`cursor

Senin, 13 Mei 2019

Rentang Quran Chapter 2


2
TENTANG DIA
Pagi itu aku pergi ke sekolah dengan terburu-buru karena aku ingin menikmati pagi yang sangat cerah di hari terakhir aku menginjakkan kaki di sana. aku berencana untuk boyong dari asrama dan sekolah saat itu. jadi inilah cara teranehku untuk menikmatinya sebelum aku pergi meninggalkannya. Jam 05.00 aku mulai berada di sekolahku. Duduk sendirian di taman sambil menikmati ocehan buku Bena book yang gokil bikin ngakak kagak ada habisnya. Tepat jam 06 bapak Samin, usianya sudah 50 an ke atas, dia cleaning service di sekolahku yang  sudah datang dan segera mengambil peralatannya. Akupun menyapa beliau, “pak selamat pagi,.” sapaku kepada beliau. “Selamat pagi juga, pagi bener datang ke sekolah neng? Ada apa?” tanya beliau kepadaku heran. “Ah ini pak. Ini hari terakhir aku di sini pak karena hari ini aku akan boyongan.” Jelasku kepada bapak Samin yang sedang menyapu halaman sekolah sambil meluangkan waktu untuk ngobrol denganku.
“Wah sudah mau kuliah ya neng?” tanyanya kembali. “Iya pak. Alhammdulillah saya sudah keterima di Universitas Sultan Agung Tirtayatsa.” Jawabku dengan jelas. “Wah, selamat ya neng.. dimana itu neng?” tanya balik kepadaku. “Di Banten pak. Lebih tepatnya di Jakarta.”  Jawabku kepada beliau. “Sukses terus ya neng, doa bapak selalu menyertai neng..” ungkapnya kepadaku. “aaamiinn pak. Terima kasih banyak ya pak. Dita juga mau minta maaf kepada bapak jika selama ini dita banyak salah sama bapak.” Jelasku kepadanya sambil meminta maaf. “Iya neng, bapak maafkan. Bapak juga minta maaf sama neng Dita ya. Apak Tanpa di sengaja takutnya bapak juga pernah berbuat kesalahan sama neng.” Ucapnya panjang lebar kepadaku. “wah iya pak sama-sama.”
Sesaat kemudian, aku melihat ada sosok seorang lelaki melambaikan tangannya kepadaku dari kejauah dia berjaan dengan cepat tapi tidak berlari. Ternyata sosok itu adalah Malik. Iya Malik teman terbaikku selama aku di sini. Dia tidak berhenti untuk melambaikan tangannya sampai dia tepat berada di depanku dan berkata “Zita, selamat pagi J.” dengan senyuman manis kepadaku dia mengatakan itu. Akupun tertawa sambil mengernyitkan kedua alisku kepadanya. Seraya berkata, “kamu kenapa Lik, kok kamu terlihat begitu aneh hari ini kepadaku?”.
“Oh iya dong, harus terlihat aneh.” Jawabnya singkat kepadaku seraya duduk di sampingku. “Emangnya ada apa?” tanyaku kembali kepadanya dengan rasa penasaran. “Jangan tanya dong. Ntar kamu gak penasaran lagi. Hehe”jawabnya kepadaku dengan wajah cengengesan. "Ah Malik gak seru deh!. Hayo kasih tau! Kasih tau gak?” tanyaku kepadanya dengan tatapan sinis dan cemberut.
 “Nggak! Heheh” ucanya kepadaku sambil tertawa terbahak-bahak. Saat itu adalah pertama kali aku melihat dengan jelas wajah tampan Malik yang selalu tersembunyi dalam muka cueknya setiap hari. Akupun pura-pura sebel dan memalingkan badanku darinya. “Eh gini-gini dah, aku akan kasih tau tapi janji ya. Ini hanya secret diantara kita. Sampai kapanpun kamu tidak boleh menceritakan kepadanya. Kepada siapapun!.” Ugkapnya kepadaku dengan wajah serius. “Termasuk orang tuaku?” tanyaku menawar kepadanya.
 “ Yah Zita, jangan keluarin bloonnya sekarang dong! Ucapnya kepadaku sambil menepuk jidatnya sendiri dan tertawa mengejek. “ye iye. Paham! Ayo cepet katakan.! Ucapku kesel kepadanya disertai rasa deg degan. “Kasih tau jangan?’’. Dia kembali merayuku lagi. “Ah... kalau gini caranya aku masuk kelas aja dah!” ucapku kepadanya dengan pura-pura merapikan baju dan mengambil tas serta beranjak pergi. Satu langkah aku menapakkan kaki di paving halaman sekolah, dia berkata lagi kepadaku.
“Beneran nih gak penasaran..” sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Yah aku kan tipe orang yang keponya tinggi. Jadi ya sudah aku kembali mendekatinya lagi dan duduk di sampingnya. Sebuah plastik putih mulai dia keluarkan dari tas berwar hitamnya itu. Aku sudah menduga bahwa dia akan memberikan aku sesuatu.
Aku sudah paham dengan gerak-geriknya. Malik itu adalah satu satunya temanku yang mempunya hobi membaca buku. Kalau ada sebutan lain di atasnya “kutu buku” aku akan menobatkankannya kepada dia. setiap hari pasti ada satu buku non mata pelajaran yang dibawa oleh dia setiap hari untuk dibaca. Untuk mengetahui buku bacaan apa yang dia sukai itu gampang banget. Perhatikan saja setiap dia masuk kelas dan fokus ke tangannya. Nah itu dia buku bacaannya. Malik memang tidak pernah menaruh buku bacaannya di dalam tasnya. Entah kenapa, mungkin biar mudah dibaca kali ya. Hehe...
Kembali lagi pada plastik putih itu...
“Zit, degerin aku mau cerita. Aku kemaren pergi ke toko buku untuk membli buku bacaanku yang baru karena buku bacaan yang aku beli sebulan yang lalu sudah hatam semua. niat awal aku pergi ke toko buku itu murni untuk membeli buku dan gak ada ingatan aku sedikitpun terhadapmu, apalagi niat untuk membelikan buku kepadamu. Heheh” ceritanya sambil menatapku dengan wajah tertawa. “Yahhh..pppftt” baru aku berniat untuk membela diriku sendiri akana perkataann ya itu dia langsung menaruh telunjuknya dimulutnya dan berbunyi... “Syuuuutttt! Jangan ngomel dulu. Aku belum selelsai cerita. Gantian ya..” dengan wajah tersenyum dia menatapku kembali sebagai teguran. “aku lanjutin ya ceritanya.
Nah entah kenapa ketika aku baru saja membuka pintu toko buku langganan aku itu, mata aku langsung terfokuskan kepada 2 buah Qur’an lucu dan terbaru yang aku rasa aku belum pernah sebegitunya terpananya dan terpesona akan ukiran Qur’an itu. pada saat itulah aku ingat sama kamu deh. Ada inisiatif untuk membelikan Quran itu kepadamu. Akhirnya aku menanyakan ke mas-mas di toko itu. “Mas, ini Quran dengan desain terbaru ya mas?” tanyaku kepadanya. Terus masnya jawab, iya kak, ini desain terbaru. Kemaren ada 1.000 eksemplar langsunng laku terjual dan tinggal dua itu kak.
Terus aku bertanya lagi kepada masnya, emang keunggulannya dari desain sebelumnya apa mas?”. Dan masnya menjawab lagi, keunggulannya banyak mas, di dalam quran ini ada tajwidnya juga jadi cocok untuk pemula dan juga yang mau menghafal Al-Quran selai itu juga ada rujukan ayat Al-Quran yang menjelaskan isi di dalamnya langsung ada nomer ayat dan halamannya jadi cocok untuk dakwah dan mencari landasan dalil Al-Quran kak, selain itu motif sampulnya juga bagus ada pinknya dan warna kalem yang cocok untuk perempuan dan juga laki-laki. Makanya mas di beli ya. Sekarang kami sedang memberikan discount jika membeli dua sekaligus akan mendapatkan diskon 30 % dari harga penjualan sebagai tanda syukur kami karena Al-Quranya laku cepat.”
Setelah itu aku bilang ke masnya untuk dibungkus aja semuanya. Aku mau kasih ke kamu dan juga untuk aku. Selain itu, ini sebagai hadiah kenang-kenangan dari aku kepada kamu. Kan kita sudah mau perpisahan nih dan bakalan jarang ketemu seperti biasanya aku dan kamu bertemu di sini. Jadi nanti gunakan quran ini setiap kali kamu mau ngaji supaya aku banyak pahalanya.. heheheh” sambil bercanda dia meletakkan Al-Quran dengan corak yang indah itu kepadaku. “hemmm... Malik! Thanks a lot yah! Kamu masih ingat aja kalau aku memang mau menghafalkan Al-Quran. Pasti aku baca.” Aku tersenyum sambil mengatakan itu kepadanya.
“Iya, sama-sama Zita Lubis wkkw.. gak usah mewek gitu dong!” ucapnya kepadaku mencairkan suasana sedih menjadi bahagia. “Yah, kali,, aku mau nangis!” sambil mengucek mata yang agak gatal karena akan mengeluarkan air mata. “Oh iya satu pesan akuu lagi. Kamu kan tipe orang yang kangenan. Jadi, jika suatu saat nanti kamu merindukan aku, kamu baca aja surah Al-Mulk dan Ar-Rahman serta elus-elus dah tuh Qur’an. Seraya bacain sholawat dan menyebut namaku 3 kali dan berkata “ya Allah pertemukannlah kami kembali. Seperti itu ya. Hehheehh.... awas jangan lupa loh. Ingat itu. dijaga baik-baik.” sambil tertawa dia memperagakan apa yang diucapkannya kepadaku terhadap Qur’an yang kembar dengan milikku. “yah.. berarti kita kembaran Quran ya..” jawabku kepadanya. “Iya dong. Good luck ya.
Semoga dengan Al-Quran kembaran kita ini kamu bisa menjadi hafidzah 30 juz dan bermanfaat terhadap sesama di dunia dan di akhirat. Oh iya jangan lupa ya tips dari aku,, aku bakalan melakukan hal yang sama kok ketika aku kangen kamu. Heheh bercanda- bercanda.. Piiiissssss!!! J.” Dia mulai tertawa kembali sambil memasukkan AL-Quran yang sama dengan punyaku itu kedalam tasnya dan beranjak pergi. “Apaan sih kamu Malik ada ada aja. Sok so sweet. Gak mempan tau. Siapa juga yang bakalan kangen kamu. Heheh”. Balasku dengan cengengesan. “Wah awas ya ntar kangen sama aku tau rasa kamu!. Heheh. Ya sudah lah.
Simpan tuh Quran dalam tasmu. Yuk ,masuk kelas.” Sambil berdiri dan beranjak pergi dia menunggu aku memasukkan Al-Quran yang baru saja dia berikan kepadaku. Akupun berjalan di sampingnya sambil tersenyum-senyum bahagia dengan kejutan yang diberikan Malik ke[adaku. “thank you very much Malik, semoga Allah membalas kebaikanmu.” Ucapu dalam hati seraya fokus pada lorong yang aku tapaki bersama Malik.

Setelah sampai di kelas dan mulai menempati tempat dudukku dengan tenang, aku menghela napas sebentar. Aku tak mengerti kenapa hatiku begitu deg-degan kencang banget. Perasaan gelisah ada saja di dalam diriku seakan berkeinginan untuk memegang pemberian dari Malik tadi berulang kali, sepertinya hanya itu obatnya untuk menghilangkan kegelisahanku. Aku pikir perasaan ini pasti juga dirasakan oleh semua orang yang mendapatkan kejutan dari teman dekatnya. Namun, apakah penyebab ini semua sumbernya hanya karena kejutan? Bukan dari hal lain?. Ah entahlah aku tak paham akan itu semua. terpenting adalah aku bahagia sekali saat itu bisa mendapatkan surprise terindah dari seseorang untuk pertama kalinya.
“Doaaarrrrr.....!!!! ceille tumben nih pagi-pagi sudah sampai di kelas saja. Biasanya datangnya suka telat nih!.” Teriak Refi dengan suara yang menggelegar. Saat itu hanya ada beberapa teman yang ada di kelas dan salah satunya Malik. Setelah Refi menyelesaikan ocehannya akupun segera melirik ke arah Malik, khawatir dia mendengar apa yang dikatakan Refi.
Sungguh aku tersipu malu dibuatnya, karena aku melihat Malik menutupi mulutnya seakan tersenyum geli kepadaku. Akhirnya aku mencoba mengelak ucapannya Refi, “Ihhh,,,... apaan coba, aku terkadang juga sering berangkat pagi kok. Kamunya aja yang berlebihan hari ini!” ucapku dengan rada jutek dan wajah memerah.
“yeee... tau-tau yang sudah mau pisah!” lanjut refi sambil menyenggol lengan kananku seraya menggodaku. “Yaaahh! Apaan sih Refi. Kamu sedang sakitkah hari ini? sini aku bawa kamu mengahadap pak satpam untuk idzin sebentar periksa ke puskesmas di depan sekolah. Gmana mau kan? Yuk!.” Ledekku dengan ekspresi agak serius dan menarik tangan Refi.
“eh eh,, nggak-nggak Zit! Sorry aku bercanda heheh..” ucap Refi dengan wajah cengengesan kepadaku. “ah kagak! Lu mah gitu orangnya. Aku gak mau teman satu-satunya gue sakit saraf.” Ungkapku kepada Refi sembari tersenyum dan menyembunyikan wajah itu darinya dengan sedikit memalingkan wajah ke belakang. Dan saat itu aku mulai memperhatikn Malik yang saat itu sedang tertawa terpingkal-pingkal di pojokan depan sana. 
          “Malik.. kamu kenapa tertawa?.” Tanyaku dengan nada sedikit kencang kepadanya. Secara tiba-tiba suara ramai di kelasku mulai terhenti dan pandangan teman-teman kelas mulai terfokuskan kepada dirinya. Malik hanya merespon pertanyaanku dengan menoleh saja kebelakang. Hal itu membuat aku merasa kecewa terhadapnya.
Akhirnya aku mulai duduk kembali sembari berusaha untuk melupakan kejadian yang baru saja berlalu itu. suara riuh teman-teman mulai terdengar lagi dengan diselingi canda tawa dan gurauan-gurauan serta cerita-cerita yang membuat bising di teling. Hingga pada akhirnya ada merasa ada sebuah kertas jath mengenai kerudung seragamku itu. “ouchhh!” Seruku. Aku segera menoleh ke arah tafsiran kertas itu berasal dan berusaha mengambilnya.
Ternyata...
Ketika aku menoleh, Malik saat itu sedang menongolkan kepalanya ke depan bangkunya seraya melambaikan tangannya kepadaku dan berbicara menggunakan bahasa isyarat yang maknanya “it’s okay!”, euuuu aku sebel sambil bahagia begitu melihatnya.
Bell masuk pun berbunyi. Bapak Amin datang ke kelasku untuk mengisi kelas motivasi masuk ke perguruan tinggi. Di sana beliau memberikan tugas untuk setiap siswa diwajibkan satu persatu maju ke depan dan memberikan pendapat mereka tentang perguruan tinggi dan juga motivasi dari diri kita kepada teman-teman. Jadi forum ini seperti diskusi karena teman-teman diberikan kebebasan untuk menyanggah, bertanya dan juga berkomentar akan pendapatnya itu.
Siswi yang maju pertama adalah teman sebangkuku. Pak Amin meminta untuk urutan maju kedepan sesuai dengan urutan tempat duduk di kelas. Ok berhubung tempat dudukku di paling depan ujung timur jadi teman aku si Nita yang maju duluan. Nita adalah teman sebangkuku yang memiliki sifat humoris dan juga lincah. Dia pintar dalam segala hal termasuk dalam beragumen. Tak heran jika banyak sekali teman-teman yang menyukai perwatakannya itu. Selain itu dia juga suka bercerita yang aneh-aneh, tak heran jika setiap hari aku selalu tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
Di saat Nita memberikan bersiap-siap untuk maju ke depan, pak Amin menyodorkan surat kepadaku. Akupu tercenggang menerimanya. Sambil melongo kaget dan bertanya dengan sedikit berbisik ke pak Amin seraya bertanya “Surat ini dari siapa untuk siapa pak?” dengan tatapan penasaran aku berusaha menemukan jawaban dari wajah pak Amin. “Sudah baca saja, kamu akan tau sendiri pengirimnya.” Jawab pak Amin dengan memasang ekspresi tersenyum menenangkan.  
          Mendengar jawaban pak Amin membuatku tidak tertarik untuk membacanya saat itu juga. aku kembali memfokuskan mengenai motivasi apa yang akan aku berikan kepada mereka. Teman-teman mulai memberikan tepuk tangan kepada Nita setelah dia selesai mempresentasikan motivasinya. Kini tiba giliranku untuk maju kedepan. Sedikit nervous sih tapi ya sudahlah aku paksakan untuk tetap fokus dan berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi gugup aku kepada teman-teman terutama kepada pak Amin.
“Asssalamualaikum warahmatullah wabarokatuh... terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan oleh bapak dan juga teman-teman semua untuk menyampaikan celotehan motivasi saya yang sebenarnya ini merupakan khsusus untuk dirisaya pribadi. Jadi saya akan memberikan motivasi tentang “masa depan”.
Masa depan itu hanyalah sebuah hayalan yang berawal dari imajinasi yang tertinggal di masa depan atau imajinasi yang bermunculan sekarang untuk diperjuangkan selanjutnya. Masa depan itu tidak ada artinya jika hanya sebuah khayalan. Namun ada satu hal yang menjadikan masa depan itu menjadi penting adalah di saat ada “A” di dalamnya.
Belum aku lanjutkan kosa kata selanjutnya, teman-teman sudah pada bersorak mengatakan “Cie.cieeeee...huhuyyyy.. “A” katanya” ungkap salah satu teman aku yang cerewet di kelas itu sambil menggoda Malik. Yah, nama lengkap Malik memang berawalan A. Jadi teman-teman menyangkanya bahwa A yang aku maksud adalah dia. ah, aku sedikit kesal sebenarnya karena mereka telah memotong perkataanku yang mulai terbawa arus penghayatan oleh aku dan juga teman-teman yang mendengarkan akan tetapi di sisi lain aku juga menikmati suasa romantisme yang teman-teman ciptakan secara tidak sengaja dengan mengambil huruf A sebagai ide pokok romantisme tersebut. akupun tersenyum dan berusaha menjelaskan bahwa sebenarnya itu salah.
“Oke oke ya! Diam dulu. Biarkan Zita melanjutkan kalimat selanjutnya.” Sanggap pak Amin sambil menenangkan teman-teman yang mulai bersoarak-sorak di buatnya. Akupun tak sengaja melihat wajah Malik juga tersenyum merah dibuatnya. Selain itu aku juga melihat pak Amin tersenyum kecil sambi;l berjalan menuju tempat duduknya lagi. Sesaat itu akupun bergumam sendirian  di dalam hati “Ih ini orang-orang semua kenapa terbawa suasana dengan huruf “A” sih?”.
“Baik bapak terima kasih banyak, telah membantu saya untuk bisa menenangkan teman-teman yang mulai gaduh ini.” ucapku kepada pak Amin.
“Apa itu A?”A itu adalah Action.  Action adalah istilah dalam bahasa Inggris yang digunakan untuk menjadi kunci utama dalam mensukseskan dan menguatkan istilah “masa depan”. Tanpa Action semua mimpi, semua khayalan, semua rencana tidak akan menjadi nyata hanya akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, mengapa Allah swt berfirman “Fatawakkal Ala Allah, innaAllaha yuhibbul mutawakkiliiiinnnnn>” bertakwalah kepada Allah karena Allah sangat suka sama orang yang berpasrah diri atau tawakkal), karena ada kata ikhtiyar! Sebelum tawakkal. Hal itu dijelaskan oleh firman Allah dalam surah Al-Alaq yang berbuyi “Iqra’ bismi robbikal ladzi kholaq”.
 Nah bacalah. Jika kita memahami lebih mendalam, kata iqra’ merupakan sebuah fi’il yang jika di artikan dalam bhs Inggris adalah action. Nah! Sudah jelaskan. Makanya mengapa Albert Einstein mengatakan bahwa Imagination is important than knowledge adalah jika imajinasinya disertai dengan action.
So menurut saya  Everything is gonna be alright when you’re right. Jadi segala sesuatu itu tergantung diri kita, jika kita benar maka semua akan baik-baik saja. Sekian penyampaian motivasi dari saya jika ada pertanyaan ataupun sanggahan disilahkan.
Sesaat kemudian, Malik mengangkat tangannya di saat itu juga akupun merasa deg- degan jantung aku semakin berdetak sangat cepat bukan karena aku jatuh hati padanya tapi karena pertanyaan apapun yang keluar dari  diri dia adalah pertanyaan yang sulit seribu kali sulit dan jawabannya membingungkan. Jadi teman-teman di kelas itu sangat suka jika mereka presentasi di kelas dan Malik sedang tidak masuk sekolah.
Jadi biar aku kasih tau sebelumnya kepada kalian tentang Malik. Malik itu orangnya totalitas. Jadi siapapun dia, dan bagaimanapun dia jika dalam forum diskusi Malik menganggap semua itu sama. Jadi dia tetap akan serius dan fokus serta akan memaksa untuk tidak terima meskipun itu sahabat dia sendiri.
“Ok! Ini sekedar sanggahan ya dari saya terhadap pernyataan anda. Saya tidak begitu setuju dan memang benar-benar tidak setuju jika masa depan hanyalah sebuah hayalan, karena menurut saya sendiri dari berbagai sudut pandang referensi yang pernah saya baca, semua yang anda katakan itu sangatlah bertolak belakang. Seakan-akan anda meremehkan masa depan sedangkan anda sendiri dan masa depan anda itu penentu kehidupan anda kedepannya.”
Dia bernafas sejenak dan melanjutkan sanggahannya kembali,
“Oleh karena itu, nantinya jika mau memberikan motivasi itu dipersiapkan yang lebih matanglah jangan seperti ini.” Ucap Malik dengan nada tinggi dan kecewa. Saat itu teman-teman sekelas langsung hening dan langsung semua mata fokus kepadaku. Aku sangat sedih sekali saat itu. begitu kejamnya Malik mengatakan hal tersebut kepadaku. Sungguh tak berperi pertemanan.
Aku segera menjawab dengan wajah sedikit tegar “Baiklah terima kasih atas masukan dan sanggahannya, saya tutup presentasi saya kali ini. mohon maaf jika ada salah kata karena yang maha benar hanyalah Allah SWT> sekian dari saya. Waasalamualaikum wr.wb. aku langsung duduk dan menahan air mata yang akan menetes di pipiku. Aku sangat sedih waktu itu, seakan aku ingin bel pulang segera dibunyikan oleh Bang Halim pejaga bel dan elektronik sekolah. Maha suci Allah, Allah sangatlah baik terhadapku, 30 detik dari pengharpanku itu, bel-pun berbunyi dengan sangat keras. “Teeeeeeeeeeeeeeeeeeettttt, Teeeeeeeeeeeeeeeet, Teeeeeeeeeeeeeeeeeet, tiga kali. teman-teman kelas langsung merapikan bukunya dan memasukkan kedalam tasnya masing dengan terburu-buru. Saat itu aku langsung keluar dan tiba-tiba ada sseorang memegang  bahuku dari belakang. Akupun kaget, karena aku belum fokus saat itu dengan pikiran aku yang sedang berkecamuk gara-gara  ucapan yang sangat menyakitkan dari si Malik itu.
“Zita, yuk ikut aku ke kelas 12 ipa2.”, ucapnya kepadaku sambil menarik tanganku untuk mengikutinya. Akupun hanya mengikuti saja. Setelah sampai di dalam kelas 12 ipa2 yang kosong tanpa seseorang satupun di kelasnya, aku pun melihat seseorang yang menarikku itu. ternyata dia adalah Refi.
“Sini duduk Zit!” ucap Refi menyuruhku duduk disampingnya.
“Ada apa Refi?” tanyaku kepadanya dengan sedikit rasa lelah.
“Zit, lihat aku, tatap mataku. Aku tau kamu sakit tadi dengan perkataan Malik terhadapmu. Aku mengerti perasaanmu.” Sambil mengenggam anganku dia berusaha untuk menatap wajahku lebih dalam.
“Aku punmulai berfikir, mungkin ini saat yang tepat untuk aku berhenti menahan kesedihanku.” Gumamku dalam hati.
“Zit, lihat aku. Benar kan. Kamu gak usah tahan-tahan seperti ini. Jika kamu mau nangis sekarang gak apa, nangis saja. Sini Zit aku bersedia mendengar kesedihanmu. Zita. keluarkan kesedihanmu jangan ditahan-tahan. Aku pernah berada di posisi kamu sperti ini. ini sangat sakit Zit. Sakit sekali. Makanya aku langsung menghampiri kamu sekarang.” Ucap Refi panjang lebar memberikan pengertian terhadapku.
Mendengar ucapan Refi kepadaku, tanpa terasa tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja meskipunku sudah mencoba untuk menahannya dengan mendongkakkan kepalaku keatas. Aku begitu terbawa suasana. Refi rela menunggu diriku hingga aku menyelasaikan kesedihanku. Akupun menangis sejadi-jadinya sampai mataku begitu bengkak dan perasaanku begitu lega saat itu. sambil berusaha menjelaskan dengan suara yang terbata-bata serta sesegukan yang tak tertahankan menjadi nada curhat kesedihanku saat itu.
Saat itu aku begitu bersyukur sekali, Allah sangatlah baik kepadaku meskipun hal yang ada dipikiranku saat bel berbunyi adalah pulang ke asrama dan menumpahkan segala kesedihanku kepada bantal dan selimutku. Namun Allah memmpunyai rencana lain untuk itu. Refi mulai memelukku berusaha menenangkan diriku yang menangis semakin jadi. Ketika aku masih berada dipelukan Refi, tiba-tiba aku melihat dari jendela transparan kelas Ipa2 itu si Malik temannya serta bapak Amin baru saja keluar dari ruangan kelasku. Ternyata mereka masih diskusi di dalam sepertinya.
Aku langsung memalingkan wajahku tatkala wajah Malik terlihat jelas dari jendela itu dan melihatku dengan mata sembabku ini. aku berusaha untuk menutupi darinya. Aku tak ingin mereka semua tau bahwa aku sedang sedih karena kejadian tadi di kelas. “Ref, mereka baru keluar tuh!” bsiskku kepada Refi sambil menunjukkannya dengan lirikan mataku. “Yaudah deh yuk, kamu gimana sudah lumayan lega?” kata Refi menanyakan keadaanku. “Iya, ya sudah yuk! Terima kasih ya sudah mau menemaniku saat ini.” ucapku kepadanya dengan senyuman.
“Iya Zita, sebagai sahabat yang baik harusnya seperti aku. Aku mengerti perasaanmu. Intinya kamu jangan pernah ambil omongan mereka. Anggap aja tidak ada. Karena kamu masih punya Allah. Jika kita sudah tidak punya apa-apapun sama Allah kita diperintahkan untuk jangan bersedih, karena Allah selalu ada untuk kita. Seperti firman Allah SWT “Wa maa Indza Allahi Khoirr dan ada juga “La Tahof Wala Tahzan. InaaAllah Ma’ana.”.
“hemmm, ukhti hafidzah. masyaAllah” akupun menggoda Refi dengan tertawa kecil.

Sekian
Chapter 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar