang satu tahun itu bisa rusak hanya dengan jangka waktu satu
menit, satu detik atau hanya satu kedip mata saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar